Unfaithful [Episode 1]

Starring the most beautiful Red Velvet’s member Kang Seulgi and her handsome brother Day6’s Kang Brian

cc; well, setelah dibaca situasinya emang agak mirip sama Mayday but trust me the storyline is definitely different :’D and also, ff yang emang masih on going kukerjain dan idenya masih dikepala itu Unfaithful dan mayday, so jangan ragu buat ikutin wkwk mumpung masih inget lmao. btw my graduation’s almost coming and i’m so freakin excited yuhuuuu but the thesis–don’t asking me, thats so fuckin hard when theres handsome oppas smiling around between you and your thesis.

.

.

.

“And as always, the most beautiful performance by Seulgi Kang from Toronto!!”

sang pembawa acara berseru excited diikuti dengan beribu tepuk tangan serta decak kagum tatkala penampilan seulgi baru saja berakhir. Namun dibalik, seluruh kekaguman serta pujian yang terdengar, Brian selalu berhasil mendengar sebuah pernyataan yang sama mengenai Seulgi setiap kali wanita itu mengakhiri penampilan indahnya, “dont you think seulgi already did the same thing again? She’s always looked beautiful and her performance was freakin great but–her eyes looked blind”

“Yeah, you’re right. She was dancing only for herself and the one she’s always lookin forโ€”no one know”

“Poor her. Her performance felt so lonely”

“She’s blind dancer”

“Who’s the hell she’s always lookin for?”–dan berbagai kalimat lainnya yang tanpa Brian sadari sudah terlalu melekat pada semua penampilan seulgi, dan oleh karena itu pada akhirnya–setelah hampir 8 tahun keduanya menghabiskan waktu mereka untuk tinggal di Toronto, Brian putuskan untuk membawa seulgi kembali ke Seoul, hari ini juga.

Berikutnya, tanpa berpikir panjang laki-laki dengan tinggi 180 cm serta rambut pirang yang menyala itu dengan segera melangkahkan kedua kakinya menuju backstage dimana dapat ia temukan sosok seulgi, wanita yang nampak sangat gorgeous dengan penampilannya tadi di atas panggung tengah berdiri tepat di sudut ruangan dengan lampu yang tidak terlalu terang. Terdapat begitu banyak kru dan staff berlalu lalang di tempat itu, namun wanita berambut panjang yang mungkin menjadi satu-satunya peserta dengan wajah khas asianya itu nampak tak berkutik sedikit saja dan hanya berdiri di tempat yang sama, di tempat dimana sebelum seulgi memulai penampilannya Brian mengucapkan selamat tinggal.

“Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?” Brian membuka suaranya dan begitu pandangan keduanya bertemu satu sama lain, sebuah senyum kemudian nampak terlukis pada wajah cantik Seulgi. Kedua matanya seketika kembali nampak bercahaya tak seperti sebelumnya, nampak asing dan dipenuhi kecemasan–“should we leave right now? You already did a great job anyways. Congrats”

“Where have you been? I’ve been lookin for you” ungkap seulgi pada akhirnya, wanita itu menatap brian lekat dan kemudian mulai nampak risih karena suasana di tempat itu semakin ramai, “aku tidak suka berada di tempat ini, Brian”

Brian menatap sekeliling dan kemudian tersenyum kecil pada seulgi seraya meraih pergelangan tangannya, “let’s go, kita tidak boleh terlambat” katanya, dan kedua pasang kaki jenjang milik seulgi dan brian mulai menelusur kerumunan berusaha menemukan jalan keluar.

“Brian..”

“Mm”

“Aku tidak ingin kembali ke seoul” ungkap seulgi lagi, yang pada saat itu berhasil membuat brian menghentikan langkahnya dan berbalik menatapnya penuh tanya, “wae? Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sejak 1 bulan yang lalu and you already said yes”

Seulgi tidak memberikan jawabannya dan hanya menatap brian penuh keraguan, sepasang manik matanya menerawang kosong sementara salah satu tangannya yang tengah berada dalam genggaman laki-laki itu mulai mengeratkan genggamannya, seulgi has so many things scared her.

“Seul–“

“You’re going to leave me” tutur seulgi pelan, namun entah bagaimana Brian dapat mendengarnya dengan begitu jelas dan pada saat itu sang laki-laki hanya semakin tak mengerti dari mana pemikiran bodoh semacam itu berasal meracuni pikiran seulgi, “ya! Kenapa aku harus meninggalkanmu? I’m your freakinly brother since and for ever”

Seulgi menundukkan kepalanya dan kemudian dapat brian rasakan kekhawatiran wanita itu semakin meningkat, “thats why–you’re going to leave me! The fact that you’re my brother, i hate it”

“Baiklah, sekarang haruskah kita pulang dan kembali membicarakan hal ini di lain waktu?”

“When?”

“Ketika kau percaya jika aku tidak akan  meninggalkanmu, Seul–can you tell me how i’m supposed to breath with no air?” Tanya Brian lagi dan seketika kekhawatiran seulgi mulai berkurang, genggaman eratnya perlahan meregang dan wanita cantik itu kemudian mengangguk, “baiklah. Aku percaya padamu” ungkapnya kemudian, dan pada saat itu tak ada hal lain yang dapat Brian lakukan selain meraih kembali genggaman tangan seulgi dan membawanya melangkah menuju ke mobil karena bagaimanapun pada akhirnya seulgi sudah setuju untuk melakukannya.

.

.

.

“Yeah, pesawatnya akan take off sekitar 30 menit lagi–karena itu aku selalu berusaha menghindari bepergian terlalu jauh karena hal sepertini ini pasti terjadi” brian menghela nafasnya lelah, dan sesaat pandangannya beralih pada seulgi yang pada akhirnya dapat memejamkan kedua matanya setelah hampir selama 5 jam terakhir terus dibuat gelisah karena perjalanan yang panjang seperti ini.

“Saat ini keadaannya sudah membaik” jelas brian lagi, salah satu tangannya nampak menelusur helai demi helai rambut panjang milik seulgi sementara salah satu tangannya yang lain menempelkan ponselnya di telinga.

“Bisakah kau berbicara pada Bibi Kim untuk datang lebih awal ke tempatku?”

“Aniya. Kau tidak perlu datang ke bandara, aku dan seulgi akan pergi  dengan taksi–hanya memastikan agar bibi kim da–“

“Baiklah. Okey. Kau selalu mengetahuinya, aku selalu membencinya jika hal semacam ini harus terjadi pada seulgi”

“Oke–aku mengerti. Baiklah. Terima kasih, hyung”–dan pik. Brian mengakhiri panggilannya dengan Jae. Berikutnya, seluruh perhatian brian kembali tertuju pada seulgi. Jetlag, brain benar-benar membenci situasi semacam itu menyerang seulgi setiap kali mereka harus bepergian dengan jarak yang terlalu jauh seperti ini. Terakhir kali, seulgi nyaris harus menghabiskan seluruh waktu liburannya di rumah sakit hanya karena jetlag saat keduanya pergi ke singapura dan brian sama sekali tidak mengharapkan hal tersebut terjadi lagi untuk yang kesekian kalinya.

Jika diibaratkan, seulgi kang sang adik perempuan layaknya api yang selalu mengagumkan namun mudah sekali padam entah hanya karena hembusan angin, atau bahkan dengan sengaja dipadamkan dengan percikan air. Sementara brian kang, sang kakak laki-laki selalu nampak tenang bagaikan air yang mengalir, namun kapanpun dimanapun selalu berpeluang besar memadamkan api yang terlalu menggebu-gebu.

Brian dan seulgi, 8 tahun lalu tanpa dapat mengajukan keberatan kepada siapapun keduanya terbang ke toronto. Menghabiskan masa remaja mereka di toronto nyatanya bukanlah hal mudah. Meski umur keduanya hanya berselang beberapa bulan, tak pernah sekali saja brian hengkang dari sisi seulgi entah dalam kondisi apapun. Tatkala gadis kecil yang dipenuhi trauma dalam hatinya itu menangis, ataupun merasa bahagia.

Jika diingat-ingat, kala itu brian seakan kehilangan seluruh masa remajanya. Namun nyatanya menjadi bayang dari sosok adik perempuannya yang berbakat itu sama sekali tidak buruk, bahkan hingga saat ini peran diantara keduanya seakan menjadi seimbang atau malah berbalik. Apabila pada masa itu keberadaan Brian layaknya udara bagi seluruh kehidupan seulgi, pada mada kini Brian sama sekali tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupannya tanpa seulgi di sisinya.

“Brian?”

Suara bisik pelan milik seulgi terdengar samar di telinga brian, membuat sang laki-laki yang semula tengah memejamkan kedua matanya lelah itu kembali mengerjap pelan dan menoleh pada wanita itu, “you’re okay?”

“I’m sorry, brian”

“For waking me up like this?”

Seulgi terdiam sesaat dan kemudian mengangguk, “Mm..”

“Thats fine. Ada hal lain yang menganggumu?” Tanya brian lagi, di tengah kantuknya. Sementara seulgi nampaknya sudah berada dalam kondisi yang lebih baik dan mulai bisa beradaptasi, “i’m scared, brian–i can’t sleep anymore. Kira-kira berapa jam lagi kita akan sampai?”

“2 jam? 3 jam?–aku ada disini, tak ada yang perlu kau takutkan, seul”

“But you sleep and seem to far away”

“Seull”

“Arraseo, kau bisa pergi tidur lagi. Aku hanya akan terus terbangun dan melihat kau tidur sampai kita tiba di seoul” ungkap seulgi yang kemudian mulai memeluk salah satu lengan brian seraya menyandarkan kepalanya pada lengan laki-laki itu, “i’m so scared and i cant do anything” tambahnya lagi pelan.

Brian mengerutkan keningnya sambil sesekali menguap, laki-laki itu kemudian meraih ponselnya, dan memasangkan salah satu earphone ke telinga seulgi dengan harapan wanita itu akan merasa lebih baik,”let me hold your hand” pinta brian dan seketika salah satu tangan seulgi sudah berada dalam genggamannya.

“Apa aku masih terlihat terlalu jauh untukmu?”

“Nope, even i can hear your heartbeat right now”

“Thats great, you can listen to all my hearbeats for freely” brian tertawa kecil dan kemudian perlahan mulai kembali memejamkan kedua matanya, membiarkan keduanya tenggelam dalam keheningan hingga beberapa saat seulgi kembali berbicara, dan hal tersebut seakan memaksanya untuk menarik secarik senyum kecil pada wajah tampannya yang mulai kelelahan karena tak mendapatkan banyak kesempatan untuk tidur, “what else, princess?”

“Setelah sampai di seoul, apa yang akan kau lakukan, brian?”

“Should we get some rest?”

“Yeah, and then?”

“Ada hal yang ingin kau lakukan?”

Seulgi menerawang kosong dan kemudian kembali menatap brian dengan sebuah senyum, “wolmido–taman bermain yang menghadap langsung ke pantai, bisakah kita pergi ke sana?”

“Wolmido? Sure–jika keadaanmu baik-baik saja sampai kita tiba di seoul, oke?”

“Deal~”

“You like it that much?”

“Mmm..”

“Right now, sleep”

“aniya, kau bisa pergi tidur–aku hanya akan terus bangun dan melihatmu”

Brian melirik seulgi sekali lagi penuh curiga, “apa kau benar-benar ketakutan tadi atau kau memang hanya ingin membangunkanku untuk membicarajan hal ini?” Tanya Brian namun sayangnya seulgi sama sekaku tidak berniat memberijan jawaban dan habya tertawa kecil seraya mengeratkan pelukannya pada lengan Brian.

.

.

.

“Seoulll!!” Brian berseru senang sementara seulgi yang tengah berjalan di sebelahnya sama sekali tidak menunjukkan perasaan suka cita sedikitpun. Rambut panjangnya yang tergerai sudah tidak nampak beraturan akibat dari jetlag, sementara wajah pucatnya tidak nampak mengulaskan seutas senyum sedikit saja. Lagi-lagi kembali saat dimana wanita itu dipenuhi oleh kekhawatiran dalam benak dan seluruh dirinya. Waktu baru saja menunjukkan pukul 5 pagi ketika keduanya akhirnya tiba di bandara incheon.

“Tidak bisakah kau menunjukkan sedikit saja perasaan excited setelah akhirnya kita tiba di seoul?” Brian menoleh pada seulgi yang kemudian di sambut dengan seruan tanpa semangat dari wanita itu, “woa seoul–bagaimana? Aku benar-benar tidak menyukai cuaca dingin di seoul, brian” ungkapnya kemudian.

“Ayolah seul, di toronto juga masih musim dingin–entah di seoul ataupun di toronto semuanya sama saja, bukan?”

“Aku tetap tidak menyukainya”

“Baiklah thats okay”

“Dimana kita akan tinggal?”

Brian mendorong trolly berisikan beberapa koper milik keduanya dengan satu tangan, dan salah satu tangannya yang lain senantiasa menarik pergelangan tangan seulgi untuk tetap berada disisinya, “kau akan menyukainya, jae hyung telah menemukan apartment yang nyaris sama seperti yang kita tinggali di toronto”

“Really?”

“Mm..”

“Kapan barang-barang kita dari toronto akan tiba? Apa kau benar-benar akan memindahkan semua barang dari toronto ke seoul? Apakah kita akan tinggal di seoul selamanya? Tidak adakah kesempatan kecil saja untuk kita kembali ke toronto?–aku akan merindukan wendy, brian”

“Seull!” Brian menghela nafasnya lelah, entah sampai kapan seulgi akan terus mengungkit hal semacam ini batinnya.

“Waee?”

“Wendy akan tiba di korea dalam beberapa hari ini, kau benar-benar tidak perlu khawatir” ungkap brian lagi dan nyatanya seulgi hanya membungkam mulutnya selama beberapa saat dan begitu wanita itu mulai kembali berbicara tak ada hal yang dapat brian lakukan selain berperan sebagai pendengar yang baik.

Langit kala itu masih cukup gelap sementara suasana di bandara dapat terbilang cukup ramai. Setelah mengurus berbagai hal, keduanya kemudian dengan segera pergi menuju ke apartment yang sebelumnya telah dibicarakan dengan menggunakan taksi. Nampaknya walaupun seulgi sudah nampak jauh lebih baik, wanita itu masih cukup kelelahan karena tak berlangsung lama kedua matanya dengan seketika terpejam dalam sandarannya pada bahu brian.

“Seul, we’re arrived” brian berusaha membangunkan seulgi yang tertidur pulas. Berikutnya begitu wanita cantik itu mengerjapkan kedua matanya, keduanya kemudian dengan segera turun dan melangkah masuk ke dalam sebuah bangunan apartment megah di tengah2 kota seoul. Brian ingat betul bagaimana sulit untuk mendapatkan satu unit saja apartment di bangunan ini, semua unit berhasil dibuat sold out dalam hitungan detik beruntung Jae selalu bersedia membantunya hingga pada akhirnya ia dan seulgi berhasil mendapatkan salah satu unit terbaik yang pernah ada.

“Kau bisa tidur sekarang, setelah kau bangun akan ada banyak hal yang harus dilakukan, oke?” Seulgi mengangguk mengerti dan kemudian wanita berambut panjang itu dengan segera menempati sebuah sofa berukuran besar yang terdapat di ruang tengah menghadap ke arah televisi, sementara Brian benar-benar harus menghabiskan banyak waktunya untuk mengeluarkan barang-barangnya yang semula sudah tersusun rapi di dalam koper.

Brian menghela nafasnya, sebuah senyum seketika terulas di wajah tampannya. Di sela-sela kesibukannya merapikan seluruh barangnya dari dalam koper, sosok seulgi yang tertidur pulas di atas sofa berhasil menarik perhatiannya. Jika harus diingat, dengan ini sudah hampir 10 tahun keduanya menjadi seorang kakak beradik. 10 tahun yang lalu, seulgi yang baru saja menginjak usia 13 tahun datang bersama dengan Ibu ke dalam kehidupan mewah Brian dan ayahnya. Semula Brian dan seulgi sama sekali bukanlah tipikal saudara yang akur dan saling mengasihi satu sama lain. Hampir selama 2 tahun menjadi seorang saudara, brian dan seulgi sama sekali tidak pernah terlibat dalam percakapan panjang sekali saja hingga kemudian kejadian di malam itu mengubah segalanya.

Masih tak dapat sedikit saja brian menghapus kenangan kelam itu dari dalam benaknya ketika ia harus menyaksikan betapa hancur seluruh kehidupan adik perempuannya itu yang secara langsung menjadi saksi bisu disaat sebuah kecelakaan yang menimpa Brian malam itu berhasil merenggut nyawa sang ibu, yang menjadi satu-satunya kepercayaan seulgi dalam kehidupannya.

Tak sampai disitu, bagaikan kerjapan mata seluruh kehidupan seulgi yang baru saja menginjak usia 15 tahun bagaikan runtuh seketika. Keputusan sepihak ayahnya untuk mengirim seulgi melanjutkan sekolahnya di toronto setelah kematian ibunya pun seakan menambah pilu dalam sisa kehidupannya.  Trauma mendalam di dalam hatinya serta perasaan pedih, membuat gadis kecil itu tumbuh dewasa dengan sebuah PTSD (post traumatic stress disorder)  melekat dalam dirinya.

Takut secara berlebihan, mudah mengalami kekhawatiran, menutup diri, penurunan kemampuan untuk mengingat dalam jangka panjang, serta keinginan untuk mengakhiri hidup–saat ini seluruh kehidupan seulgi masih diselimuti seluruh perasaan menakutkan yang hanya dengan menyaksikannya dapat menyayat hati Brian secara tidak langsung.

Adakalanya, brian bertanya-tanya di dalam hatinya. Hal macam apa yang menyentuh relung hatinya yang terdalam kala itu hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk ikut terbang ke toronto bersama gadis kecil itu. Pada saat itu mungkin perasaan bersalah yang dijadikannya alasan, namun seiring berjalannya waktu ia mengerti benar perasaan terbuang yang harus dialami seulgi kala itu sebelumnya sudah terlebih dulu ia rasakan, dan nyatanya ia sama sekali tidak menginginkan gadis kecil yang telah terenggut kebahagiaannya itu merasakan hal yang sama.

Kini setelah ia meyakinkan diri jika kembali ke seoul adalah hal yang terbaik untuk kehidupan seulgi, tanpa ragu ia memutuskan untuk keluar dari zona amannya dan melangkah maju untuk memenuhi panggilan sang ayah yang hampir selama 1 tahun ini selalu sampai ke telinganya. Berusaha meyakinkan dirinya jika sudah saatnya ia dan seulgi kembali sebagai seorang penerus Keyeast group walau dalam segi manapun Brian sama sekali meragukan hal tersebut dan menduga jika sang ayah pasti memiliki rencana lain dibalik semua ini.

“Kita tidak bisa pergi ke wolmido besok?” Tanya seulgi seketika brian menghentikan kalimatnya, sementara kedua tangan laki-laki itu masih sibuk mengikatkan rambut panjang seulgi dengan sebuah pita.

“Aku lupa memberitahumu. Besok kau harus pergi ke menemui Kahi noona. Ia akan membantumu untuk bergabung dalam kompetisi menari berikutnya” jelas brian, dan nampaknya seulgi sama sekali tidak menyukai hal itu. Wanita berambut panjang itu seketika berbalik dan menatap brian kesal, “kenapa kau tidak membicarakannya terlebih dulu padaku, Brian?”

“Mengenai hal apa? Hal ini?–baiklah i was wrong”

“Aku tidak ingin pergi ke sana atau menemui siapapun besok” putus seulgi, “aku tidak suka menari di tempat orang asing”

Brian menggaruk kepalanya frustasi dan kemudian menghela nafasnya, “seul, kau tau betapa sulitnya untukku membuat sebuah janji agar kau dapat bertemu dengan kahi noona?”

“Aku tidak pernah memintamu untuk melakukannya”

“Tapi aku melakukannya untukmu–aku akan pergi mengantarmu kesana besok, oke?”

“Kenapa kau memaksaku?”

“Seul–“

“Kau akan bersamaku sampai semuanya berakhir?” Potong seulgi, yang kemudian berhasil menyita waktu brian untuk berpikir selama beberapa saat hingga laki-laki itu kemudian mengangguk, “deal”

.

.

.

“Seulll, ppaliwaa” seru brian cukup keras, yang kemudian dengan terbalaskan dengan sahutan wanita itu tak kalah keras dari kamarnya, yang meminta laki-laki itu untuk bersabar sebentar lagi.

Brian baru saja hendak bangkit dari sofa begitu ponselnya tiba-tiba saja berdering, dan pada saat yang sama seluruh perhatiannya terjatuh pada sosok disebrang sana yang tengah melakukan panggilan kepadanya, “Yeah? This is brian speaking”

“Ku dengar kau kembali ke seoul bersama seulgi”

“Yeah–but dengan siapa aku berbicara sekarang?”

“–Brian! Hentikan omong kosongmu, temui aku hari ini di keyeast” suara berat laki-laki itu terdengar marah, namun brian sama sekali tidak merasa jika marah Tn. Kang membuatnya takut ataupun gentar, “wae? Kenapa aku harus menemuimu?–abuji, bisakah kau berhenti berusaha mencari tau hal-hal macam apa yang tengah kulakukan bersama seulgi?”

“Temui aku pukul 4 nanti. Yeah–seperti yang kau ketahui, aku selalu memiliki banyak mata untuk menyaksikan semua hal yang kau lakukan bersama seulgi. Beritahu seulgi jika ia sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik–tetapi kau harus mengingatnya Brian–kau dan seulgi–“

“Briann, i’m readyy” seru seulgi dari kejauhan yang kontan berhasil membuat brian memutuskan untuk mengakhiri panggilan ayahnya itu secepat kilat, karena bagaimanapun ia sama sekali tidak bersedia membiarkan seulgi mengetahuinya jika ayahnya yang telah membuang mereka kini tengah berusaha menghubunginya.

“Kajja–ive been waiting for you since forever” ungkap brian seraya kemudian meraih mantel milik seulgi yang tergantung di sudut ruangan dan memakaikannya pada wanita itu, “sepertinya kau sedang berbicara dengans seseorang tadi, nugu?” Tanya seulgi pada brian.

Brian mengerutkan keningnya dan kemudian mengangkat bahu, “jae hyung ingin bertemu denganku setelah ini, kau akan baik-baik saja setelag bertemu dengan kahi noona, kan?”

“Ya! Kau bilang kau akan bersamaku hingga selesaii”

“Mianhae, ada banyak hal yang harus kulakukan hari ini seul, aku akan menjemputmu lagi setelah kau selesai, oke?”

“You’re liar”

“Mm.. i’m liar, i’m sorry–kajja”–dan brian tanpa ragu dengan segera meraih pergelangan tangan seulgi dan membawa wanita itu melangkah keluar dari apartment bersamanya.

Nyatanya perdebatan diantara keduanya masih tak kunjung berakhir tatkala mereka sampai di cafe, dimana seulgi akan menemui kahi. Lagi-lagi brian harus membujuk wanita itu dengan susah payah hingga pada akhirnya seulgi bersedia turun dari mobil.

“Aku akan menjemputmu lagi nanti di studio, eung?” Brian mencoba meyakinkan seulgi lagi, dan setelah selang beberapa saat wanita dengan rambut pirang panjangnya yang tergerai itu kemudian mengangguk dalam keadaan terpaksa, “take this with you” ungkap seulgi berikutnya seraya melepas scraftnya dan mengalungkannya pada leher jenjang Brian, “aku akan benar-benar sedih jika kau melakukan hal semacam ini padaku lagi, kau seperti sedang berusaha membuangku” tambahnya.

Brian tersenyum kecil, sejujurnya ia benar-benar merasa buruk tatkala mengetahui jika seulgi sepertinya terus dibuat salah paham oleh karena hal ini namun di sisi lain ia benar-benar yakin jika seulgi membutuhkan seseorang seperti kahi untuk dapat membimbingnya melangkah lebih jauh, “Arraseo, gomawo and plz dont be sad, eung? Aku harus segera pergi sekarang”

“Arraseo–kha, pergilah”

“Aku akan menjemputmu–sampai nanti”–dan begitu salah satu tangan milik brian berhasil menyentuh kepala seulgi selama beberapa saat, sosok laki-laki jangkung itu kemudian dengan segera berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam mobilnya.

Rasanya sedikit berat untu brian meninggalkan seulgi seorang diri, namun ia sama sekali tidak memiliki pilihan lain–ada begitu banyak hal yang harus ia lakukan hari ini dan salah satunya yaitu–

-kahi noona

Aku sudah bertemu dengan seulgi. Shes freakin beautiful, but can i ask you something?

-brian

Ok. Pls take care of her. Just ask noona

-kahi noona

Kau yakin jika hubungan kalian hanyalah hubungan  kakak beradik?

-brian

Wae?

-kahi noona

Kalian terlihat seperti sepasang kekasih, brian

-brian

Yeah, just take care of her noona, she’s a lil bit sensitive. Thku.

-kahi noona

Ofcourse, dont worry. See ya

Brian meletakkan kembali ponselnya dan kemudian kembali melajukan mobilnya menuju ke studio, studio dimana member day6 akan menghabiskan waktu.

“Hei, brian!!! Whatsuppp” jae berseru sarcastic begitu brian baru saja melangkahkan kedua kakinya memasuki ruang studio, sementara seruan jae barusan berhasil menarik perhatian sungjin dan wonpil yang kala itu juga tengah berada di studio untuk mempersiapkan perform mereka malam nanti.

“Hei, hyung–maafkan aku karena tidak langsung menemuimu kemarin” ungkap brian seraya mengambil posisi segera tepat disebelah jae yang tengah menyetel gitar kesayangannya itu.

Berikutnya sambutan excited wonpil dan juga sungjin, ditambah dengan jae yang selalu over excited benar-benar membuat brian merasa seperti pada akhirnya ia pulang ke rumah, aniya he doesnt mean jika selama ini kehidupannya bersama seulgi tidak menyenangkan hanya saja–begitulah, rasanya sulit untuk dijelaskan.

Brian mengenal keempat member day6 sejak 5 tahun yang lalu. Saat itu ia baru saja berusia 19 tahun, pertama kali ia bertemu dengan jae yang tengah melanjutkan studinya di toronto. Sejak saat itulah, bersama jae dan member day6 lainnya, brian melangkah lebih dekat dengan musik. Ia yang memang sejak awal mampu memainkan berbagai alat musik, mulai mengembangkan bakatnya dalam membuat sebuah lagu, memproduserinya, hingga sampai saat ini sudah tak terhitung banyaknya lagu yang ia ciptakan beredar dikalangan penyanyi terkemuka walau kala itu brian melakukannya jauh dari korea.

“Bagaimana dengan seulgi? Kau tidak membawanya bersamamu? Terakhir kali kami bertemu seulgi, saat kita semua berlibur ke singapura, keadaannya pun tidak terlalu baik saat itu” ungkap sungjin ditengah-tengah perbincangan mereka.

Jae mengangguk setuju dan kemudian kedua mata sipitnya menatap brian penuh curiga, “kau takut jika dalah satu dari kami akan jatuh cinta padanya, kan?–ayolah brian, kau tidak bisa membawa seulgi bersamamu selamanya”

“Aniya. Ia baik-baik saja. Hari ini, ia harus menemui kahi noona untuk segala urusan menarinya. Ketika ia berada dalam waktu senggang aku akan membawanya ke studio–ia seringkali mengatakannya jika ia ingin bernyanyi bersama day6” jelas brian, yang entah bagaimana hanya terdengar seperti alasan yang masuk akal di telinga jae, sungjin, dan yang lainnya.

“Lalu bagaimana mengenai apartment?–kau tau, membutuhkan waktu yang panjang untukku mendapatkan unit yang kau inginkan disana” tambah jae lagi.

Brian terkekeh dan kemudian melebarkan senyumnya, “seulgi sangat menyukainya, thanks hyung”

“Ck. Semua hal yang bersangkutan denganmu hanyalah kang seulgi, Brian” sungjin berkomentar, yang diikuti dengan anggukan setuju wonpil yang sejak awal hanya menjadi pendengar yang baik, “apa yang akan kau lakukan beberapa tahun lagi hyung? Ketika kau harus menikah–apa yang akan terjadi pada seulgi?” Ia bertanya kemudian yang kontan menyulap suasana diantara mereka menjadi kelabu.

Jae berdeham pelan dan kemudian menepuk bahu brian sesekali, “kurasa tak ada yang harus brian lakukan–saat brian akan menikah, seulgi pasti juga akan menikah. Thats fine” jelasnya, “dan jika saat itu seulgi belum menemukan seseorang untuk menikah dengannya, jangan sungkan untuk membawanya padaku” tambah jae lagi yang seketika berhasil memecah tawa brian yang sebelumnya nampak terlarut dalam pembicaraan yang cukup serius itu. Well, adakalanya selalu terdapat beberapa hal sensitif yang sulit untuk dibicarakan.

.

.

.

Suara musik yang tak asing itu mulai mengalun, memenuhi seluruh ruang studio bahkan hingga ke bagian sudut yang tak terlihat. Perlahan seulgi mulai memejamkan kedua matanya dan pada detik berikutnya seluruh tubuhnya bergerak bagai sapuan angin yang mengiringi datangnya musim dingin. Seulgi memang yang terbaik, terutama dalam melakukan gerakan kontemporer yang begitu cantik.

Selama beberapa menit seluruh padang mata itu seakan terhipnotis pada penampilan sederhananya yang dapat dengan mudah memikat siapa saja yang menyaksikan dan begitu musiknya berakhir–hening seketika menyelimuti seluruh studio bagaikan terperanjat dalam kebisuan.

“D–daebak!!! Ia benar-benar kerennn!!!!” Seru Yugyeom, salah seorang anak laki-laki yang kala itu berhasil memecah keheningan yang terjadi, dan berikutnya tepukan meriah dengan segera diluncurkan hanya teruntuk seulgi seorang.

“Ia benar-benar seulgi kang?!”

“Daebak!”

“Seluruh gerakannya seperti menghipnotis–daebak!”

“Seulgiii, kau benar-benar hebattt!!!” Hyeri salah seorang wanita berambut pendek yang sebelumnya telah mengenalkan diri berada pada usia yang sama dengan seulgi dengan segera menghambur pada sosok kelabu wanita itu dan memeluknya erat penuh rasa kagum, sementara kahi yang kala itu juga turut menyaksikan sama dibuat takjub hanya saja seperti kabar yang beredar penampilan seulgi selalu terasa kosong dan menyedihkan.

“Terima kasih, eung–hyeri?”

“Great!!! Jinyoung pasti akan sangat kaget dan menyukaimu, seulgi–kau sudah memberitahunya, kan jaebum?” Hyeri seketika menoleh pada salah satu laki-laki yang lain, dan laki-laki itu kemudian mengangguk sambil menunjukkan ponselnya senang.

“Kau akan datang kan, seul? Hari ini kami akan merayakan kedatanganmu sebagai anggota baru, we’re gonna have some hard party tonighttt~~” seru hyeri excited, namun tidak dengan seulgi. Seketika kelabu yang menghiasi wanita itu semakin meluas namun tanpa siapapun menyadarinya selain dirinya sendiri dan juga the one and only, brian.

“Kau tidak boleh menolak, oke?!” Tambah hyeri lagi, yang semakin membuat seulgi merasa bimbang, ragu sekaligus khawatir pada saat yang bersamaan.

Wanita berambut pirang itu kemudian berusaha mengulas senyum dan mulai membuka suara, “aku harus membicarakannya terlebih dulu–eung, kurasa brian tidak akan menyukainya jika setelah ini aku tidak pulang ke rumah” jelasnya yang kontan membuat hyeri menatapnya heran, “brian? Siapa? Kekasihmu?”

Seulgi tidak menjawab dan kemudian hanya meminta izin untuk pergi keluar melakukan panggilannya kepada brian.

Tut…

Tut…

Panggilan pertama hingga panggilan keenamnya, namun tidak seperti biasanya kali ini Brian sama sekali tidak menjawab satupun panggilannya. Seketika detak jantung seulgi meningkat, deru nafasnya semakin berat dan seluruh benaknya kemudian seakan dipenuhi oleh semua hal buruk yang tidak semestinya berlabuh dalam pikirannya hingga–“seulgi, kau baik-baik saja?” Sebuah teguran ringan Kahi berhasil membawa kembali kesadaran seulgi pada tempatnya semula, jika kala itu kahi terlambat sedikit saja mungkin ia hanya akan menemukan sosok seulgi sudah jatuh pingsan di tempat itu.

Seulgi mengerjapkan kedua matanya, pandangannya bergantian menatap kahi dan juga layar ponselnya yang masih terus berusaha melakukan panggilan pada brian, “brian tidak menjawab panggilanku”

“Benarkah? Ia mungkin sedang sibuk” kahi memberikan alasan, namun nampaknya seulgi sama sekali tidak dapat menerima alasan semacam itu, “brian tidak pernah mengabaikan panggilanku sebelumnya”

“Seulgi, dont worry. I’ll call brian later, kau hanya perlu ikut bersama hyeri dan yang lainnya untuk bersenang-senang, eung? Mereka melakukannya untukmu” ungkap kahi lagi.

“Tetapi brian–“

“Brian tidak akan keberatan. Believe me”–dan pada saat itu seulgi benar-benar bagaikan kehabisan katanya. Tak ada hal lain yang dapat ia lakukan atau bahkan katakan selain menuruti keinginan rekan-rekan barunya itu.

Dalam diam wanita itu terus menatap ponselnya, salah satu tangannya masih berusaha untuk mengatasi kekhawatiran yang meluap-luap sementara senyumnya masih berusaha ia lukiskan di wajah cantiknya.

“Seulgi, can i ask you something?” Kahi tiba-tiba saja kembali memecah lamunan wanita itu dan membuatnya mengangkat wajahnya penuh tanya, “yeah?”

“Kenapa saat kau menari tadi, kau memejamkan kedua matamu?” Tanyanya, sesaat seulgi nampak tidak ingin menjawab pertanyaan semacam itu namun berikutnya ia mulai membuka mulutnya, “aku hanya ingin melihat apa yang ingin kulihat saat aku menari” ungkapnya pelan.

Kahi nampak mengerutkan keningnya dan kemudian kembali bertanya, “hal apa yang ingin kau lihat pada saat itu?”

“Brian”

“Brian?”

“Yeah–karena aku menari hanya untuk brian”

-seulgi

Brian, right now i’m so scared.

.

.

.

TBC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s