MAYDAY [Episode 3]

Starring Got7’s Park Jinyoung and the most beautiful Red Velvet’s Kang Seulgi

“Jin..young..” lirihnya begitu pelan, bibirnya seakan terus memaksa untuk mengunci namun dalam hatinya berusaha untuk menjerit kala itu, “jinyoung, apa yang terjadi?” Ia kembali berucap pelan dan lirih, tubuh lelahnya mulai bergetar hebat tak kuasa tatkala sepasang manik mata gelap milik jinyoung berhasil membawanya pada luka di masa lalu.

“JANGAN MENDEKAT!”

.

.

.

Seulgi kembali dibuat terkejap begitu Jinyoung tiba-tiba saja berteriak dari arah sofa, sepasang manik mata gelapnya menatap seulgi lekat,

sementara wajah tampannya nampak pucat pasi. Di sekitarnya dapat seulgi saksikan terdapat begitu banyak pecahan benda pecah belah berlumur darah berasal dari kedua kaki laki-laki itu.

“KUBILANG JANGAN MENDEKAT!!” Jinyoung kembali berteriak, nafasnya tercekat, dan seluruh tubuhnya nampak bergetar hebat bahkan melebihi reaksi shock yang saat ini masih melanda seulgi pada saat yang bersamaan.

“KANG SEULGI!! LEAVE ME!!”

“AKU AKAN MELUKAIMU JIKA KAU TERUS MENDE–KANG SEULGI!! JUST LEAVE ME ALONE!!” Teriakan jinyoung semakin menjadi ketika tanpa menghiraukan semuanya wanita berambut pirang itu hanya terus melangkahkan kedua kakinya semakin mendekat.

Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa ia hanya tetap diam ketika seluruh jiwanya seakan teriris perih menyaksikan sosok jinyoung yang kala itu tengah menahan rasa sakitnya seorang diri?

“APA YANG KAU LAKUKAN KANG SEULGI. I SAID JUST LEAVE ME A–“

“–jinyoung..” seulgi melirih begitu pada akhirnya keduanya kini saling berhadapan satu sama lain. Jinyoung masih terduduk di atas sofa sementara Seulgi sudah berdiri tepat di hadapannya, menatapnya pedih dengan seluruh upayanya untuk tidak meneteskan air mata kala itu, “–sudah cukup” lirihnya lagi dan saat itu dapat ia rasakan sekejap jinyoung mulai mencengkram lengannya kuat dengan kedua tangannya, berusaha membuatnya untuk berhenti dan pergi menjauh. Pandangan jinyoung menatap lurus seulgi seakan memberikannya sebuah peringatan jika ia dapat menyakiti wanita itu kapan saja.

“Kang seulgi–i said, leave me alone… kenapa kau sama sekali tidak mau mendengarku–KANG SEULGI!!!!”–dan BRUGH!!!!

Seketika seulgi sudah tersungkur ke belakang, tak jauh dari posisi sebelumnya namun dapat mulai wanita itu rasakan pecahan-pecahan benda pecah belah itu mulai menyayat permukaan kulitnya pedih, jadi seperti ini rasanya? Hatinya seakan melakukan pemberontakan, apa yang ia lakukan sekarang? Jinyoung pasti merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan dari ini dan–seakan tak lagi dapat menahan tangisnya untuk pecah kala itu, seulgi dengan segera bangkit dari posisinya dan melangkah pergi, membiarkan sepasang manik mata milik jinyoung mulai berusaha mencari-cari keberadaannya.

PRANKKK

seulgi  dapat mendengar sebuah suara bagaimana benda pecah dari tempat dimana jinyoung tengah berada kala itu, dengan segera wanita itu meraih first aid kit box dari dapur dan membawanya sambil berusaha menahan seluruh gejolak dalam dirinya yang seakan siap untuk meledak kapan saja.

Pandangannya seketika tertuju pada hamburan pecahan benda di permukaan lantai yang seulgi duga adalah sebuah vas bunga yang semula terletak di atas meja tak jauh dari posisi jinyoung

Seulgi menahan nafasnya sesaat dan kemudian kembali melangkahkan kedua kakinya menghampiri sosok jinyoung yang masih terduduk di posisi yang sama, sebagian dari dirinya merasa aneh karena jinyoung tak lagi melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, dan sebagian dari dirinya yang lain merasa bersyukur karena setidaknya jinyoung dapat tenang ketika ia harus mengobati luka yang laki-laki itu miliki akibat dari pecahan kaca yang berserakan.

“Apa yang kau lakukan?” Suara jinyoung tiba-tiba saja kembali terdengar begitu seulgi hendak meletakkan kedua tangannya pada kaki jinyoung yang terluka sambil menunduk.

“Aku akan melakukannya dengan cepat jika kau tetap tenang seperti ini, jinyoung” kata seulgi, wanita itu bahkan tetap berupaya untuk tidak mengalihkan pandangannya pada jinyoung karena entah hal macam apa yang akan terjadi nanti ia sama sekali tidak mengetahuinya.

“Mengapa kau melakukannya!”

“I’m asking you!”

“Are you deaf?!”

“Kang seulgi!!!” Katanya lagi hingga pada akhirnya seulgi menghentikan gerak tangannya dan menoleh sesaat, membiarkan kedua pasang mata mereka saling menatap satu sama lain, “Ada apa, jinyoung?”

Jinyoung tidak memberikan jawaban dan hanya terus menatap seulgi lekat, namun seulgi sama sekali tidak memiliki waktu untuk itu. Menurutnya, saat ini, hal utama yang harus ia lakukan hanyalah satu, meminimalisir rasa sakit jinyoung yang bahkan dirinya sendiri tidak menyadari seberapa hancur hati seulgi begitu menyaksikan keadaan ini.

“Already, you’re going to fine” kata seulgi setelah beberapa saat keduanya seakan kembali tenggelam dalam keheningan. Dengan kedua tangannya seulgi mulai merapikan kembali first aid kit nya dan baru saja ketika ia hendak beranjak salah satu kaki jinyoung kembali membuat first aid kit nya terpental cukup jauh dan kembali berhamburan.

“Already? Kau kira aku akan merasa lebih baik” Jinyoung mulai bersuara lagi, suaranya terdengar tenang namun tetap mengancam.

Seulgi menatap first aid kit nya yang sudah berhamburan dan kemudian tak berlangsung lama ketika pandangannya kembali tertuju pada jinyoung. Wanita berambut pirang panjang yang kala itu sudah benar-benar cukup lelah, pedih serta tak kuasa menahan dirinya hingga seperti ini–namun tak ada yang bisa ia lakukan, semakin ia bertindak lebih jauh maka akan semakin pula ia menyakiti jinyoung.

“Katakan padaku jinyoung, apa yang terjadi?” Seulgi membuka suara, posisinya saat ini benar-benar sudah berada tepat di hadapan Jinyoung. Ia menempati posisi kosong di sebelah laki-laki itu dan membuat jinyoung seketika berbalik menatapnya.

Sekali lagi jinyoung sama sekali tidak memberikan jawaban akan pertanyaan yang seulgi ajukan kepadanya. Jinyoung hanya menatap dan menatap lekat kedua mata seulgi seakan wanita itu akan dapat dengan mudah menemukan jawaban atas pertanyaannya hanya dengan menatap sepasang manik mata gelap itu.

“Jinyoung..” seulgi kembali membuka mulutnya dan berikutnya tanpa perlu mendengar jawaban macam apa yang entah kapan laki-laki itu akan berikan kepadanya, kedua tangan seulgi perlahan mulai meraih jinyoung dan membawanya ke dalam pelukan.

Seulgi mulai memejamkan kedua matanya, berusaha sekeras mungkin untuk tidak menangis saat itu. Pedihnya, lukanya, hingga semua hal buruk yang jinyoung rasakan kala itu seakan mulai mengalir dalam tubuhnya dan menyesakkan dada.

“du bist gemein (you’re so mean)” suara jinyoung terdengar pelan, namun seulgi dapat mendengarnya dengan jelas sekali dan yang semakin mengejutkan seulgi yaitu bahasa jerman yang digunakan oleh jinyoung kali ini.

“du bist gemein” ujarnya lagi dan perlahan dapat seulgi sadari jika jinyoung mulai terisak dalam pelukannya, kembali seulgi merasakan seluruh hatinya seperti teriris pedih dan dadanya semakin terasa sesak. Tangisan jinyoung berhasil menghancurkannya hingga berkeping-keping.

“Aku tidak melakukan kesalahan tetapi–kenapa kau  meninggalkanku”

Seulgi tercekat dalam diam. Kedua tangannya semakin mengeratkan rengkuhannya, membiarkan jinyoung mendekap dalam pelukan hangat, “aniya jinyoung” lirihnya namun seulgi seakan tak mampu lagi berkata-kata.

“Don’t leave, please”

“Please”

“Seulgi, ich vermisse dich (i miss you)”

Bagaikan sebuah mantra yang dapat dengan mudah menyihir seseorang hanya dengan kejapan mata, kalimat yang baru saja park jinyoung utarakan pada seulgi berhasil meluluh lantahkan semua keraguan dalam hati wanita itu serta meruntuhkan benteng pertahanan yang telah susah payah ia bangun sejak awal, air mata seulgi mulai menetes membasahi permukaan pipinya.

Berikutnya seulgi mulai merenggangkan pelukannya, kedua tangannya kemudian  menuntun sang laki-laki untuk menatapnya lekat-lekat, “jinyoung, jangan menangis” jemari lentik seulgi mulai menelusur permukaan pipi jinyoung berusaha untuk menghapus jejak air mata yang kini sudah nampak membasahi kedua pipinya.

His dark beautiful swollen eyes, the extremely handsome pale face, and his beautiful pink lip,  lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya Kang seulgi kembali menjatuhkan seluruh hatinya pada Park Jinyoung.

“I’m not going to leave you, jinyoung”

“Jangan menangis”–lirihnya lagi namun kali ini wanita cantik berambut pirang itu nampak mengulaskan sebuah senyum kecil di wajahnya, berusaha meyakinkan jinyoung jika ia akan selalu berada di sisinya, “i miss you too–a lot”–dan sebelum menarik kembali jinyoung ke dalam dekapan hangatnya, sebuah kecupan kecil wanita itu daratkan tepat di bibir sang laki-laki, membuatnya seketika kehilangan seluruh resah yang menyesakkan dada.

.

.

.

The voice so filled with nostalgia that you could almost see the memories floating through the blue smoke, memories not only of music, joy and youth, but perhaps of dreams and some love.

.

.

Jinyoung mulai mengerjapkan kedua matanya, perlahan namun pasti samar sosok wanita itu menjadi hal pertama yang dapat ia temukan seketika seluruh jiwanya kembali pada raga.

Kang seulgi, kedua matanya nampak terpejam lelah, rambut pirang panjangnya nampak mulai berjatuhan menutup sebagian permukaan wajah cantiknya, deru nafas teratur di sela-sela mimpinya serta secarik senyum kecil yang nampak terulas samar. Jinyoung seakan tak dapat menemukan pembatas antara kenangan di masa lalu dengan hal yang belakangan ini terjadi begitu seluruh perhatiannya hanya tertuju pada the sleeping seulgi, ia bahkan tak sepenuhnya menyadari hal macam apa yang tengah terjadi padanya kala itu, yang jinyoung ketahui saat ini hanyalah bagaimana wanita yang sudah hampir berhari-hari tidak ia temukan keberadaannya itu kini tengah terlelap dengan begitu cantik di hadapannya, sementara entah bagaimana bisa begitu terbangun dari mimpinya ia tengah berada di pangkuan wanita itu, jinyoung sama sekali tidak dapat memikirkan alasannya.

Berikutnya, baru saja ketika jinyoung hendak mengangkat kepalanya dari pangkuan seulgi wanita itu nampak sedikit terkejut dan perlahan mulai mengerjapkan kedua matanya pelan seakan menyadari jika kala itu jinyoung juga sudah terbangun dari tidurnya, “jin–“

Belum sempat seulgi menyelesaikan katanya, seketika jinyoung sudah membungkam wanita yang belum sepenuhnya sadar itu dengan sebuah ciuman tepat pada bibir seulgi yang berhasil membuat wanita itu kembali terkejut dan sekejap mengerjapkan kedua matanya cepat, tak yakin dengan apa yang tengah jinyoung lakukan padanya–hingga tanpa jinyoung sadari hal yang lebih jauh mungkin saja terjadi apabila sang wanita tidak berusaha untuk membuatnya sadar dengan apa yang sedang ia lakukan, “jinyoung–hentikan” lirihnya pelan, dan pada saat yang bersamaan kalimat yang baru saja seulgi utarakan seakan berhasil menusuk ke dalam relung hati jinyoung dan memaksanya untuk berhenti.

“Jinyoung–let me go” ujar seulgi lagi, kala itu jinyoung dapat mendengar suara seulgi dengan jelas sekali dan begitu tersadar seketika ia tau benar mengapa wanita itu memaksanya untuk berhenti.

Jinyoung memejamkan kedua katanya sesaat, dalam diam dan masih dalam posisi yang sama laki-laki itu berusaha mengatur kembali nafasnya hingga kemudian  ia putuskan untuk menarik kepalanya menjauhi leher jenjang milik kang seulgi, dan membiarkan sepasang manik mata keduanya saling bertemu satu sama lain.

Sungguh, hal gila macam apa yang sudah ia lakukan pada kang seulgi?! Batinnya sendiri dalam diam dan ke awkwardan posisinya kala itu yang masih mengunci seulgi dalam rengkuhannya di atas sofa? Oh god.

“I’m sorry” jinyoung seketika membuka mulutnya dan perlahan mulai melepaskan cengkraman kuatnya pada pergelangan tangan wanita itu dan dengan segera beranjak dari posisinya, membebaskan seulgi dari hal gila yang baru saja ia lakukan.

Seulgi tidak memberikan jawaban, nampaknya wanita berambut pirang itu cukup dibuat terkejut dan tak kalah terkejutnya jinyoung seakan mulai kehabisan katanya begitu dalam pandangannya ia temukan akibat dari perbuatan yang baru saja ia lakukan pada wanita itu, sebuah jejak kemerahan yang nampak pada area leher jenjang seulgi dan kedua pergelangan tangannya.

Ia pasti sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya, batin jinyoung lagi, kala itu ia benar-benar tak tau lagi bagaimana harus bereaksi apabila seulgi mulai mengatakan sesuatu dari mulutnya.

“Aku akan pergi ke toilet sebentar–kau tunggu di sini sebentar karena kita perlu bicara” ujar jinyoung dengan begitu bodohnya berusaha untuk menjebloskan dirinya sendiri ke dalam jurang, sambil kemudian dengan segera beranjak dari posisinya–yang namun belum sempat ia mengangkat tubuhnya reaksi seulgi nyaris membuatnya terlonjak kaget, beruntung ia masih dapat mengontrol dirinya kala itu, “A–ada apa?”

“Telapak kakimu terluka, akan sedikit menyakitkan jika kau berjalan sekarang” seulgi menatapnya sesaat dan kemudian menuntunnya untuk memperhatikan dua buah plester yang masing-masing tertempel tepat di telapak kakinya.

Jinyoung berdeham pelan lalu menganggukkan kepalanya mengerti, “i got it, thats fine” responnya pada seulgi yang kemudian tanpa perlu berpikir panjang lagi dengan segera laki-laki itu melangkahkan kedua kakinya meninggalkan seulgi di ruang tengah, karena bagaimanapun kala itu ia hanya ingin segera pergi dan menghilang.

.

.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa terjadi? Dan mengapa harus terjadi?

Park jinyoung benar-benar tidak dapat memikirkan entah kemungkinan-kemungkinan macam apa yang dapat memicul hal seperti ini hanya saja–this seems so wrong.

Dari mana semuanya harus dimulai? Ia yakin sekali jika semuanya baik-baik saja sampai semalam ia tiba di rumah–lalu apa lagi? Batinnya frustasi hingga pada akhirnya ia rasa sama sekali tak ada gunanya melarikan diri seperti ini, ia hanya harus menemui seulgi sekarang dan sesegera mungkin memberikan klarifikasi jika hal yang ia lakukan tadi benar-benar sebuah kesalahan, and he dont mean it.

“Seulgi, we need to–“–jinyoung menghentikan kalimat serta langkahnya begitu kini ia saksikan wanita berambut pirang itu sepertinya tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya sambil berdiri menghadap ke arah jendela kaca, “aku tau, i’m so sorry”

“Kau bisa melakukannya kan, oppa? Aku akan bekerja keras besok–dan untuk recordingnya, aku akan menghubungi Sungjin dan ilhoon setelah ini. I promise”

“Mm.. arraseo, aniya. Semuanya baik-baik saja”

“Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti, gomawo oppa”–dan seakan tak kunjung berakhir begitu seulgi mengakhiri panggilannya yang pertama, wanita itu mulai kembali berbicara dengan yang lainnya.

Jinyoung menatap sosok seulgi lekat-lekat, tubuh kurusnya, rambut pirang panjangnya yang tergerai serta bagaimana jari-jari lentiknya nampak tengah beradu dengan dinding kaca hingga menimbulkan suara-suara kecil di sela-sela pembicaraanya entah dengan siapa bernama jung.

“Kau sudah selesai?” Jinyoung seketika membuka suaranya dan sontak wanita itu membalikan tubuhnya, baru menyadari jika ternyata jinyoung terus menunggunya berbicara sejak tadi, “you’re here? I’m sorry” ucapnya menyesal, dan kemudian seulgi dengan segera menyusul langkah jinyoung menuju ke sofa–yeah bagaimanapun saat ini keduanya benar-benar harus berbicara satu sama lain.

Begitu kini keduanya sudah saling berhadapan satu sama lain, siap untuk berbicara, sekali lagi pandangan jinyoung kembali menelusur sosok seulgi lekat–dimulai dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya, selain jejak kemerahan yang sudah mulai nampak membiru akibat dari perbuatannya tadi baru ia sadari jika sepertinya seulgi memiliki beberapa tempelan plester di bagian siku dan salah satu telapak tangannya.

“Wae?” Seulgi tiba-tiba saja memecah fokus jinyoung, dan berhasil membuat laki-laki itu berdeham awkward, “kau baik-baik saja?” Tanya jinyoung kemudian.

Seulgi nampak mengerutkan keningnya heran, apa ada yang salah dengan kalimat yang baru saja ia utarakan? Batin jinyoung, namjn berikutnya seulgi dengan segera mengklarifikasi responnya, “bukankah seharusnya itu kalimatku? Kau baik-baik saja sekarang?”

“Heoksi, did i hurt you?” Jinyoung menatap seulgi hati-hati, walaupun ia sama sekali tidak memiliki bayangan hal macam apa yang mungkin saja ia lakukan pada seulgi tadi malam namun setidaknya ia harus mempersiapkan diri dengan entah jawaban apa yang akan seulgi berikan berikutnya.

“Aniya”

“Lalu?” Tanyanya lagi rasanya jawaban seulgi sama sekali belum cukup dapat membuatnya bernapas lega.

Seulgi tidak langsung memberikan jawaban, nampaknya wanita itu tengah memutar otak untuk memberikan jawaban paling rasional yang dapat ia terima tanpa perlu bertanya-tanya lagi, “Aku tiba di rumah sekitar pukul 4 dan saat itu aku menemukanmu tertidur di sofa, sepertinya kau sakit–lalu ketika hendak mengambil segelas air tanpa sengaja aku menjatuhkan gelasnya, membuatnya terpecah belah di lantai dan benar-benar kesalahanku karena kau tanpa sengaja ikut menginjaknya, yeah hanya itu. Aku sangat menyesal, maafkan aku” seulgi menjelaskan dengan tenang sekali namun rasanya hal yang terjadi benar-benar tak sesederhana ini. Jinyoung sama sekali tidak merasa sakit dan–bagaimana seulgi mencoba untuk menjelaskannya benar-benar aneh, ia terlalu tenang untuk menjadi sosok kang seulgi yang jinyoung kenali.

“Baiklah, aku mengerti” jinyoung berbohong, namun menurutnya tak akan ada gunanya mempermasalahkan hal semacam ini karena pada akhirnya ia sudah berhasil mengidentifikasi dua kemungkinan yang sebenarnya terjadi, yaitu yang pertama jika kang seulgi memang benar-benar berbohong padanya dan berusaha untuk menutupi kesalahan yang wanita itu buat sendiri, dan yang kedua yaitu jika ia memang benar-benar menyakiti kang seulgi dan dengan alasan tertentu ia ingin melupakannya tetapi bukankah sedikit aneh? Apa keuntungan yang seulgi dapatkan jika ia berusaha menyembunyikan kenyataan jika ternyata memang jinyoung menyakitinya? Baiklah jadi menurut jinyoung kemungkinan pertama adalah jawaban yang ia perlukan.

“Lalu mengenai hal yang kulakukan padamu tadi–aku minta maaf, itu adalah sebuah kesalahan” tambahnya lagi dan pada saat yang bersamaan pandangan keduanya kembali bertemu satu sama lain.

Jinyoung tercekat dalam hatinya berusaha menerka hal macam apa yang tengah berusaha seulgi tunjukkan kepadanya, dan begitu pada akhirnya seulgi mengerjapkan kedua matanya dan mengangguk renungannya sinar saat itu juga, “dont mind it, thats fine”

Thats fine?

Jadi pada akhirnya hanya itu reaksi yang jinyoung dapat setelah bersusah payah memutar otak memikirkan alasan macam apa yang nantinya akan kembali ia tuturkan pada seulgi jika wanita itu terus menagih alasan paling rasional dari aksinya yang dilakukan secara sepihak dan sangat serakah itu?

“Ah dan juga, i’m so sorry karena sebelumnya aku harus menjawab panggilan ponselmu tadi. Wanita itu Jennie Kim, ia terus melakukan panggilan dan ia menitipkan pesan pentingnya kepadamu, tolong sampaikan kepada Dokter Park jika upacara pemakaman Yoon Min akan dilaksanakan nanti pukul 6 sore”–dan seketika Park Jinyoung seakan menemukan sebuah kepingan puzzle yang sempat menghilang dari dalam benaknya.

Yoon Min?

Benar, apa yang kau lakukan sekarang Park Jinyoung? Dengan kenyataan ini semuanya nampak lebih masuk akal dan rasanya tak ada pilihan untuknya tetap mempertahankan optionnya yang pertama karena tanpa perlu diragukan lagi ia pasti adalah akar dari permasalahan ini dan Kang Seulgi–Ia benar-benar tidak mengerti sama sekali dan hal macam apa yang tengah wanita itu coba untuk lakukan.

.

.

.

Mengapa kau menangis sekarang Kang seulgi?

Seulgi seakan mematung dalam diam, pandangannya terus menelusur sosoknya sendiri melalui sebuah cermin besar yang tanpa terkecuali menampilkan bagaimana menyedihkan kondisinya saat ini.

Apa yang kau harapkan? Tanyanya lagi pada dirinya sendiri, sebelumnya ia bahkan sudah memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut tetapi sekarang mengapa hatinya seperti hancur berkeping-keping?

Kang seulgi kau benar-benar menyedihkan.

Tok.. tok..

“Kau bisa masuk jinyoung” kata seulgi setelah memastikan jika ia telah bersiap dan telah juga menyiapkan pakaian yang akan jinyoung kenakan untuk pergi ke upacara pemakaman yang sebelumnya telah mereka bicarakan tadi.

“Aku tidak memaksamu untuk ikut, kau bisa tinggal jika kau tidak ingin pergi” jinyoung mulai berbicara sambil berusaha mengenakan kemejanya, sementara seulgi yang sudah lebih dulu bersiap nampak tengah sibuk mencari letak mantel milik jinyoung yang sebelumnnya ia ingat telah ia letakan di dalam lemari.

“Seulgi..”

“Thats okay, aku memiliki waktu luang sampai besok” tutur seulgi, rasanya sedikit aneh berada dalam situasi yang seperti ini dengan Jinyoung. Sebelumnya mereka berdua bahkan tidak akan berbicara jika hal tersebut bukanlah hal yang penting namun sekarang walaupun terasa menyakitkan seulgi lebih menyukai keadaan seperti ini dimana ia tak harus merasa asing setiap kali berada di dalam spot yang sama dengan laki-laki itu.

“Aku tidak dapat menemukan mantel hitam milikmu, jinyoung” kata seulgi lagi sambil kemudian menutup pintu lemarinya dan membalikan tubuhnya, membiarkan pandangannya bertemu dengan pandangan jinyoung kala itu.

“Mantel–ah, aku meninggalkannya di dalam mobil”–dan pada akhirnya masalah diantara keduanya terselesaikan, jadi untuk apa ia terus menghabiskan waktunya disini sejak tadi, batin seulgi dalam hatinya.

“Baiklah, jika seperti itu aku akan menunggu di luar” putus seulgi seraya berbalik dan baru saja ketika ia hendak melangkah pergi panggilan jinyoung kembali menghentikan langkahnya, “ada apa lagi?” Ia bertanya pada laki-laki itu.

Jinyoung tidak dengan segera memberikan jawaban dan untuk yang kesekian kalinya laki-laki itu kembali menelusur sosok seulgi lekat dimulai dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya, “bisa kau mengganti scraftmu?”

Seulgi mengerutkan keningnya, “kenapa aku harus menggantinya?”

“Moodku sedang tidak terlalu bagus, kau akan semakin merusaknya jika terus memaksa untuk mengenakan scraft berwarna merah itu” jelas jinyoung yang menurut seulgi sama sekali tidak masuk akal, dan berikutnya tanpa mengatakan hal apapun lagi seulgi dengan segera melangkah pergi meninggalkan sosok jinyoung setelah sebelumnya melepaskan scraft merah itu tepat di hadapannya.

Begitu keluar dari kamar seulgi putuskan untuk menunggu jinyoung di ruang depan, sesekali perhatian seulgi jatuh pada jejak genggaman kuat jinyoung yang masih nampak di area pergelangan tangannya. Sesungguhnya, saat itu ia benar-benar tak menduga jika jinyoung akan menciumnya hingga seperti itu dan–BAM! Entah bagaimana seulgi menyukainya, klarifikasi yang laki-laki itu  berikan padanya di kemudian waktu benar-benar membuatnya pedih.

“Lalu mengenai hal yang kulakukan padamu tadi–aku minta maaf, itu adalah sebuah kesalahan”

Jadi itu adalah sebuah kesalahan? Baiklah rasanya akan terlalu menyedihkan jika seulgi terus mengungkit masalah ini dalam benaknya. Hanya saja, satu hal yang dapat seulgi simpulkan atas semua kejadian yang terjadi diantaranya dan jinyoung hanyalah satu yaitu He is the answer to every prayer she has offered and she  doesnt know how she could have lived without him for as long as her entire life.Things we lose have a way of coming back to us in the end.

Kembali pada hakikatnya, tak terdapat sepatah kata apapun terucap dari mulut seulgi maupun jinyoung dalam perjalanan keduanya menuju ke Pyeongchang. Bagaimanapun kurang lebih 2 jam bukanlah waktu yang singkat, Seulgi hanya terus menghabiskan waktunya untuk menatap kejauhan di luar sana sementara jinyoung hanya hanya fokus mengemudi tanpa beralih sedikitpun. Hingga pada akhirnya begitu langit mulai menggelap keduanya tiba di tempat tujuan.

Seulgi tak langsung ikut beranjak turun dari mobil ketika masih tanpa kata jinyoung dengan segera turun dari mobil sambil menjawab sebuah panggilan di ponselnya.

Pandangan seulgi semakin menyempit, seketika seluruh perhatiannya tertuju pada sosok wanita cantik berambut panjang dengan wajah dingin yang kini tengah melangkah menghampiri jinyoung, nampaknya wanita itu juga tengah melakukan panggilan, dan pada akhirnya ia ketahui jika sepertinya ia adalah wanita yang sebelumnya juga menghubungi jinyoung pagi tadi, Jennie Kim.

“Annyeonghaseyo” seulgi menyapa wanita itu awkward namun tak ia dapatkan sepatah kata apapun sebagai bentuk respon dari wanita itu, yang ia terima hanyalah sebuah tatapan tak percaya dari sepasang manik mata jennie.

Jinyoung pun bereaksi sama, ia seakan tak menghiraukan keberadaan dua wanita itu dan memutuskan untuk melangkah pergi mendahului keduanya.

Tak pernah sekali saja seulgi merasa sekecil ini di dalam hidupnya. Hanya dengan melihatnya dapat sekali ia ketahui jika jennie benar-benar nampak tertarik dengan jinyoung, bagaimana tidak? He seems like the most perfect thing ever live.

“Kajja” jinyoung tiba-tiba saja meraih pergelangan tangan seulgi dan menuntunnya untuk melangkah bersama memasuki sebuah tempat dilakukannya upacara pemakaman. Saat itu seketika sosok jennie kim tak terlihat diantara mereka, dan seulgi seakan kehabisan katanya tak percaya dengan apa yang saat ini sedang jinyoung lakukan. Namun sekali lagi, dalam hatinya wanita itu berusaha keras, berusaha untuk tidak terjatuh terlalu dalam pada situasi seperti ini.

“Ah Dokter Park, kau datang? Annyeonghaseyo” sesosok wanita dengan pakaian duka tiba-tiba saja menghampiri keduanya, memberi sapaan dan berusaha untuk mengulaskan sebuah senyum kecil di wajah lelahnya.

“Annyeonghaseyo” baik jinyoung dan seulgi keduanya ikut memberikan salam. Sesaat semuanya nampak baik-baik saja hingga kemudian baru saja seulgi sadari jika ternyata wanita itu adalah sesosok Ibu yang ditinggalkan oleh salah satu anak perempuannya yang bernama Yoon Min.

Berikutnya tanpa banyak kata seulgi dan jinyoung dengan segera melangkah menuju ke tempat dimana keduanya akan melakukan penghormatan dan doa untuk gadis kecil itu, diikuti dengan keberadaan jennie yang secara tiba-tiba sudah berada bersama kembali dengan keduanya.

Life seems sometimes like nothing more than a series of losses, from beginning to end. We are all the pieces of what we remember. We hold in ourselves the hopes and fears of those who love us. As long as there is love and memory, there is no true loss.

“Istri Dokter Park, annyeonghaseyo”

Seulgi sontak menoleh, seakan baru tersadar dari lamunannya. Wanita cantik berambut pirang yang tengah termenung menatap sebuah foto besar milik Yoon Min seorang diri itu sedikit terkejut karena sosok wanita yang sebelumnya memyambut kedatangan mereka tadi tiba-tiba saja kembali menghampirinya, “Ah annyeonghaseyo”

“Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung denganmu Kang seulgi-ssi” wanita itu tersenyum kecil, kedua matanya nampak sembab, dan wajahnya yang tak lagi muda itu nampak memucat.

“Aniya, ahjumeoni.” Seulgi nampak sungkan dan turut mengulaskan senyum kecilnya, dari bagaimana terlihat wanita itu nampak memendam kesedihannya dalam sebuah senyum, “atas apa yang terjadi pada Yoon Min, aku benar-benar menyesal”

“Tidak apa-apa, Min pasti akan sangat bahagia jika mengetahui aku berbicara langsung denganmu seperti ini” katanya lagi, dan seulgi hanya kembali dibuat tak mengerti dengan apa yang sedang ibu min utarakan kepadanya, “Sudah hampir 6 bulan lamanya Min harus tinggal di rumah sakit, awalnya ia selalu memberontak, ingin pulang ke rumah. Lalu kemudian, suatu hari ia mengatakannya padaku, ia bersedia untuk tinggal di rumah sakit lebih lama karena ia jatuh cinta pada seorang dokter bernama Park Jinyoung. Setiap hari ia selalu membicarakan mengenai dokter Park sambil tersenyum, dan ketika itu berita mengenai dokter Park yang akan segera menikah tiba-tiba saja juga ia dengar. Awalnya ku kira ia akan sedih dan kembali seperti dulu lagi, namun ternyata aku salah. Min bilang istri dari Dokter Park adalah seorang artis cantik yang ia sering lihat di layar televisi, ia bisa menyanyi dan menari dengan baik, ia selalu tersenyum dan bersikap baik dimanapun ia berada. Hingga kemudian, untuk yang pertama kali dalam kehidupannya, Min kembali berkata padaku jika Ia bersedia untuk di operasi, ia ingin segera sembuh, dan menjadi seorang bintang sepertimu”

“Walaupun hanya dalam waktu singkat,  tanpa disengaja sosokmu dan Dokter Park telah berhasil mengubah dunia Min. Aku sangat berterima kasih–“

.

.

.

“Tidak dapat kupercaya, kau benar-benar membawanya pergi bersamamu?”

“Ya! Park jinyoung!” Jennie menatap Jinyoung kesal sementara pandangan laki-laki itu kini hanya tengah mencari keberadaan seulgi yang seketika lenyap. Sebelumnya wanita itu ada terus bersamanya dan tiba-tiba saja ia menghilang.

Jinyoung sama sekali tidak lagi menghiraukan panggilan  jennie dan hanya dengan segera melangkahkan kedua kakinya menelusur tempat itu, sementara kedua matanya tak luput berusaha menemukan keberadaan seulgi, dan setelah melangkah tak jauh sosok wanita yang nampak sederhana dengan balutan semi formal serba hitamnya itu pada akhirnya berhasil menarik perhatiannya.

Kurang lebih 30 meter dari tempatnya berdiri saat ini, wanita itu nampak tengah memeluk ibu Min sambil mengulaskan senyum kecilnya dan setelah pelukan keduanya berakhir ia nampak kembali menuturkatakan beberapa kalimat yang hanya dapat jinyoung saksikan dari kejauhan. Tidak hanya wanita itu yang nampak mengulaskan senyum, Ibu Min pun melakukan hal yang sama walau sesekali dapat jinyoung saksikan wanita paruh baya itu berusaha menyeka air matanya untuk tidak membasahi kedua pipinya.

Apa yang sebenarnya sedang Seulgi lakukan? Pikir jinyoung, namun laki-laki itu seakan tak memiliki keberanian untuk meneruskan langkahnya. Setelah merenungkan semua hal yang terjadi hari ini, terdapat begitu banyak kesalahan yang ia lakukan, dan juga penyesalan yang tak termaafkan.

Nampak seulgi sudah menyelesaikan urusannya, dan begitu jinyoung baru saja hendak kembali menghampirinya, sebuah panggilan masuk terdengar dari ponsel wanita itu dan lagi-lagi jinyoung harus menghentikan langkahnya dan bertahan pada jarak dimana ia masih dapat mendengar samar hal apa yang tengah wanita itu bicarakan.

“Sungjin?”

“Aniya, aku tidak habis menangis. Suaraku terdengar seperti itu?”

“Eung, aniya. Everything’s fine. Bagaimana recordingnya? Ilhoon tidak menghubungiku jadi sepertinya kau melakukan dengan baik”

“Aku akan mencoba untuk berbicara dengan hyeri nanti, sepertinya ia snagat sibuk ia bahkan belum menghubungiku sekalipun sejak kemarin” seulgi memindah posisikan ponselnya ke telinganya yang lain, dan kemudian wanita itu nampak tersenyum kecil. Entah hal apa yang sedang laki-laki bernama Sungjin itu tengah utarakan padanya, jinyoung hanya benar-benar membencinya. Mengapa terdapat begitu banyak hal yang dapat seulgi utarakan pada laki-laki itu sementara keduamya hanya bagai membatu tiap kali berada pada situasi dimana mereka seharusnya bercakap satu sama lain.

 “Eung, hubungi aku ketika shownu oppa menghubungimu, eung?”

“Arraseo, jaga dirimu baik-baik. Annyeong” –dan pada akhirnya begitu seulgi mengakhiri panggilannya, seketika pandangan keduanya bertemu satu sama lain.

“Ada apa?” Tanya seulgi saat itu berusaha memecah renungan jinyoung yang seakan tak ada akhir.

“Kita pulang sekarang” jawabnya dan seulgi kontan mengangguk mengerti dan melangkah tepat dibelakang jinyoung.

Terkadang Jinyoung hanya benar-benar tak mengerti dengan dirinya sendiri, there were a time when his mind went to war with his heart, the fight between what he knew, what he felt, and what he had to do. Seperti saat ini, entah setiap kali berhadapan dengan seulgi ia seakan selalu kehabisan katanya, tak pernah bertahan lama untuk memandang kedua matanya, dan juga seakan tak mampu memunjukan apa yang ia rasakan.

Semuanya pasti benar-benar sebuah kesalahan, sejak awal baik dirinya dan juga kang seulgi, keduanya sudah sama-sama membuat sebuah kesalahan yang saling menghancurkan satu sama lain ketika tiba-tiba saja mereka memutuskan untuk menikah, dan seketika hal tersebut sudah benar-benar terjadi hal yang paling ditakutkan pun nampaknya mulai memberikan reaksi, hingga saat ini jarak yang sangat panjang sudah terbentang diantara keduanya dan mengenai pertanyaan yang pernah sekali Jinyoung ajukan pada Kang seulgi untuk yang pertama dan terakhir kalinya, wanita itu masih tetap diam tanpa bersedia memberikan jawabannya.

“Jennie kim, teman perempuanmu itu akan ikut pulang juga?” Seulgi tiba-tiba saja kembali bertanya sebelum keduanya sampai di tempat jinyoung memarkirkan mobilnya, namun dari sana sudah dapat keduanya saksikan sosok jennie yang tengah menunggu tepat di sebelah mobil jinyoung.

Jinyoung kontan menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik, membiarkan dirinya kala itu berhadapan secara langsung dengan sang wanita yang sejak tadi hanya terus berjalan tepat di belakangnya, “Apa kau keberatan?” Ia balik bertanya, namun sesaat menyaksikan bagaimana ekspressi wajah seulgi bereaksi dalam benaknya ia bertanya-tanya, apalah pertanyaan yang baru saja ia lontarkan terdengar berlebihan?

“Aniya. Kau bisa melalukan apapun yang kau inginkan, thats fine. Don’t mind me” seulgi dengan segera mengklarifikasi, sementara jinyoung mulai merasa jika sepertinya ada yang salah dengan dirinya. Ia merasa buruk seketika mengetahui jika hal yang ia lakukan akan sontak membuat kang seulgi merasa tidak nyaman namun bagaimana ia harus mengatasi masalah ini sekarang? Ia tidak mungkin menolak keberadaan jennie dan memgintruksikannya untuk menggunakan taksi sampai ke rumah, kan?

“Kajja–kau tak perlu memikirkan perkataanku sebelumnya, just pretend like i never ask you” kata seulgi lagi yang berikutnya tanpa menunggu jinyoung melangkah wanita itu sudah terlebih dulu mendahuluinya.

Jinyoung kembali dibuat tertegun, otaknya kini tengah berputar keras, lagi-lagi ia seakan terjebak dalam sebuah maze yang tidak terlihat dimana jalan keluarnya.

“Jinyoung-a, gomawo” kata Jennie dari jok belakang begitu pada akhirnya mereka tiba di kediaman milik Jennie setelah melalui waktu yang cukup panjang berada di mobil untuk kembali ke seoul.

Jinyoung menghela nafasnya pelan, kini ia dan seulgi kembali berada dalam situasi canggung yang sama sekali tidak dapat dihindari. Sesaat jinyoung hanya benar-benar merasa jika sepertinya terdapat hal yang salah dengan dirinya saat ini, setiap kali kedua matanya melirik sosok seulgi yang hanya duduk di sebelahnya tanpa sepatah kata apapun itu seakan terdapat bagian lain dari dirinya yang ingin berusaha untuk meraih seulgi dan mengenalnya lebih dekat. Namun pada saat yang sama terdapat sebuah ketakutan besar dalam dirinya yang setiap kali sepasang manik mata seulgi menatapnya lekat, perasaan bersalah itu muncul dan membuatnya frustasi.

“Aku akan mengantarmu pulang ke rumah, setelahnya kau tidak perlu menungguku , ada hal yang harus kulakukan nanti” putus jinyoung pada akhirnya, setelah memikirkannya lebih jauh ia rasa dirinya saat ini memerlukan waktu untuk mengembalikan kembali keadaannya seperti semula, he need some healing time.

“Mm.. aku mengerti, terima kasih” seulgi menganggukkan kepalanya dan kembali jinyoung dengan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah. Tak berlangsung lama setelahnya ponsel Seulgi tiba-tiba saja berdering lagi, dan saat itu jinyoung seakan tak dapat menyembunyikan perasaan terganggu serta ingin taunya, mengapa ponsel seulgi terus berdering all the time?

“Sungjin-a, yeobseyo”–seulgi menjawab panggilan tersebut, sementara dapat jinyoung rasakan jika sesekali kedua mata seulgi seperti sedang meliriknya sekilas.

“Eung? Really–tunggu sebentar”

“Ah, benar, shownu oppa sudah mengirimkanku sebuah pesan”

“Eung, aku mengerti”

“aniya, kau tidak perlu menjemputku, aku akan pergi kesana dengan taksi. Eung, berhati-hatilah” seulgi mengakhiri panggilannya dan kemudian pandangannya bealih pada jinyoung yang dalam diamnya tetap berusaha mendengar dengan seksama tiap kata yang wanita itu utarakan kepada laki-laki bernama sungjin di sebrang sana, “jinyoung-ssi”

“Mmm..”

“kau bisa menurunkan aku di depan sana, aku harus pergi ke suatu tempat untuk bertemu dengan seseorang” kata seulgi sembari menunjukkan salah satu tangannya pada sisi jalan di sebelah sana.

Jinyoung tak turut mengalihkan pandangannya pada arah yang seulgi tunjukkan melainkan pandangannya beralih pada wanita itu, “kemana kau akan pergi?”

“Apa kau harus mengetahuinya?”

.

.

.

tbc..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s