MAYDAY [Episode 2]

Starring Got7’s Park Jinyoung and the most beautiful Red Velvet’s Kang Seulgi

Jinyoung mengerutkan keningnya, sesaat ia turut memalingkan pandangannya pada papan iklan seulgi namun tak berlangsung lama karena nyatanya diluar sana sebuah pemandangan lain telah berhasil menyita seluruh perhatiannya hingga ia bahkan tak lagi dapat mendengar semua hal yang terus ketiga rekannya itu perbincangkan.

Apa yang ia lakukan di sana?

Red?

.

.

.

Jinyoung mulai menerka-nerka kedua sosok yang tadi baru saja melangkahkan kedua kakinya keluar dari sebuah gedung tak jauh dari tempatnya berada kini.

Sesosok laki-laki dengan sebuah kaca mata hitam, dan juga seorang wanita yang walaupun sulit untuk dikenali namun dapat sekali ia yakini adalah sosok yang sama sekali tak asing, kang seulgi. Wanita yang terus saja dibicarakan entah kapan atau dimanapun ia berada.

“Aku pergi ke toilet sebentar” kata jinyoung tiba-tiba dan tanpa mengubris respon rekan-rekannya, laki-laki berkemeja hitam yang selalu nampak tenang itu mulai melangkahkan kedua kakinya meninggalkan tempat dan berlalu.

Apa yang ia pikirkan? Atau apa yang saat ini akan ia coba lakukan? Batinnya seakan mulai beradu argumentasi dengan pikirannya. Jinyoung menyandarkan tubuhnya pada sisi tembok, dan kemudian mulai menatap layar ponselnya bimbang.

Ia membencinya. Membenci dirinya yang merasa aneh saat ini.

Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba saja tadi ia putuskan untuk pergi ke toilet walau sesungguhnya ia sama sekali tidak ingin buang air kecil ataupun besar? Semua yang ia lakukan seakan terjadi diluar kehendaknya dan yang terparah saat ini ponselnya sudah tengah melakukan panggilan pada seseorang yang seharusnya tak ia coba untuk hubungi di saat-saat seperti ini.

“Jinyoung-a, apa sesuatu terjadi?”

Laki-laki itu tak memberikan jawaban melainkan hanya kembali tertegun dalam benaknya. Ia sama sekali tidak percaya jika pada akhirnya ia akan melakukan ini–oh god, park jinyoung, apa yang kau lakukan?!

“Jinyoung-a?!”

“Aa–ah, hyung, annyeonghaseyo”

“Ada apa jinyoung? Apa ada yang terjadi? Tidak biasanya kau menelponku?” Suara laki-laki itu terdengar ramah di telinga, sementara jinyoung tengah memutar otak, memikirkan hal macam apa yang sekarang harus ia katakan pada dongjun hyung.

“Mm..kau masih bekerja? Kau dimana sekarang, hyung?”

“Aku?–eish, aku mengerti sekarang. Kau memanggilku untuk seulgi, kan?”

“Aa–apa? Aniya”

“Saat ini ia masih harus bertemu dengan Tuan ahn untuk persiapan recording. Jadwal pekerjaannya benar-benar padat–kau harus banyak bersabar, eung?” Kata dongjun lagi, namun jinyoung hanya merasa jika ia harus benar-benar mendengar suara seulgi saat itu juga entah bagaimana caranya, “hyung, biarkan aku berbicara dengannya sebentar”

“Seulgi? Saat ini ia tidak sedang bersamaku, tadi sebelum kembali ke kantor agency salah seorang temannya melakukan panggilan, ia bilang ia harus mengambil barang yang tertinggal di rumah. Jadi mereka pergi sebentar dan aku pergi duluan untuk mereschedule jadwalnya. Seharusnya kau menghubunginya langsung, kenapa kau menghubungiku?” Seketika jinyoung benar-benar merasa terganggu sekali dengan hal yang baru saja ia dengar sekaligus baru saja ia saksikan tadi dengan kedua matanya.

Lalu, apa pedulinya? Thats fine. Mungkin seulgi ingin bersenang-senang bersama laki-laki itu, haruskah ia menghubungi wanita itu sekarang juga dan menyuruhnya pulang?

Ia pasti benar-benar sudah gila jika melakukannya. Ia bahkan tidak memiliki nomor ponsel wanita itu, hows funny.

“Ck. Brengsek!” Gerutunya kesal karena tak dapat melakukan hal apapun yang kemudian setelah mengakhiri panggilannya dengan dongjun, kedua kakinya kembali melangkah menuju ke tempat dimana rekan-rekannya tengah menghabiskan makan malam mereka.

“Kau memiliki gangguan pencernaan? Kau lama sekali” jaebum menyambut jinyoung yang baru saja tiba namun rasanya saat itu jinyoung sama sekali tidak dapat bertahan lebih lama lagi menghabiskan waktunya bersama mereka, “aku pulang, kalian bisa makan apapun yang kalian inginkan. Aku akan membayar tagihannya. Sampai nanti” katanya sambil meraih mantelnya dan kemudian melangkah pergi.

“Heii jinyoung–hei!!” Seru jackson dan yang lainnya namun jinyoung sama sekali tidak berniat untuk menoleh atau bahkan berbalik.

Jinyoung melajukan mobilnya menuju ke rumah. Ada terlalu banyak hal yang mengganggunya hari ini dan hal tersebut sama sekali bukan kabar yang baik. Hingga setibanya dirumah sosok seulgi dalam sebuah pigura berukuran besar yang diambil di hari pernikahan mereka kembali membuat jinyoung menghela nafasnya frustasi.

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah satu malam dan sepertinya sama sekali tidak terdapat tanda-tanda seulgi akan pulang ke rumah, ia bahkan tidak menyampaikan sebuah pesan atau apapun sebelum memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, but kenapa ia harus memusingkan hal ini? Ia tidak peduli lagi pula–dan pada akhirnya malam jinyoung berakhir dengan berantakan dibandingkan malam-malamnya yang lain.

.

.

.

“Aku pulang” seulgi berbicara pada dirinya sendiri begitu melangkahkan kedua kakinya memasuki halaman rumah. Sudah tidak terdapat keberadaan mobil jinyoung terparkir disana dan tandanya laki-laki itu pasti sudah pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali.

Waktu sudah menunjukan pukul setengah 8 pagi, dan seulgi benar-benar tidak percaya jika ia baru pulang ke rumah di pagi hari seperti ini. Sejujurnya yang terjadi semalam benar-benar diluar keinginannya, ia baru saja menyelesaikan persiapan recordingnya bersama Tn. Ahn sekitar pukul setengah 3 pagi, dan setelahnya ia masih harus menyusun kembali jadwal pekerjaannya bersama dongjun selama beberapa saat walau kenyataannya manager barunya itu juga sudah nampak mulai mengantuk karena baru tertidur beberapa saat, dan pada akhirnya begitu tak ada lagi yang harus ia lakukan rasanya tubuhnya tak lagi sanggup ia bawa pergi bahkan walau hanya untuk pulang ke rumah, so seulgi putuskan untuk tidur sebentar di practice room.

Begitulah ceritanya hingga kini wanita berambut pirang itu baru bisa kembali pulang walau hanya sebentar dan untuk mempersiapkan beberapa hal yang ia perlukan untuk sederet pekerjaannya hari ini.

Berikutnya seulgi nampak menghentikan langkahnya tepat di depan meja makan, ia saksikan  tidak terdapat sedikitpun jejak jinyoung di sana,  yang menandakan jika sepertinya laki-laki itu pergi ke rumah sakit dengan melewatkan sarapannya.

Ini buruk atau mungkin buruk sekali. Satu hari baru saja berlalu sejak seulgi memulai kembali aktivitasnya dan pada saat yang sama ia sudah melalaikan pertanggung jawabannya kepada tuhan seperti ini? Kang seulgi kau benat-benar berdosa sekarang, ringisnya dalam hati yang kemudian dengan segera wanita itu meraih apronnya dan berlari menuju kulkas untuk mempersiapkan sesuatu.

“Seulgi, aku akan menjemputmu pukul 9. Bersiap-siap, oke?” Suara dongjun terdengar dari sebrang sana, sementara seulgi yang masih menyibukkan kedua tangannya di dapur hanya bisa mengangguk dan bekerja lebih cepat lagi.

Pukul setengah 9, dan wanita itu pada akhirnya baru menyelesaikan pekerjaannya di dapur dan dengan segera berlari menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Hari ini ia akan memulai pekerjaannya dengan melakukan fitting pakaian untuk sebuah cf, lalu melakukan pengambilan gambar untuk cf tersebut setelahnya, setelahnya ia harus pergi menemui ilhoon di studionya untuk persiapan recording bersama Sungjin. Such ungrateful day but she loves it. Seulgi menyukai semua pekerjaan yang ia lakukan sejak dulu hingga saat ini.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk seulgi bersiap-siap hingga kemudian perhatiannya teralihkan pada papan jadwal kegiatan mereka di sisi dinding. Tanpa ia sadari papan tersebut terbagi atas dua sisi, sisi jinyoung, dan sisinya. Berkebalikan dari sisi milik jinyoung, bagian sisinya masih terlihat kosong. Sesungguhnya seulgi hanya benar-benar bingung, haruskah ia menuliskan semua jadwalnya pada bagian papan yang sempit ini? Pikirnya, namun tak berlangsung lama karena pandangannya kembali tertuju pada sisi milik jinyoung.

Tulisan jinyoung memang tidak cantik, namun terlihat sangat rapi dan teratur. Secara berurutan laki-laki itu menuliskan jadwal jaganya selama 1 minggu ini, jadwal operasi plus nama pasien dan jam pelaksanaannya , beserta kegiatan tambahan lainnya seperti waktu lembur atau pertemuan di akhir minggu. Well, ini baik menurut seulgi, shes mean dengan ini ia bisa mengetahui hal-hal apa saja yang akan jinyoung lakukan walau mungkin sepertinya ia sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini but tetap saja, thats great dan mungkin ia harus mulai mengisi bagiannya yang masih kosong saat ini.

“Kurasa sebaiknya kau yang pergi memberikannya, bukankah ia akan merasa lebih senang?” Dongjun menoleh pada seulgi berusaha memberikan kembali kesempatan pada wanita itu untuk menyerahkan bekal makan pagi dan siang yang sudah dibuatnya untuk jinyoung tadi secara terburu-buru.

Seulgi memutar otaknya nyaris terbuai dengan tawaran cantik managernya karena bagaimanapun melihat jinyoung saat ini akan benar-benar membuatnya merasa baik namun–tidak, jika ia melakukannya maka tandanya ia sudah gila.

“Tidak. Kau saja oppa, tolong aku, eung? Junyoung tidak akan menyukainya jika harus melihatku di saat-saat seperti ini” putusnya kemudian dan berhasil membuat dongjun menatapnya heran karena sepertinya kenyataannya tidak seperti itu, “wae? Apa kalian bertengkar?”

“Aniyaa. Hanya saja–hanya melakukannya untukku oppa–please”–dan pada akhirnya dongjun oppa yang baik hati itu menyerah dan dengan senyum ramahnya ia mulai turun dari mobil dan melangkah masuk menuju ke bagian dalam rumah sakit. Well, laki-laki itu melakukannya untuk kang seulgi, dan juga teman baiknya park jinyoung.

.

.

.

Jinyoung masih nampak tengah memperhatikan hasil foto rontgen salah seorang pasiennya dengan teliti ketika tiba-tiba saja seorang juniornya mengetuk pintu ruangannya dan segera masuk menghampiri sambil membawa sebuah map berisi rekam medis.

“Dr. Park, maaf mengganggu waktumu. Aku Jung Jaehyun yang bertanggung jawab atas pasien Kim Sooah di ruang Pra bedah 209, karena waktunya sempit aku ingin mengkonsultasikan secara langsung padamu mengenai keadaannya, apa kau bisa membantuku?” Laki-laki itu nampak sedikit ragu karena sosok jinyoung yang terlalu tenang benar-benar membuat suasana di antara keduanya terasa awkward.

Jinyoung meliriknya sekilas dan kemudian mengangguk, mempersilahkan jaehyun untuk duduk dan mulai berbicara.

Tanpa terasa perbincangan diantara keduanya telah berlangsung cukup lama hingga pada akhirnya kesimpulan yang didapatkan yaitu bahwanya jinyoung harus menambahkan satu nama lagi dalam list pasien operasinya lusa.

“Aku akan melakukan visit langsung padanya, kau bisa meninggalkan rekam medisnya di mejaku, aku akan membacanya sebentar dan setelahnya aku akan mengembalikannya padamu” kata jinyoung lagi sebelum laki-laki itu bangkit dari posisinya untuk segera melakukan visit pada pasien yang dimaksud.

“Baiklah Dr. Park, terima kasih. Saran yang kuterima dari Dr. Jennie Kim untuk menemuimu benar-benar tidak salah. Terima kasih, aku akan meninggalkan rekam medisnya di sini” jaehyun ikut bangkit dari posisinya dan setelah perbincangan keduanya berakhir jinyoung dengan segera melangkah pergi.

Jennie kim? Jadi wanita itu yang berhasil membuatnya harus lembur lusa nanti. Baiklah, ia hanya akan melakukannya tapi bukankah ini akan sedikit berat mengingat keadaan Yoon Min salah satu pasiennya yang harus dioperasi pada hari yang sama sangatlah rentan dan beresiko–but yeah, ia hanya harus memastikan kembali keadaan mereka saat ini.

“Dokter Park Jinyoungieee, annyeonghaseyo” sapa salah seorang anak perempuan ceria berusia sekitar 8 tahun begitu jinyoung baru saja melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam ruangan itu.

“Yoon Min-a, annyeong. Bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau menghabiskan sarapan pagimu?” Jinyoung mengulaskan sebuah senyum hangat pada anak perempuan itu, entah mengapa hanya dengan melihat tersenyum dan bersemangat seperti ini seluruh lelahnya seakan menghilang seketika.

“Aniyaa, Dokter Park saat ini aku tidak ingin membicarakan hal itu padamuuu” anak perempuan itu nampak menggelengkan kepalanya cepat, wajah pucatnya  mengulaskan sebuah senyum lebar sementara kedua tangannya yang masih terpasang infus line mulai berusaha meraih lengan jinyoung untuk mendekat, “sebelumnya aku mengatakan pada dokter jennie kim jika aku sangat menyukai dokter park dan setelah operasinya selesai aku akan mengajakmu berkencan–tetapi dokter jennie kim bilang jika saat ini kau sedang bersedih dan aku harus menghiburmu–dokter park apa kau ingin mendengarku bernyanyi agar kau tidak bersedih lagi?” Ujarnya manis, dan sontak kala iti jinyoung benar-benar tak dapat lagi menyembunyikan senyumnya.

“Min-a, aku baik-baik saja dan aku tidak bersedih–lihat, aku tersenyum, kan?” Jinyoung berusaha melebarkan senyumnya namun anak perempuan itu tetap menggelengkan kepalanya, “tidak dokter park, kau nampak bersedih–aku akan tetap bernyanyi untumu” putusnya keras kepala.

Jinyoung memutar otaknya, memperhatikan lekat-lekat keadaan umum anak perempuan itu dari ujung kepala hingga ujung kakinya, “baiklah–call. Aku akan mendengarmu bernyanyi tetapi dengan satu syarat–oke?”

“Aahhh tidakkk, shireoo”

“Ayolah, kau hanya perlu menjawab beberapa pertanyaanku, eung?”

“Shireooo”

“Apa kau makan dengan baik tadi pagi?” Tanya jinyoung tanpa menghiraukan penolakan yang ia terima hingga pada akhirnya anak perempuan itu mulai bersikap kooperatif dan membiarkan jinyoung melakukan pemeriksaan terlebih dahulu  sebelum menyanyikannya sebuah lagu yang manis sekali.

.

.

.

“Dokter Park, seorang pria bernama Kim Dongjun menitipkan  ini untukmu padaku tadi” salah seorang staff di bagian administrasi tiba-tiba saja menghampiri dan menyerahkan sebuah paper bag berukuran cukup besar pada Jinyoung yang baru saja menyelesaikan visitnya dan bersiap untuk kembali ke ruangan.

“Kim dongjun? I see, terima kasih” jinyoung meraih paper bag itu dan kemudian melangkah pergi.

Begitu ia kembali tiba di ruangan seluruh perhatiannya jatuh pada paper bag tersebut. Kim dongjun? Dan sesaat benaknya dipenuhi oleh sosok kang seulgi. Well yeah mungkin wanita itu pada akhirnya menyerahkan ini sebagai bentuk penyesalannya karena tidak pulang kerumah atau karena berbohong untuk pergi bersama dengan laki-laki lain atau bisa saja karena ia benar-benar peduli? Entah alasan mana yang menjadi tujuannya jinyoung hanya benar-benar sama sekali tidak memiliki keinginan untuk berterima kasih kepadanya.

“Woahh apa ini?!! Kang seulgi yang membawakannya untukmu?!” Tiba-tiba saja jackson muncul entah dari mana, laki-laki hyperactive itu dengan segera meraih paper bag di hadapan jinyoung dan dengan gesit mengeluarkan isinya satu per satu.

“Kau bisa mengambilnya jika kau mau” kata jinyoung hingga membuat jackson menatapnya tak percaya selama beberapa saat dan kemudian melebarkan senyumnya senang sambil menarik sebuah kursi mendekati posisi meja, “call. Kau akan menyesal–you cant take it back” ia kemudian bersenandung senang. Sementara itu jinyoung hanya benar-benar tidak peduli sampai kemudian hal yang jackson lakukan berikutya berhasil membuatnya frustasi, “Ya! Kenapa kau harus makan di ruanganku–dan siapa yang mempersilahkan kau menyalakan televisinya?!” Gerutunya kesal.

Jackson melirik jinyoung sesaat namun segera beralih sambil bergumam, “Pendingin ruangan di tempatku sedang bermasalah, ayolah aku hanya akan disini sampai jam makan siang berakhir–oh god daebak, i love this kind of fruity salad with yoghurt”

Jinyoung menatapnya kesal hingga pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya pada layar televisi hingga kemudian sosok seulgi tiba-tiba saja muncul di sana, “ah shit, kenapa ia selalu muncul dimana-mana” gumamnya pelan, namun sepertinya jackson dapat mendengar gumaman itu samar, “sepertinya belakangan ini kau terlalu banyak mengeluh park jinyoung–jika kau tidak menyukainya hanya membuat kang seulgi menjadi istriku, aku sama sekali tidak keberatan” jackson berkomentar.

Jinyoung tidak memberikan respon apapun, sesaat kedua matanya melirik jackson lekat entah dengan maksud macam apa, namun sekejap seluruh perhatiannya jatuh pada sosok seulgi yang sepertinya tengah berada pada sebuah acara radio dimana ia harus melakukan wawancara mengenai comebacknya kali ini.

Kang seulgi, wanita itu tidak secantik seperti yang selalu rekan-rekannya katakan. Rambut panjangnya yang kini berwarna pirang memang terlihat sedikit attractive tetapi tetap saja, lalu senyumnya? Ia benar-benar biasa saja menurut jinyoung. Suara indahnya? Jinyoung rasa suara milik kang seulgi tidak seindah seperti yang dibicarakan, sudah lebih dari satu bulan ia harus selalu mendengar wanita itu bersenandung setiap pagi harinya namun ia sama sekali tidak menemukan sesuatu yang special–ah mungkin tersisa satu hal yang memang ia rasa sesuai dengan kenyataan, kang seulgi benar-benar sangat baik ketika menari, hanya itu.

“Woah, ia bahkan berbicara dengan baik sekali–kau harus mempertemukanku dengannya Park” lagi-lagi jackson kembali berkomentar dan jinyoung hanya mendelik, “kau sudah selesai? Sebaiknya kau segera meninggalkan ruanganku”

“Waee? Kenapa kau marah sekarang?”

“Hanya meninggalkan ruanganku sekarang, ada banyak hal yang harus kulakukan and youre here distrub me” ujar jinyoung lagi sama sekali tidak menghiraukan entah apa yang akan jackson pikirkan mengenainya.

Jackson berdecak dan kemudian membenahi bekal yang kini sudah menjadi miliknya itu ke dalam paper bag dan dengan segera beranjak dari posisinya, “youre such the sensitive one, park. I leave, sampaikan terima kasihku pada seulgi”

Sensitive? Jinyoung thinks he’s not. Bukankah semua orang juga seperti itu? Well, ia memang tidak terlalu mengenal banyak orang terlebih lagi dengan kenyataan bahwa sesungguhnya ia bahkan belum cukup lama  tinggal di seoul. Namun kalimat yang mengatakan jika ia merupakan seseorang yang begitu sensitive bukanlah pertama kalinya ia dengar, kang seulgi bahkan juga pernah mengatakan hal yang serupa kepadanya.

Beberapa hari setelah pada akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan seulgi. Sepengetahuannya seulgi bukanlah tipikal wanita yang banyak bicara seperti jaebum, atau wanita yang selalu hyperactive seperti jackson, jika dibandingkan dengan ketiga rekannya seulgi lebih mendekati sosok youngjae, tenang dan tidak banyak bicara hanya saja–kemanapun kedua kaki wanita itu melangkah atau entah hal macam apa yang ia lakukan, ia selalu membawa senandung kecilnya bersama tanpa mengenal tempat ataupun waktu. Pernah sekali jinyoung mengatakan kepada seulgi jika senandung miliknya membuatnya merasa terganggu dan berharap jika ia dapat berhenti melakukannya namun yang ia terima sebaliknya hanyalah sebuah pernyataan jika sebagai seorang laki-laki ia tak seharusnya menjadi begitu sensitive hanya karena sebuah senandung kecil, oh shit.

Kang seulgi

Kang seulgi

Kang seulgi, ada terlalu banyak hal misterius mengenai wanita itu menurut park jinyoung. Bagaimana secara tiba-tiba ia memutuskan untuk masuk dalam kehidupannya pun hingga saat ini belum juga jinyoung temukan jawabannya. Untuk sebelum-sebelumnya, jinyoung bahkan tak pernah mengetahui jika seulgi adalah seorang yang begitu terkenal, seorang dewi yang selalu didambakan oleh hampir setiap laki-laki yang mengetahui keberadaannya. Ia sama sekali tidak mengenalnya, wanita itu, namun adakalanya suatu ketika ia merasa jika sosoknya sama sekali tak asing.

Ini aneh, karena pada dasarnya seorang park jinyoung bukanlah sesosok laki-laki seperti yang seringkali muncul dalam drama-drama televisi, ia tidak pernah kehilangan ingatannya atau hal semacam itu jadi rasanya seperti tidak masuk akal ketika ia sama sekali tidak mengenalnya namun sosoknya sama sekali tak asing.

Seperti sebelumnya, hari yang Jinyoung lalui telah berlalu dengan begitu cepat. Lagi-lagi tak dapat ia temukan keberadaan seulgi di rumah ketika ia mengerjapkan kedua matanya di kala pagi menjelang. Namun ada yang sedikit berbeda dari hari sebelumnya, begitu ia melangkah keluar dapat jinyoung temukan jejak seulgi yang entah kapan ia kembali, jinyoung sendiri bahkan sama sekali tidak mengetahuinya.

Beberapa potong pancake dengan maple syrup, segelas coklat panas dalam wadah penghangat, dan juga semangkuk salad buah dengan yoghurt yang sebelum-sebelumnya selalu dapat jinyoung temukan diatas meja setiap paginya.

Jinyoung menatap pemandangan itu lekat-lekat hingga kemudian laki-laki itu hanya merasa kesal entah pada dirinya sendir atau bahkan pada sosok seulgi yang sama sekali tidak berniat menujukkan wajahnya selain melalui layar kaca televisi.

Apa ia melarikan diri?

Apa ia mencoba untuk tidak ditemukan dan perlahan menghilang?

Apa ia mulai menganggap rendah dirinya sekarang?

Jinyoung terus memutar-mutar kemungkinan terburuk dalam benaknya hingga pada akhirnya hal yang tak baik kembali terjadi, moodnya mulai berantakan, dan seluruh nafsu makannya menghilang seketika.

.

.

.

“Seul–kau mau terus mengulangnya sampai kapan?” Ilhoon terdengar berbicara di sebrang sana begitu sekali lagi entah mengapa seulgi kembali melakukan kesalahan dalam proses recording single terbarunya bersama Sungjin.

Wanita itu tidak nampak baik, kedua mata lelahnya menatap ilhoon penuh penyesalan, “maafkan aku jung, aku akan melakukan yang terbaik kali ini, eung?” Pintanya, berusaha meyakinkan sang produser jika proses recordingnya hari ini akan segera selesai.

“Should we take a break for a while? Aku tau, kau sepertinya kelelahan seul–kau bisa pingsan jika terus memaksakan diri seperti ini. Suaramu hampir habis” ilhoon berujar lagi mengisyaratkan agar seulgi keluar sebentar dari ruang recording, namun sayangnya wanita itu mengelak, ia menolak untuk menghentikan prosesnya hingga pada akhirnya proses recording kembali dilanjutkan.

“Greatt! Ini yang terbaik–Ya! Kenapa kau tidak melakukan yang seperti ini sejak tadi Kang Seull?!” Ilhoon menghela nafasnya panjang dan begitu wanita berambut pirang itu beranjak keluar pandangan keduanya bertemu, “Apa ada yang harus kau lakukan besok pagi? Kau terus memaksaku untuk melakukan recording ini sampai tuntas hanya dalam waktu semalam–kau beruntung karena aku adalah produser yang sangat baik” kata ilhoon lagi.

Seulgi hanya nampak meringis sambil menempati posisi sofa tepat di hadapan laki-laki itu, sekilas pandangannya beralih pada sebuah jarum jam yang terpajang di sisi dinding, “sudah hampir jam 4 pagi? Kenapa waktu begitu cepat? Kurasa aku harus segera pulang, adakah hal lain yang harus kulakukan?”

“Untuk saat ini tidak, kau bisa pulang sekarang. Sekitar 5 jam lagi Sungjin akan melakukan proses recordingnya, jika aku menemukan hal yang janggal antara suaramu dan Sungjin maka dengan terpaksa sekali aku akan memanggilmu kembali, you’re fine with that?” Seulgi mengangguk setuju dan kemudian wanita itu dengan segera bersiap-siap.

Suasana di studio ilhoon terbilang sudah sangat sepi, terdapat banyak lampu disana namun sang produser nampak tak terlalu menyukai hal yang menyilaukan hingga tanpa seulgi sadari suasana yang ditimbulkan benar-benar berhasil membuatnya merasa kantuk sejak awal dan kini ia harus kembali, pulang ke rumah pada akhirnya.

“Kajja, i’ll take you home”

“Kau tak perlu melakukannya, aku akan pulang naik taksi”

Ilhoon tidak menghiraukan perkataan seulgi dan dengan segera turut meraih mantel dan kunci mobilnya dari dalam laci, “jung, kau tidak perlu melakukannya. Sebaiknya kau tidur, kau sudah bekerja keras untukku malam ini. Gomawoo” kata seulgi lagi yang nampaknya sia-sia karena jung ilhoon sama sekali bukan tipikal laki-laki yang akan mendengar perkataannya.

Seulgi dan ilhoon sudah berada di dalam mobil, keduanya mulai menelusur sepanjang jalan kota seoul yang sudah nampak sangat-sangat sepi. Salju pertama memang belum turun tetapi udara menjelang musim dingin sudah mulai benar-benar dapat dirasakan.

“Apa yang sedang hyeri lakukan? Kudengar kemarin ia terbang ke jepang untuk shooting dramanya” seulgi mulai berbicara berusaha memecah keheningan, karena jika hal itu terjadi dalam waktu lama akan sangat membahayakan keduanya terlebih lagi sama sepertinya ilhoon juga pasti sudah mulai kelelahan.

“Entahlah” ilhoon memberikan respon yang sama sekali seulgi tidak harapkan terucap dari mulut laki-laki itu, “ada apa?” Tanya seulgi kemudian.

Ilhoon menghela nafasnya dan kemudian melirik seulgi sekilas, “kau mengetahuinya seul, kadang semua hal yang terjadi tidak selalu seperti yang diharapkan”

“Kalian bertengkar?”

“Aku membuatnya menangis” kata ilhoon lagi dan pada saat yang sama seulgi merasakan sesuatu mengiris lubuk hatinya yang terdalam.

Setelahnya seakan tak terdapat kata lainnya dapat seulgi maupun ilhoon ungkapkan, tak satupun dari keduanya berniat untuk melangkah lebih jauh karena bagaimanapun selalu terdapat hal yang jauh lebih baik untuk dirasakan seorang diri.

Seulgi tenggelam dalam renungan sunyinya. Seketika dapat ia temukan sosok park jinyoung mulai memenuhi seluruh benaknya. Sudah hampir 3 hari berlalu dan hingga saat ini ia belum juga sekali saja melihat bagaimana keadaan laki-laki itu secara langsung.

Apa yang sedang ia lakukan?

Apa yang sedang ia pikirkan sekarang?

Bagaimana keadaannya?

Atau hal lainnya yang bahkan selama ini tak pernah berhasil ia ucapkan kepada laki-laki itu jauh dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.

Dalam sekejap seulgi juga seakan kembali teringat dengan pertanyaan yang sebelumnya ilhoon ajukan padanya tadi dan dengan sangat menyesal ia sama sekali tidak berniat untuk mengatakan hal apapun kepada laki-laki itu.

“Apa ada yang harus kau lakukan besok pagi? Kau terus memaksaku untuk melakukan recording ini sampai tuntas hanya dalam waktu semalam–“

Apa yang sebenarnya ingin seulgi lakukan?

Berdasarkan jadwal yang ditulis jinyoung, kemarin jinyoung memiliki jadwal operasi yang cukup padat, hingga kemungkinan ia harus lembur malam ini dan juga–rasanya semua hal yang ia lakukan terasa tak cukup baik karena dihari setelah ia pulang ke rumah di saat jinyoung masih terlelap dan ia harus dengan segera pergi kembali saat laki-laki itu belum membuka matanya seulgi sadari jika sepertinya jinyoung sama sekali tidak menyentuh hal apapun yang ia hidangkan di atas meja makan dan pada hari berikutnya hal yang sama juga terjadi. Adalah sebuah kebohongan apabila seulgi mengatakan jika ia baik-baik saja dengan semua hal yang terjadi  karena bagaimanapun ia telah berusaha melakukannya namun entah seberapa besar usahanya rasanya–yeah, karena itu hanya untuk hari ini ia telah putuskan untuk menyelesaikan proses recording yang seharusnya dapat ia selesaikan hingga hari berikutnya.

“Berhati-hatilah. Jika terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku” seulgi menoleh pada ilhoon sekali lagi sebelum pada akhirnya wanita itu beranjak turun dari dalam mobil.

Berikutnya setelah memastikan kepergian ilhoon, dengan segera seulgi melangkahkan kedua kakinya menelusuri halaman rumah cantiknya yang kala itu nampak cukup gelap. Namun di sela-sela itu dapat ia ketahui jika sepertinya jinyoung sudah tiba di rumah dikarenakan mobil milik laki-laki itu sudah terparkir di halaman.

Bip.. bip… bip.. bip…

Cklek..

“Aku pulang”

.

.

.

“Aku pulang”

Seulgi menghentikan langkahnya sesaat dan kemudian wanita itu kembali melangkah setelah memastikan jika pintu rumahnya sudah tertutup rapat.

Sama seperti sebelum-sebelumnya, suasana di dalam rumahnya kala itu sepi sunyi. Jinyoung mungkin sudah tidur terlelap karena kelelahan–bayangkan saja ia harus lembur dikarenakan entah bagaimana pasien operasinya bertambah satu, yeah setidaknya seulgi dapat mengetahui hal tersebut berdasarkan jadwal yang telah jinyoung tuliskan pada whiteboard.

Seketika seulgi kembali menghentikan langkahnya menuju ke ruang tengah begitu di hadapannya kini dapat ia saksikan bagaimana terdapat begitu banyak pecahan benda pecah belah berserakan di lantai–degub jantungnya perlahan mulai berpacu cepat sementara kedua matanya kontan berusaha menemukan satu titik yang bagaikan gemuruh petir dikala hujan berhasil membuatnya mematung dalam diam dan rasa sakit.

“Jin..young..” lirihnya begitu pelan, bibirnya seakan terus memaksa untuk mengunci namun dalam hatinya berusaha untuk menjerit kala itu, “jinyoung, apa yang terjadi?” Ia kembali berucap pelan dan lirih, tubuh lelahnya mulai bergetar hebat tak kuasa tatkala sepasang manik mata gelap milik jinyoung berhasil membawanya pada luka di masa lalu.

“JANGAN MENDEKAT!”

.

.

.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s