Another Me!

cover ilhoon copy

 

Jung Ilhoon

x

Lee Hyeri

.

.

.

“Melakukannya untukku, eung? Eung?”

“Geurae”

“Really?”

“Yeah—bagaimanapun Kau sudah menjadi anak yang baik belakangan ini, maka Aku hanya akan melakukannya untukmu”

.

.

.

.

“Choa!”

“Choa!”

Laki-laki itu, Jung Ilhoon berlari kecil seraya melirikkan kedua matanya pada setiap sudut tempat itu, berusaha untuk mencari keberadaan anjing kecilnya yang baru saja lepas karena tak sabar menunggu untuk diajaknya berjalan-jalan sore.

“Choa!” Serunya lagi, namun ketika itu langkahnya tiba-tiba saja terhenti dalam sekejap, dan seluruh perhatiannya kini terjatuh pada sosok Choa yang tengah bersama dengan seorang wanita berambut pendek tepat di depan pintu gerbang tempat itu, “Choa?”

“Choa?” Wanita berambut pendek itu mengandai-andai, masih dengan memperhatikan sosok anak anjing yang kini berada tepat di hadapannya itu, dan sesaat pandangannya beralih pada sosok Ilhoon yang masih menatapnya aneh, “Lama tidak berjumpa, Ilhoonie”—dan Lee Hyeri sang wanita berambut pendek yang dimaksud itu nampak mengulaskan sebuah senyum.

Hyeri benar-benar tak dapat lagi menyembunyikan bagaimana perasaan senangnya saat ini, ketika kini Ilhoon menjadi seseorang pertama yang berhasil Ia temui semenjak kedatangannya ke Korea pagi tadi, dan rasanya ingin sekali Ia kali ini berlari dan memeluk sosok laki-laki itu dan mengatakan bahwa Ia sangat merindukannya sekarang juga, namun dari bagaimana Ilhoon menatapnya kini Hyeri hanya dengan terpaksa harus mengurungkan niatnya tersebut, “Kau?! Wae?! Wae?! Apa yang terjadi? Kenapa Kau berada di sini? Bukankah seharusnya Kau berada jauhhh di sana?!” Ilhoon seakan baru mendapatkan kembali kesadarannya setelah mengerjap selama beberapa kali, dan tiba-tiba saja sosok Hyeri seakan benar-benar menjadi begitu menakutkan di matanya, setidaknya itulah yang Hyeri pikirkan dalam benaknya saat itu.

Wae?! Eisshh—kau kira, aku tidak akan pernah kembali lagi?!” Hyeri berdesis sebal pada Ilhoon, dan kemudian tanpa menghiraukan gurauan Ilhoon yang lainnya Ia hanya segera menunduk dan berusaha untuk menggendong seekor anak anjing manis bernama Choa itu, namun lagi-lagi Ilhoon harus kembali membuatnya berpaling dan menatapnya sebal, “Wae?! Aku tidak akan membawanya pulang!”

“Tidak! Tidak! Kembalikan Choa padaku sekarang! Kau sangat berbahaya” Ilhoon menggelengkan kepalanya, dan kemudian melangkah cepat menghampiri Hyeri atau mungkin Choa lebih tepatnya, dan berikutnya dengan segera pula mengambil alih segala hak Choa kini di tangannya, “Aku tidak akan menyerahkan Choa padamu, Lee Hye—“

“Hyeri-a?!”

Hyeri memalingkan sedikit pandangannya dan tanpa menghiraukan lagi segala gerutuan Ilhoon berikutnya, Ia hanya segera melangkah menghampiri sosok Bomi yang kini terlihat dari balik pintu, “Bomi Eonnie!” Serunya senang, ketika pada akhirnya setelah hampir 1 setengah tahun Ia kembali dapat bertemu lagi dengan Bomi.

“Apa yang Kau lakukan di sana? Seharusnya Kau segera masuk, kan? Kajja! Kajja! Kami semua sudah menunggumu sejak tadi” Bomi nampak melambaikan salah satu tangannya, dan tanpa ragu Hyeri hanya semakin mempercepat langkahnya, meninggalkan sosok Ilhoon yang masih berdiri mentapanya dari luar sana bersama Choa.

“Aku merindukanmu, Eonnie” Ujar Hyeri berikutnya seraya memeluk erat Bomi, dan kemudian setelahnya Ia hanya melirik sosok Ilhoon yang masih hanya menatapnya aneh, “Ilhoon membuatku harus menghabiskan banyak waktu bersamanya~”

“YA!! Aku tidak melakukannya!!” Seruan keras Ilhoon kemudian terdengar, membuat Hyeri hanya tak bisa menahan senyumnya, menurutnya Ilhoon hanya tak berubah sedikitpun semenjak itu, dan hal itulah yang membuat Hyeri pula tak pernah bisa berhenti untuk menyukainya, sementara Bomi hanya ikut memalingkan pandangannya pada sosok Ilhoon yang nampaknya sudah tak mau lagi memusingkan hal barusan dan memutuskan untuk segera memulai langkahnya bersama Choa, “Ya! Jung Ilhoon! Kau harus segera kembali, eung?!” Seru Bomi, yang berikutnya hanya mendapatkan sebuah gelengan kepala Ilhoon dari kejauhan.

.

.

.

“Jadi, Kau tidak akan kembali lagi ke Jepang?” Tanya Sungjae untuk yang kesekian kalinya, dan lagi-lagi Hyeri hanya terus mengangguk seraya memukul lengan laki-laki itu pelan, “Ya! Kau ingin Aku kembali lagi ke Jepang?” Hyeri bergurau dan kemudian memecah tawanya.

Sesaat Hyeri seakan merasa jikalau dirinya tak pernah benar-benar pergi meninggalkan tempat ini. Sudah hampir 1 setengah tahun Ia pergi, namun tak sedikitpun perubahan berarti yang dapat Ia temukan di tempat ini, sebuah rumah sederhana yang menghadap tepat ke arah sungai Han itu benar-benar selalu mereka jadikan tempat untuk bernanung, menghabiskan waktu, berlatih menari, dan juga bersenang-senang. Entah sejak kapan, Hyeri benar-benar telah melupakannya, satu-satunya yang teringat hanyalah bagaimana pada saat berada di sekolah menengah dulu secara tidak sengaja Ia hanya menjadi begitu akrab dengan Bomi yang kemudian segera membawanya masuk ke dalam dunia pertemanan yang begitu berharga serta menempatkannya pada sebuah perasaan yang mendalam terhadap salah seorang laki-laki manja seperti, Jung Ilhoon.

“Kau sudah bertemu Ilhoon?” Kini giliran Minhyuk yang mengajukan pertanyaan.

Hyeri mengandai-andai sesaat dan kemudian mengangguk, “Yeah—tapi sepertinya Ia tidak nampak senang ketika melihatku”

“Ayolah, Hyeri, jangan memikirkannya. Kau tau, kan? Harga diri Ilhoon benar-benar tinggi, Ia mungkin hanya akan menahannya ketika seharusnya Ia merasa senang akan kedatangannmu” Jelas Bomi yang tiba-tiba saja hadir kembali dengan sebuah nampan berisikan beberapa buah cupcakes.

“Anak itu memang hanya tak pernah bisa menjadi dewasa sepertinya” Minhyuk berkomentar, dan berikutnya seluruh pasang mata mereka tiba-tiba saja beralih menatap hal lain, “Siapa yang tak pernah bisa menjadi dewasa?” Ilhoon tiba-tiba saja muncul dari balik pintu, dan kemudian segera berlari menuju ke arah meja ketika kedua matanya menangkap beberapa buah cupcakes tergeletak di sana, “Choa, lihat! Apa yang terjadi hingga terdapat cupcakes di si—YA! Kenapa kau masih ada di sini?!” Perhatiannya kini beralih pada Hyeri.

“Wae?! Kau kira tempat ini rumahmu?!” Hyeri yang nyaris terkejut, lalu berdesis pada Ilhoon. Setidaknya tak bisakah laki-laki ini hanya bersikap baik kepadanya? Batin Hyeri.

“Ya! Tidak bisakah Kau menunjukan perasaanmu sedikit saja terhadap Hyeri, Jung Ilhoon?!” Kali ini komentar yang baru saja Minhyuk tujukan pada Ilhoon berhasil membuat kedua pasang mata itu terfokus pada hal yang sama, Ilhoon menatap Minhyuk frustasi sementara Hyeri hanya bisa meringis ketika mendengarnya.

“Benar, dan lagi karena Hyeri juga tak akan lagi kembali ke Jepang, mengapa kalian hanya tidak kembali berkencan?” Tambah Sungjae kali ini yang sontak membuat Hyeri maupun Ihoon segera terjun ke dalam jurang, “YA! Yook Sungjaee!” Hyeri nyaris frustasi dengan keadaan ini dan berikutnya hanya memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya pada sofa dan tak mau lagi peduli dengan apa yang mereka katakan.

Sebaliknya, Ilhoon tak nampak memberikan reaksi yang berlebihan menanggapi kalimat yang baru saja Sungjae katakan karena sejujurnya terdapat hal lain yang lebih dan lebih menarik perhatiannya kini, seraya meraih sebuah cupcake dan kemudian mengambil posisi duduk tepat di sebelah Hyeri, sepasang mata Ilhoon pada akhirnya hanya kembali menatapnya aneh, “Apa lagi sekarang? Jadi, kau hanya tidak akan kembali lagi ke jepang?”

Hyeri terdiam sesaat, pertanyaan yang baru saja Ilhoon ajukan sesungguhnya benar-benar berhasil membuatnya terenyak dalam diam, namun sejak awal Ia hanya sudah mempersiapkan diri dan berusaha untuk tidak menghiraukannya, “Benar. Wae?! Kau takut jika aku terus berada di sini maka Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi, Eoh?!” Kali ini ucapan Hyeri barusan berhasil menarik seluruh perhatian pasang mata yang senantiasa berada di tempat itu.

Sungjae, Bomi, dan Minhyuk saling memandang dan menanti dalam diam, mengandai-andai hal macam apa yang akan Ilhoon katakan selanjutnya dan bersiap siaga untuk segera menghentikan perdebatan ini sebelum keduanya akan benar-benar saling mendorong ke dasar jurang.

Pada awalnya Ilhoon tak nampak memberikan jawaban apapun namun setelah kedua matanya mengerjap beberapa kali, Ia hanya kemudian mendesah frustasi, “Haahh! Apa-apaan ini? Aku hanya benar-benar berharap untuk tidak bertemu lagi denganmu”

“Sayang sekali, cutie pie” Hyeri merubah sedikit posisi duduknya, dan kemudian kedua pasang manik mata mereka kembali bertemu satu sama lain, “Kita hanya akan selalu bertemu, karena hal itu memang menjadi salah satu dari sekian banyak tujuanku kembali ke Korea , so? Be ready, stupid liar”

.

.

.

“Hyeri?”

“Eung?” Hyeri memalingkan pandangannya kini pada sosok Bomi yang berada di balik kemudi tepat di sebelahnya. Waktu sudah hampir menunjukan pukul setengah Sembilan malam ketika setelah hampir menghabiskan waktu yang cukup lama berada di tempat itu, Hyeri kemudian hanya memutuskan untuk pulang ke apartmentnya, tempat yang sepertinya mulai hari ini akan menjadi saksi dari sisa kehidupannya.

Bomi berdeham pelan, dan kemudian melirik Hyeri lagi sekilas, “Apa sikap kekanakan Ilhoon tadi membuatmu merasa buruk?” Tanyanya hati-hati, tanpa ingin menyinggung perasaan Hyeri.

Hyeri mengerutkan keningnya, dan sesaat Ia benar-bena mengerti apa yang sebenarnya Bomi maksudkan, “Ahniyo. Bukankah Ilhoon memang selalu seperti itu?—dan ah, apa yang harus dilakukan? Aku hanya benar-benar merindukannya” Ia kemudian menghela nafasnya frustasi. Seperti apa yang Ia katakan, sesungguhnya hal yang lebih membuatnya merasa buruk hanyalah ketika Ia tak bisa dan sepertinya tak memiliki sekalipun kesempatan untuk dapat mengatakan seberapa banyak Ia merindukan Ilhoon selama ini.

“Eishh—aku benar-benar penasaran, sudah berapa banyak laki-laki yang kau  abaikan hanya karena Kau terus memikirkan Ilhoon?” Bomi menggelengkan kepala seraya memecah tawanya, sementara berikutnya Hyeri hanya termenung sesaat dan tersenyum lebar, “Ya, Eonnie~ Bukankah Aku sudah seringkali menceritakannya kepadamu? Kau bahkan selalu menanyakan hal yang sama setiap kalinya, aishh”

“Aku?”

Hyeri mengangguk, “Eung. Tiap kali kau membalas emailku, kau hanya terus bertanya, ‘Hyeri-a, apa sekarang terdapat laki-laki lain yang membuatmu berpaling dari Ilhoon’ atau ‘Lee Hyeri, kau tidak sedang berkencan kan?’ seperti itu, Kau benar-benar membuatku tertawa sendiri setiap kali membacanya”

“Really?—ah benar” Bomi melirik Hyeri dan kembali tersenyum, “Jadi sekarang, jawaban macam apa yang kau miliki untuk semua pertanyaan bodohku itu?” Tambahnya lagi, membuat Hyeri hanya lagi-lagi menghela nafasnya lelah, “Yeah. Seperti yang selalu ku katakan sebelumnya bahwa, Aku hanya akan kembali secepat mungkin untuk semua perasaanku terhadapnya, Ilhoon”—dan rasanya kali itu Bomi benar-benar tak lagi dapat menyembunyikan senyumnya, walau selama beberapa saat tadi sempat merasakan sesuatu yang aneh terhadap situasi ini.

.

.

.

Selang beberapa hari semenjak pertemuan terakhir Hyeri dengan Bomi malam itu, Hyeri yang siang itu tengah berada di apartmentnya seorang diri seraya mempersiapkan segala berkas administrasi yang Ia butuhkan untuk masuk ke universitas , tiba-tiba saja berhasil di buat terkejut dengan berita yang Bomi sampaikan kala itu melallui sambungan telpon, “Jinjja?! Jinjja?! Jeongmalyeo?! Really?!”

“Eung. Kau bisa mengemudi, kan?”

“Tentu saja~”

“Baiklah, jika seperti itu, hanya menemui Ilhoon sore ini di Gyunggo Park, eung? Mungkin Ia akan sedikit terkejut, tetapi bagaimanapun Ini benar-benar kesempatan yang baik, bukan?—dan lagi pula Aku hanya benar-benar terganggu karena Ia terus saja memaksaku untuk melakukannya” Jelas Bomi lagi, dan pada saat itu pula rasanya Hyeri benar-benar tak bisa menyembunyikan senyumnya. Bagaimana tidak? Pertama kali di dalam hidupnya Ia benar-benar merasa bersyukur telah menyempatkan diri untuk belajar mengemudi di sela-sela waktu sibuknya.

“Geurae, aku mengerti. Gomapta, Bomi Eonnie! Saranghaeee~~” Hyeri nampak sangat excited, dan berikutnya setelah Bomi mengakhiri panggilan tersebut, Hyeri hanya tak bisa lagi berdiam diri dan memutuskan untuk segera menyelesaikan segala urusannya sebelum waktu membahagiakannya itu akan benar-benar tiba.

Waktu terus berlalu tanpa sama sekali Hyeri rasakan, dan ketika itu nyatanya jarum jam sudah hampir menunjukan pukul setengah 4 sore dan Hyeri sama sekali belum melakukan persiapan apapun, dan pada akhirnya hanya tanpa mempedulikan apa yang tengah Ia kerjakan sebelumnya, Hyeri dengan segera berlarian bagai kilat mengejar waktunya yang sangat berharga.

.

.

.

Hyeri berlari kecil, sesekali mempercepat lajunya hingga pada akhirnya Ia benar-benar telah tiba di Gyunggo Park. Cuaca seore itu nampak begitu cerah, karena bagaimanapun musim panas memang benar-benar baru tiba, dan berikutnya secercah senyum nampak di wajah cantik Hyeri ketika Ia temukan sosok Ilhoon yang kini tengah berdiri membelakangi mobil berwarna putih itu dengan kedua tangannya yang terlipat di depan, nampaknya Hyeri benar-benar telah berhasil emmbuat laki-laki itu menunggu untuk waktu yang cukup lama.

“Hei, cutie pie!”

Ilhoon memalingkan pandangannya dan sesaat tatapan yang sama seperti sebelumnya kembali dapat Hyeri temukan ketika kedua pasang manik mata itu saling bertemu sama lain, “Ya! Ya! A—apa yang kau lakukan di sini?!”

“Aku datang menggantikan Bomi Eonnie~”

“Ya! Apa-apaan ini?!” Ilhoon melepas snapback-nya dan kemudian mengacak rambutnya frustasi, dan selang beberapa saat laki-laki itu nampak mengeluakan ponselnya dan melakukan panggilan terhadap Bomi, sang terdakwa, “YA! Yoon Bomi!!”

“Wae~?” Suara tawa Bomi terdengar dari sebrang sana, membuat Hyeri hanya turut tak dapat menahan tawanya.

“Mengapa Kau mengirim Hyeri ke tempat ini? YA!”

“Hanya bersenang-senang, eung~?”—dan pik. Ketika panggilan itu berakhir perhatian Ilhoon hanya kembali tertuju pada Hyeri, “Apa yang kau dan Bomi rencanakan?” Tanyanya penuh curiga.

Hyeri mengangkat bahunya seraya mengulas senyum, “Aku tidak merencanakan apapun. Bomi Eonnie hanya bertanya padaku apa aku bisa mengemudi dan nyatanya aku bisa, lalu Ia mengatakan jika ‘Ilhoon tak juga berhasil mendapatkan surat izin mengemudinya, jadi bisakah kau membantunya?’, dan aku dengan sangat bersenang hati akan bersedia melakukannya untukmu, cutie pie~”

Ilhoon menatap Hyeri tak percaya, dan kemudian berdecak sebal, sementara batin Hyeri terus menjerit di dalam hatinya, bagaimana bisa Ilhoon hanya nampak begitu tampan seperti ini? Aishh Hyeri benar-benar tak habis pikir jika Ilhoon akan benar-benar terlihat seperti seorang laki-laki manis yang siap untuk pergi kencan.

“Jika seperti itu maka, hanya melupakannya” Putus Ilhoon pada akhirnya, dan kemudian segera berniat untuk masuk ke dalam mobilnya namun nyatanya Hyeri hanya segera ikut masuk ke dalam, membuat laki-laki itu kembali menatanya frustasi, “YA! Aku tidak mau kau yang melakukannya!”

“Wae?!!”

“Bagaimana bisa aku percaya padamu? Heshh”—dan berikutnya hal yang Hyeri lakukan hanya benar-benar membuat Ilhoon mengerjapkan kedua matanya nyaris terkejut, dan kini keduanya benar-benar tengah saling berpandangan satu sama lain, “Apa yang membuatmu tidak percaya padaku?”

Ilhoon bergidik sesaat dan dengan segera menjauhkan dirinya dari Hyeri, “Ya! Ya! Kau membuatku takut! Kau seperti hantu, astaga!” Ujar Ilhoon lagi yang pada akhirnya hanya membuat Hyeri memecah tawanya, “Haahh, ayolah, Ilhoon! Kapan Kau benar-benar bisa tumbuh dewasa?~”

“Aku hanya tidak ingin berurusan denganmu”

“Bagaimana jika kita bertaruh?” Hyeri kembali menatap Ilhoon lelah, seakan laki-laki itu terus dan terus saja memaksanya untuk memutar otak, “Kau hanya selalu gagal  saat memarkir, kan?”

Ilhoon tertegun sesaat dan kemudian kembali nampak ekpressi yang sama seperti sebelumnya di wajah tampannya, “Cih. Aku bisa melakukannya hanya saja mereka tak mengerti dengan ‘style’ yang kugunakan”

Hyeri nyaris kembali memecah tawanya ketika mendengar penjelasan yang baru saja laki-laki itu utarakan rasanya bagaimana bisa laki-laki yang selalu berlagak sok keren ini hanya selalu berhasil memikirkan hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan.

“Bagaimana dengan memberikanku waktu 3 hari, dan jika pada hari terakhir kau berhasil mendapatkan surat izin mengemudimu, maka Aku akan melakukan apapun yang Kau inginkan, kau setuju?”

Kali ini Ilhoon tak langsung memberikan jawaban dan hanya menimbang-nimbang, sementara Hyeri seakan baru saja tersadar jika apa yang baru saja Ia katakan nyatanya akan sedikit atau banyak berdampak buruk terhadapnya jika Ilhoon benar-benar berhasil melakukannya, “Really? Kau akan benar-benar melakukannya? Bahkan jika Aku menginginkan Kau untuk menghilang dari kehidupanku?”

Hyeri terenyak dalam diam, sesaat Ia benar-benar mengerti jikalau Ilhoon pasti hanya tengah bergurau namun rasanya hal itu sedikit terasa menyakitkan, namun bagaimanapun Hyeri hanya tak bisa kembali menarik perkataannya, “Call. Aku hanya akan menghilang jika kau menginginkannya”

“Baiklah. Aku setuju~” Ilhoon nampak begitu excited, tetapi berikutnya ekspressi wajahnya kembali berubah, kedua manik matanya menatap Hyeri aneh, “—tetapi, apa yang terjadi jika aku tidak mendapatkannya?”

Hyeri mengalihkan pandangannya dan kemudian menatap Ilhoon dengan sebuah senyum seraya menunjukan jemarinya pada sebuah kalung perak cantik yang terkalung di leher laki-laki itu,  “Aku ingin kau mengembalikannya dan juga—three kisses

Kisses? Kau ingin aku menciummu?!”

“Tidakkah itu cukup adil? Kau bisa menyingkirkanku sejauh mungkin jika kau berhasil” Jelas Hyeri lagi, dan sesaat Ia hanya merasa jika Ia benar-benar sudah gila, gila akan semua hal yang terus terjadi di antara dirinya dan juga laki-laki ini, Jung Ilhoon.

Ilhoon kembali menimbang-nimbang, dan berikutnnya Ia hanya menghela nafasnya putus asa, karena bagaimanapun tak ada seorang pun yang tidak mengetahui jikalau Jung Ilhoon benar-benar membenci segala bentuk skinship entah terhadap siapapun itu termasuk Hyeri, “Baiklah. Lagipula, aku hanya tidak akan gagal kali ini”

“Aku menantikannya, cutie pie~” Hyeri kembali mengulas sneyumnya, walau sesaat terdapat begitu banyak bperasaan khawatir jikalau Ilhoon hanya akan benar-benar menyingkirkannya sejauh mungkin.

.

.

.

“YA!”

“Wae?!”

Hyeri berdecak sebal, menatap Ilhoon yang sejak tadi terus melajukan mobil itu dengan tak karuan, sesaat mereka hanya melaju begitu lambat seperti seekor siput, namun tiba-tiba saja menjadi ebgitu cepat seakan mereka tengah berada dalam pertandingan F1, dan berikutnya Ilhoon hanya membuatnya terus tersentak keras walau sudah mengenakan sabuk pengaman, “Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang terus kau lakukan sejak tadi! Astaga, Jung Ilhoon! “

“Kau membuatku tidak bisa berkonsentrasi!” Sahut Ilhoon, seakan tak rela menjadi satu-satunya yang di salahkan dalam hal ini.

“Apa yang kulakukan hingga kau tidak berkonsentrasi?!”

Ilhoon melirik Hyeri sesaat dan kemudian berdesis, “Kau terus menatapku seakan aku adalah seekor kelinci dan kau seekor harimau!” Ia beralasan, dan kali ini benar-benar membuat Hyeri memecah tawanya frustasi.

Hyeri menghela nafasnya lelah setelah berupaya untuk menghentikan tawanya, “Sekarang, hentikan mobilnya!”

“Waee?”

“Hanya menghentikann—“—CKITT!!!

Hyeri mengerjapkan kedua matanya tak percaya ketika pada akhirnya mobil itu benar-benar telah berhenti seketika dan berhasil membuat keduanya tersentak keras, “Kau gila, ya?!” kedua matanya menatap Ilhoon tak percaya, sementara laki-laki itu hanya nampak acuh dengan apa yang Hyeri serukan sejak tadi.

Hyeri berusaha kembali mengatur nafasnya yang tak lagi beraturan itu seraya menatap Ilhoon lelah, “Jika seperti ini, sebaiknya kau hanya perlu bersiap-siap untuk menciummku, Ilhoon”

“Aku tidak akan melakukannya, Lee Hyeri!”

“Benar. Jika seperti itu, maka hanya mendengarkan semua intruksi yang ku berikan, eung? Sekarang, melajukan lagi mobilnya dengan hati-hati”—dan pada akhirnya kelas mengemudi yang sepertinya sangat sia-sia itu terus berlanjut hingga matahari tak lagi nampak terlihat di langit, dan pada akhirnya Hyeri hanya benar-benar sadar jikalau waktu sudah hampir menunjukan pukul 9 malam, dan rasanya hal ini sungguh gila ketika tanpa sadar Ia hanya terus menghabiskan begitu banyak waktunya bersama Ilhoon.

“Kali ini, kau sudah jauh lebih baik”

“Really?” Tanpa sadar Ilhoon hanya meresponnya dengan begitu excited. Hyeri mengulas senyumnya dan kemudian mengintruksikan Ilhoon untuk segera menghentikan mobilnya, “Apa lagi sekarang?!” Tanya Ilhoon yang sebenarnya sudah cukup lelah pula dengan semua hal yang terus Hyeri intruksikan padanya walau sesungguhnya Ia  benar-benar sadar jika nyatanya Hyeri telah melakukannya dengan baik sekali.

“Sekarang, membiarkan aku yang membawa mobil, dan aku akan segera mengantarmu pulang” Ilhoon mengerutkan keningnya dan kemudian tanpa ragu segera keluar dari mobil, dan membiakan Hyeri berpindah posisi, “Jadi, kau bagaimana setelah ini? Bomi akan menjemputmu?” Tanya Ilhoon lagi ketika keduanya sudah berada dalam posisi yang bergantian, dan pada saat itu Hyeri mulai melajukan mobil itu dengan begitu tenang.

Hyeri melirik Ilhoon, dan kemudian menggeleng, “Ahniyo. Aku hanya akan pulang naik bus” Ujarnya, dan sesaat Hyeri benar -benar merasa jikalau mungkin Ilhoon tengah mengkhawatirkan atau sekedar peduli padanya, namun berikutnya semua bagai luntur begitu saja, “Call. Lagi pula, takkan ada laki-laki di luar sana yang berniat untuk mendekatimu” Tutur Ilhoon dan kemudian Ia hanya memecah tawanya, tanpa menyadari jikalau nyatanya kalimat yang baru saja Ia nyatakan it terus berputar dalam benak wanita itu.

.

.

.

“Hishh! Bagaimana bisa Ia hanya membiarkan aku pulang sendirian seperti ini?!” Hyeri terus saja menggerutu untuk yang kesekian kalinya, seraya melangkah gusar menelusuri jalan setapak yang akan membawanya menuju ke halte bus terdekat dari apartment Ilhoon.

“Wae?!” Ia kembali menghela nafasnya frustasi, dan ketika Ia tiba di halte bus yang cukup sepi itu, Hyeri hanya terus menandai-andaikan hal yang sama, “Apa benar jikalau tak terdapat satupun laki-laki yang berniat mendekatiku? Apa aku benar-benar terlihat sejelek itu? Aishh!!! Kenapa Jung Ilhoon tega mengatakan hal seperti itu kepadaku?!” Hyeri mengacak-acak rambutnya frustasi tanpa menghiraukan sedikit saja keadaan di sekitarnya.

Kenyataannya, tanpa wanita itu mengetahui sedikit saja, Ilhoon dan mobilnya tadi tak hanya benar-benar kembali ke apartment, melainkan hanya melaju perlahan ke salah satu sudut jalan yang membuatnya dapat menyaksikan secara jelas hal macam apa yang kini tengah terjadi di halte bus itu, tempat dimana saat ini Hyeri terus menuangkan segala bentuk dan rasa frustasinya akan semua kejadian hari ini.

Tanpa sadar Ilhoon hanya terus mengembangkan senyumnya, bahkan ketika kini mobilnya tengah melaju beriringan dengan bus besar yang akan membawa Hyeri ke lokasi dimana apartementnya berada.

Apa yang sedang wanita itu pikirkan? Atau,

Bagaimana bisa Ia hanya tumbuh menjadi sesosok wanita yang begitu pemberani seperti ini?

Segala macam hal itu terus berlabuh dalam benak Ilhoon, yang nyatanya semakin dibuat frustasi ketika Hyeri tiba-tiba saja jatuh tertidur dalam perjalannya menuju ke rumah, bagaimana bisa Ia tertidur di dalam keadaan seperti itu? Benak Ilhoon kembali bertanya-tanya, dan rasanya Ia hanya benar-benar bersyukur karena sebelumnya Hyeri memutuskan untuk menempati sebuah kursi di deret terdepan sebelah kanan yang berhadapan langsung dengan kaca, sehingga bagaimanapun Ia hanya terus bisa memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.

Selang beberapa saat, Ilhoon hanya tak kembali dapat dibuat tenang ketika sesosok pria yang baru saja naik di halte sebelumnya itu memutuskan untuk menempati kursi kosong tepat di sebelah Hyeri. Apa yang harus dilakukan? Wanita itu bahkan terus saja terlelap dengan begitu bodohnya tanpa menghiraukan seidkit saja keberadaan laki-laki yang begitu mencurigakan itu kini berada tepat di sisinya.

Ilhoon menimbang-nimbang, dan sesaat ketika Ia semakin menemukan kecurigaan yang berarti dari bagaimana laki-laki itu terus memperhatikan Hyeri, Ilhoon putuskan untuk segera melakukan panggilan terhadap wanita itu, berharap jikalau Ia hanya akan terbangun dari alam mimpinya dan menyadari jikalau Ia tak seharusnya jatuh tertidur pada saat-saat seperti ini, “Eungg?” Suara Hyeri kali ini terdengar sedikit parau, namun berikutnya dapat Ilhoon pastikan jika Hyeri benar-benar telah terbangun dari tidurnya.

“YA! Kau tidak diperbolehkan untuk terlambat besok, mengerti?!” Ilhoon sedikit mengeraskan suaranya, dan Ia yakin benar dari apa yang terlihat kini, Ia benar-benar telah berhasil membuat Hyeri tersentak dan mengerjapkan kedua matanya.

Jangan berteriak! Kau membuatku kaget, bodoh!”

“Baiklah, aku hanya ingin mengingatkanmu. Jadi, sampai jumpa~”—dan pik. Ilhoon segera mengakhiri panggilan tersebut, dan berikutnya dapat Ia ketahui jiklau Hyeri benar-benar telah tersadar dari tidurnya dan kini tengah menggerutu pada ponselnya. Lalu, tak lama kemudian rasanya Hyeri juga turut merasakan perasaan yang tidak cukup nyaman dan memutuskan untuk berpindah posisi pada sisi lain yang sayangnya tak lagi terjangkau dalam pandangan mata Ilhoon kini, namun sesaat Ilhoon hanya benar-benar bersyukur karena rasanya apa yang Ia lakukan barusan sama sekali tidak sia-sia.

Hingga pada akhirnya, setelah memastikan jikalau Hyeri benar-benar telah tiba dengan selamat, Ilhoon putuskan untuk segera kembali memutar balikan laju mobilnya menuju ke rumah, karena bagaimanapun semua yang terjadi hari ini benar-benar telah menghabiskan sebagian energy yang selama ini Ia miliki, dan rasanya Ia hanya akan dengan senang hati terus melakukannya.

.

.

.

“Satu Americano, satu ice chocolate dengan cream, dan tiga buah choco muffin” Salah seorang pegawai wanita yang yang tak lagi nampak muda itu mengulangi kembali apa-apa saja yang baru Hyeri pesan sebelumnya, Hyeri kemudian mengangguk seraya membayarnya, dan kemudian beberapa saat setelahnya pegawai wanita itu menyerahkan semua pesanan Hyeri.

Hyeri melangkah sedikit terburu-buru, suasana di café itu sudah cukup ramai karena nampaknya sore sudah semakin menjelang, dan setelah keluar dari café dengan cepat Hyeri segera melangkah menuju ke sebuah mobil putih yang terparkir tak cukup jauh dari tempat itu.

“Ya! Kenapa kau lama sekali, sih?  Lagipula aku tidak mau menerima apa yang kau berikan” Ujar Ilhoon berikutnya, ketika Hyeri sudah kembali berada di dalam mobil, di belakang kemudi lebih tepatnya.

Hyeri mengerutkan keningnya sesaat dan kemudian tertawa, “Apa? Kau kira aku membelinya untukmu?!”

“Hah? Kau tidak membelinya untukku juga? Jadi, kau berniat menghabiskan semuanya sendirian?!” Ilhoon menatap Hyeri tak percaya, sesungguhnya Ia hanya tak benar-benar serius dengan apa yang baru saja ia katakan, ice chocolate? Siapa yang tidak mau mencicipinya di tengah musim panas seperti ini.

“Aku benar-benar sudah menduganya” Hyeri bergumam dan kemudian dengan segera menyerahkan ice chocolate itu kepada Ilhoon yang tanpa ragu segera Ia terima dengan rasa suka cita, berikutnya setelah beberapa kali menyesap Americano nya, Hyeri putuskan untuk kembali melajukan mobil itu ke sebuah tempat yang sepertinya cocok sekali untuk Ilhoon dapat berlatih memarkirkan kendaraan ini dalam waktu yang singkat.

“YA!Ya! Kenapa Kau berlaga sok keren seperti ini?!” Laki-laki itu tiba-tiba saja kembali berujar seraya menggelengkan kepalanya menatap sosok Hyeri yang kini tengah melajukan mobil itu seraya memegang sebuah choco muffin dengan salah satu tangannya yang lain.

Hyeri melirik Ilhoon sesaat merasa risih karena laki-laki itu terus saja mengomentari hal-hal yang tidak penting, “Waeee?! Aku belum sempat makan siang”

“Hishh$#%$^&%” Berikutnya Ilhoon hanya menggerutu tak jelas, dan kemudian kembali memalingkan perhatiannya pada Hyeri, “Jadi, sekarang kita kemana?”

“Jin merekomendasikanku sebuah tempat yang cocok untuk Kau berlatih memarkir” Jelas Hyeri, seraya kembali mendapatkan satu gigitan untuk choco muffinnya, namun tiba-tiba saja secara reflex Hyeri menginjak pedal remnya dan berhasil membuat mobil itu berhenti melaju, kedua manik matanya kini menatap kedua manik mata Ilhoon yang semakin mendekat itu tak mengerti, sesaat ingin sekali Ia meluncurkan sebuah protes akan apa yang tengah Ilhoon lakukan, namun rasanya tak satupun kata dapat keluar dari mulutnya pada saat itu.

Hyeri nyaris kehilangan akalnya ketika Ia rasakan sosok Ilhoon yang perlahan semakin mendekat, Ia benar-benar merasa jika Ilhoon mungkin sudah benar-benar gila jika Ia tiba-tiba saja melakukannya dan—astaga! Saat ini Hyeri bahkan bisa merasakan bagaimana helaian-helaian rambut Ilhoon mulai menyentuh keningnya dan tak terdapat hal apapun lagi yang bisa Ia lakukan selain memejamkan kedua matanya, mengandai-ngandai hal gila apa yang tengah ingin laki-laki bodoh ini lakukan, dan berikutnya ketika Hyeri rasakan detak jantungnya pada saat itu benar-benar seakan terhenti seketika, suara tawa Ilhoon tiba-tiba saja merusak segalanya.

“Ya! Ya! Eishh—apa yang kau lakukan? Kau kira aku akan melakukan apa? Mengapa kau memejamkan kedua matamu? HAHAHA”—dan kali itu Ilhoon benar-benar terdengar sangat menyebalkan.

Hyeri mengerjapkan kedua matanya selama beberapa kali, dan kemudian seakan baru saja kembali tersadar dari dalam angan-angannya, kedua manik mata Hyeri kini menatap Ilhoon tak percaya, “YA! Kau gila ya?!”

“Apa? Aku hanya memasang sabuk pengamanmu~ Kau bisa mati jika kau terus mencoba untuk terlihat keren tanpa menggunakannya~” Jelas Ilhoon, dan sesaat Hyeri barulah menyadari jikalau kini sabuk pengaman itu sudah terpasang dengan benar. Ia kemudian hanya kembali mengacak rambutnya frustasi, tak percaya dengan apa yang baru saja Ia lakukan sebelumnya, Ia benar-benar hanya baru saja mempermalukan dirinya sendiri, dan pada akhirnya Ia hanya kembali melajukan mobil itu tanpa mau sedikitpun menghiraukan hal-hal macam apa yang terus Ilhoon utarakan untuk menggodanya.

.

.

.

Ilhoon masih terus saja memperhatikan sosok Hyeri dalam diam, dan sesekali wanita itu hanya turut meliriknya, membuatnya dengan segera membuyarkan segala lamunan bodoh yang sempat terjadi sejak tadi.

Waktu sudah semakin sore, namun mereka belum juga tiba di tempat yang Hyeri maksudkan itu, dan sesaat pikiran Ilhoon kembali berlabuh pada kejadian bodoh tak terkendali yang nyaris saja terjadi tadi, bagamana bisa Ia hanya hampir saja membuat keduanya terjungkal jikalau Hyeri tidak dengan sigap menghentikan laju kendaraan itu ketika tiba-tiba entah disengaja atau tidak Hyeri terus saja melakukan hal-hal yang membuat Ilhoon benar-benar ingin mencuri sebuah ciuman dari wanita itu, dan ketika benar Ilhoon nyaris melakukannya sebuah angan-angan perlahan membuatnya kembali tersadar dan ketika menyadari bagaimana reaksi terkejut Hyeri pada saat itu benar-benar membuatnya tak dapat berhenti tersenyum.

Berikutnya Hyeri hanya kembali melirik Ilhoon yang masih tak dapat menahan tawanya dan kemudian berdecak kesal, “Kau benar-benar senang sekali ya nampaknya? Hishh Hal bodoh macam apa yang sempat kupikirkan tadi?! You’re such a jerk!”

“Apa yang kau pikirkan memangnya? Lagipula, kemana sebenarnya kau membawaku pergi? Jangan-jangan kau berniat untuk mewujudkan segala fantasi bodohmu itu padaku, benar kan?!” Tebak Ilhoon, dan nyatanya Ia hanya benar-benar tak dapat memungkiri bagaimana Ia sangat menyukai reaksi Hyeri ketika Ia terus saja menggodanya.

Hyeri menghela nafasnya lelah, “Kau mau mendapatkan surat izin mengemudimu atau tidak sih?! Tidak bisakah kau bersabar sedikit saja dan hanya duduk dengan tenang?!” Ujar Hyeri lagi, dan rasanya Ilhoon hanya benar-benar mengerti jikalau Hyeri sudah tidak lagi berada di dalam moodnya, dan sepertinya Ia hanya benar-benar lelah karena sudah mengemudi dalam perjalanan yang cukup jauh seperti ini.

“Ayolah, kau juga bahkan mengetahuinya, kan? Bahkan tanpa bantuanmu, aku akan tetap bisa mendapatkan surat izin mengemudiku, Lee Hyeri”—dan ketika Ilhoon baru saja mengucapkan kalimat terakhirnya itu, hal yang tiba-tiba saa Hyeri lakukan benar-benar berhasil membuatnya terkejut.

“Geurae! Aku tidak mau melakukannya lagi! Kita pulang!” Putus Hyeri setelah tiba-tiba saja memutar balikan arah laju mobil itu hanya dengan satu hentakan, dan pada akhirnya Ilhoon hanya baru menyadarinya jika Hyeri memanglah pengemudi yang keren.

Pada akhirnya pula, setelah menempuh perjalanan kembali yang juga cukup jauh itu, keduanya kini telah tiba di tempat dimana mereka selalu berkumpul selama ini, dan ketika mereka tiba sebuah sambutan riang sungjae benar-benar berhasil membuat Hyeri semakin nampak jengkel, dan tanpa mempedulikan lagi kedua sosok laki-laki itu Ia hanya segera melangkah masuk.

“Apa lagi yang kau lakukan pada Hyeri? Err—Ia sepertinya benar-benar murka, terdapat dua buah tanduk di kepalanya” Sungjae berkomentar seraya melangkah masuk bersama Ilhoon, sementara Ilhoon hanya mengangkat bahunya, tak benar-benar menghiraukan komentar yang baru saja Sungjae lontarkan, “Hanya mengantarnya pulang nanti”

“Kenapa tidak kau saja, sih?”

“Ayolah, kau mengerti”

Geurae. Geurae.”

.

.

.

“Apa yang terjadi?” Tanya Minhyuk pada saat itu, sialnya tak dapat Hyeri temukan sosok Bomi saat itu dan rasanya, benar-benar tak ada salahnya jika Ia hanya mengeluarkan segala kekesalannya kepada Ilhoon pada Minhyuk kan? Tetapi, ah entahlah. Batin Hyeri frustasi.

Oppa, kemana Bomi Eonnie pergi?”

“Entahlah” Minhyuk mengangkat bahunya dan kemudian perhatiannya beralih pada sosok Sungjae yang diikuti pula oleh sosok Ilhoon yang kini tengah melangkah masuk, “Apa yang kau lakukan pada Hyeri?!”

Ilhoon hanya acuh seraya melepas snap backnya dan kemudian mengambil posisi yang sedikit berjauhan dari Hyeri, membuat Hyeri hanya berdecak kesal lagi kepadanya, “Aku tidak melakukan apapun”

“Hyeri, aku akan mengantarmu pulang nanti, eung?” Sungjae tiba-tiba saja memecah ketegangan di antara mereka.

“Really? Jika seperti itu, bisakah kau mengantarku sekarang? Oppa, sampaikan salamku pada Bomi Eonnie  nanti, eung?”

Call”—dan berikutnya ketika Hyeri baru saja ingin melangkah mengikuti sosok Sungjae yang sudah terlebih dulu berjalan menuju keluar, Ilhoon berhasil membuatnya menghentikan langkah, “Wae?!”

Ilhoon mengulas senyumnya, senyum yang selama ini selalu berhasil meluluh lantahkan perasaan Hyeri, namun rasanya tidak untuk kali ini, karena Ia benar-benar sudah terlalu menyebalkan, “Perjanjian tetaplah perjanjian, menemuiku besok di café, dan jangan terkejut dengan permintaanku, mengerti?”

“Hishh Kau terlalu percaya diri!” Hyeri kembali berdesis dan berikutnya hanya segera berbalik meninggalkan sosok Ilhoon yang masih terus menatapnya dengan senyum.

.

.

.

.

“Sekarang, apa yang tengah si bodoh itu lakukan?” Suara Hyeri terdengar dari sebrang sana, membuat Bomi dan Ilhoon sebagai ‘si bodoh’ yang dimaksudkan itu hanya tak bisa menahan senyumnya tiap kali dan tiap saat Hyeri selalu melakukan panggilan kepada Bomi untuk menanyakan hal yang sama.

Bomi berdeham pelan, sementara Ilhoon masih hanya saja nampak menikmati harinya seraya merebahkan dirinya di atas sofa, mendengar setiap kalimat yang Hyeri utarakan pada Bomi, mendengar bagaimana Hyeri menceritakan segala keluh kesah kejadian kemarin kepada Bomi, tanpa wanita itu sama sekali mengetahuinya.

“Sepertinya testnya akan segera berakhir dan—oh astaga, Hyeri! Kau benar-benar hanya terus memikirkannya ya?”

“Yeah, bagaimanapun—ah molla molla” Ilhoon semakin nampak antusias, dan berikutnya Ia seakan mengisyaratkan Bomi untuk menanyakan suatu hal kepada Hyeri.

Bomi tetegun sesaat dan kemudian hanya segera kembali berbicara dengan Hyeri setelah sebelumnya melempar Ilhoon dengan sebuah bantal, “Hyeri-a, menjawabnya dengan jujur, eung? Sesungguhnya, hasil seperti apa yang ingin kau dengar saat ini?”

Hyeri tidak juga menjawab, membuat Ilhoon hanya kemudian merubah posisinya menjadi terduduk, seraya menantikan jawaban macam apa yang akan Hyeri berikan, “Eungg, entahlah Eonnie. Seperti yang kau ketahui, aku selalu menginginkan semua yang terbaik untuk si bodoh itu tetapi—bagaimana jika ternyata ketika Ia berhasil nantinya Ia hanya akan mengharapkan aku untuk menghilang dari kehidupannya? Ahh karena hal ini, aku bahkan belum lagi mengurus semua administrasiku di universitas, karena mungkin saja aku hanya akan kembali ke jepang setelah ini, ya kan?”

“Eishh—kau mengetahuinya, Hyeri, Ilhoon bukan tipe seseorang yang akan melakukan hal seperti itu” Bomi melirik Ilhoon yang masih hanya tak dapat menyembunyikan senyumnya, seraya berusaha untuk membuat Hyeri merasa lebih baik, dan pada akhirnya kembali Ilhoon seakan mengisyatratkannya untuk kembali mengatakan sesuatu, “Hyeri-a, sepertinya Ilhoon telah menyelesaikan testnya, aku akan menghubungimu lagi nanti, eung? Sampai nanti, saranghaee~~”

“Eungg, nado saranghaee Eonnie~~”—dan Bomi kemudian hanya segera mengakhiri panggilannya dengan Hyeri. Kini kedua manik matanya menatap Ilhoon frustasi, tak percaya dengan semua hal yang terus laki-laki ini rencanakan sejak awal, “Sekarang, kau harus bertanggung jawab, Jung Ilhoon!”

Ilhoon mengulas senyumnya dan kemudian segera bangkit dari posisinya dan bersiap untuk melangkah pergi, beruntung untuk mereka Hyeri tidak memutuskan untuk datang ke tempat ini dan hanya terus menunggu di rumah sehingga rencananya dapat berjalan dengan baik sekali, “Aku mengerti. Terima kasih, Bomi. Eishh—kau benar-benar telah banyak membantuku~”

“Ya. Karena kau juga, sudah terlalu banyak kebohongan yang kukatakan kepada Hyeri” Bomi berdecak pada Ilhoon dan kemudian tersenyum, “Tapi aku sedikit menyukai rencanamu, aishh sejak kapan kau menjadi laki-laki yang begitu manis seperti ini~?”

Ilhoon yang sudah benar-benar siap untuk pergi kemudian hanya menepuk pelan pundak Bomi sebagai ucapan terima kasihnya, “Mulai saat ini kau tak perlu lagi berbohong padanya. Aku pergi, noona”

.

.

.

Hyeri masih hanya mengguling-gulingkan tubuhnya di atas ranjang tak karuan ketika tiba-tiba saja ponselnya kembali berdering, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika nama Ilhoon terlihat di layar ponselnya, “Eung?”

“Hei, kita bertemu di café sekarang”

“Geurae” Hyeri merespon dengan sedikit perasaan ragu, namun berikutnya ketika Ia baru saja berniat untuk mengakhiri panggilan itu, suara Ilhoon tiba-tiba hanya kembali terdengar, “Berhati-hatilah”—dan kemudian panggilan mereka benar-benar berakhir.

Hyeri tertegun sesaat, seakan secara perlahan dunianya benar-benar mulai runtuh.  Namun berikutnya, Ia hanya dengan segera bersiap dan kemudian ketika Ia hendak melangkah keluar dari apartmentnya sebuah pesan singkat datang dari Bomi.

Ilhoon gagal dalam testnya kali ini, Hyeri. Kau selamat kkk~

Kedua matanya kini mengerjap, namun seakan Ia tak lagi dapat menentukan seperti apa reaksi yang harus Ia tunjukan sekarang. Haruskah Ia merasa senang? Atau haruskah Ia merasa sedih?.

Segala macam pikiran macam itu masih terus berlabuh di dalam benaknya, bahkan hingga ketika Ia sudah berada di dalam bus yang akan membawanya menuju ke halte terdekat café itu, dan tiba-tiba saja hal lain yang terjadi hanyalah turunnya rintik-rintik hujan di musim panas yang perlahan dan perlahan semakin deras.

Setelah beberapa saat Ia tiba di halte terdekat da turun dari bus, Hyeri kemudian hanya segera berlari masuk ke dalam café itu dengan menerobos derasnya hujan yang nyatanya berhasil membuat rambut blonde serta pakaiannya berada dalam keadaan yang cukup basah.

Lagi-lagi Hyeri kembali tertegun setelah tadi sempat memesan secangkir hot chocolate untuk sekedar menghangatkan diri. Keadaan café di kala sesungguhnya cukup ramai, namun rata-rata mereka hanya benar-benar berada dalam keadaan yang persis sama dengan Hyeri. Sesaat pemikiran itu kembali terlintas di dalam benaknya. Benar, rasanya Ia hanya harus bersuka cita karena bagaimanapun Ilhoon tak akan bisa menginginkannya untuk menghilang karena Ia gagal saat ini, tetapi—,“YA! Kau hujan-hujanan?”

Sosok Ilhoon yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya berhasil memburyakan segala renungan tak bergunanya dan membuat Hyeri dengan cepat mengerjap, berusaha membuat dirinya kembali tersadar, “Hei, cutie pie~” Sapa Hyeri kemudian dengan sebuah senyum di wajah cantiknya.

Ilhoon tidak memberikan respon apapun dan masih hanya terus menatap Hyeri aneh, membuat wanita itu merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dalam dirinya, hingga akhirnya Ilhoon kemudian hanya dengan segera melepas cardigannya dan menyerahkannya pada Hyeri, “A—apa?”

“Hanya menggunakannya. Apa yang kau pikirkan? Mengapa kau hanya menggunakan pakaian yang seperti ini, sih?” Komentar yang baru saja dilontarkan laki-laki itu lagi-lagi berhasil membuat Hyeri mengerutkan keningnya tak mengerti, sementara kedua mata Ilhoon hanya terus menjelajahi sosok Hyeri yang sebelumnya hanya nampak mengenakan sebuah kemeja tanpa lengan dan hotpants.

“Ini summer. Tak akan ada yang mengira jika hujan akan turun dan lagi pula—apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau sakit? Atau ada yang salah dengan otakmu? Ayolah, Jung Ilhoon, kau membuatku takut” Hyeri masih berusaha untuk terlihat tenang setelah sebelumnya dengan penuh keraguan mengenakan cardigan yang Ilhoon berikan kepadanya itu.

Ilhoon mengetuk-ngetukan jemarinya, seraya menatap Hyeri gusar, dan berikutnya Ia hanya kemudian melepaskan kalung perak yang melingkar di lehernya, dan menyerahkannya kepada Hyeri, membuat kedua manik mata Hyeri hanya kembali menatapnya tak percaya, “Rea—lly?”

“Aku gagal, dan bagaimanapun perjanjian tetap perjanjian, maka aku hanya akan menyerahkannya kembali padamu” Jelas Ilhoon yang kali ini seakan benar-benar telah berhasil membuat hembusan nafas wanita itu terhenti seketika, “Kau serius? Woahh” Hyeri yang sesungguhnya masih merasa sedikit tak bisa mempercayainya kemudian hanya dengan segera meraih kalung perak itu dari tangan Ilhoon, tanpa menyadari jikalau masih terdapat hal-hal lainnya yang tersisa untuk dilakukan.

“Ya, dan juga—“

Hyeri mengalihkan perhatiannya sesaat kembali pada Ilhoon, dan berikutnya ketika kedua pasang manik mata mereka bertemu yang Hyeri rasakan hanyalah bagaimana seakan terdapat sebuah hantaran kilat yang menyambar seluruh tubuhnya ketika Ilhoon tiba-tiba saja menautkan bibir mereka satu sama lain.

Setelah beberapa saat, dan ketika aksi sepihak Ilhoon benar-benar berakhir, sosok Hyeri kini hanya bagai raga tanpa jiwa. Kejadian barusan nyatanya bahkan sempat mengurungkan niat salah seorang pelayan yang tadinya ingin mengantarkan secangkir hot chocolate, dan pada akhirnya dengan kikuk barulah mengantarkannya ketika beberapa saat setelah Ilhoon mengakhiri aksi tiba-tibanya itu, “Terima kasih~” Ilhoon tersenyum pada salah seorang pelayan itu, dan kemudian kembali menatap Hyeri yang masih hanya menatapnya tak percaya.

Hyeri mengerjapkan kedua matanya selama beberapa kali, dan barulah Ia seakan benar-benar telah tersadar dari dalam angan-angannya, dan kini yang terlihat di hadapannya hanyalah sesosok laki-laki bodoh yang tengah menyesap hot chocolate miliknya, “Astaga, Jung Ilhoon! Apa yang sebenarnya kau lakukan tadi?” Hyeri setengah berbisik, dengan kedua manik matanya yang hanya menatap Ilhoon frustasi.

“Apa? Bukankah hal itu terdapat pula dalam perjanjian?” Sahutnya santai, tanpa menghiraukan sedikit saja perasaan buruk Hyeri karena bagaimanapun Ilhoon baru saja menciumnya di depan umum.

“Perjanjian?—oh astaga! You’re such a crazy bastard, rasanya aku hanya benar-benar tak bisa tinggal lebih lama lagi bersamamu, sampai nanti” Hyeri mengacak rambutnya frustasi dan segera beranjak dari posisinya setelah selama beberapa saat tadi ingin sekali mencekik leher Ilhoon yang pada saat ini hanya bisa-bisanya mengatakan jikalau ‘kejadian tadi’ merupakan bagian dari perjanjian, yang walaupun memang benar seperti itu, Hyeri hanya tak bisa lagi membayangkannya.

Ilhoon mengulas senyumnya, dan sesungguhnya Ia hanya benar-benar menyukai reaksi yang Hyeri tunjukan pada saat ini, dan begitu Hyeri beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar, dengan cepat Ilhoon pun turut beranjak setelah sempat meninggalkan beberapa uang kertasnya untuk membayar hot chocolate yang sebelumnya Hyeri pesan tadi.

“Hei, Lee Hyeri~” Panggil Ilhoon, dan Hyeri yang nyatanya hanya dengan terpaksa harus membiarkan dirinya berteduh di halte bus itu pada akhirnya menoleh dan menatap jengkel sosok Ilhoon yang kini tepat berada di sebelahnya, “Wae?!”

“Apa yang terjadi? Kenapa Kau marah, sekarang?” Tanya Ilhoon lagi, sementara Hyeri kemudian hanya tertegun selama beberapa saat, tak tau lagi dengan jawaban macam apa yang seharusnya Ia lontarakan saat ini, dan sesaat benaknya hanya kembali bertanya-tanya, ‘Kenapa Ia marah sekarang?’ atau ‘Bukankah Kau yang sebelumnya menginginkannya?’.

Hyeri masih tak merespon, dan setelahnya Ia hanya benar-benar sadar dengan hal macam apa yang sesungguhnya kali ini benar-benar membuatnya merasa buruk, frustasi, dan marah, namun Ia hanya tak mungkin mengatakannya pada Ilhoon, kan?

Ilhoon yang turut pula hanya dibuat tertegun, pada akhirnya mengulas sebuah senyum seraya melepaskan snap backnya dan membuat Hyeri mengenakannya, “Jangan pergi kemanapun! Kau tunggu di sini sebentar, dan aku akan mengambil mobil secepatnya, eung?”

Mengapa secara tiba-tiba saja Ia menjadi wanita yang begitu bodoh seperti ini? Hyeri memaki dirinya sendiri di dalam hati, ketika hingga saat ini Ia masih tak dapat mengatakan hal apapun kepada Ilhoon dan hanya sesekali menatapnya dan sesekali pula berusaha untuk berpaling. Ilhoon  kembali tersenyum sebelum Ia benar-benar berbalik dan berlari menerobos derasnya hujan tanpa cardigan atau bahkan snap backnya yang nyatanya kini sudah berpindah posisi berada pada diri Hyeri.

.

.

.

Hyeri masih memutuskan untuk hanya berdiam diri tanpa sepatah kata apapun bahkan hingga ketika kini keduanya sudah berada di dalam mobil, dan anehnya Hyeri hanya membiarkan Ilhoon yang notabennya baru saja gagal –lagi- mendapatkan surat izin mengemudinya itu untuk memegang kuasa secara penuh atas apa-apa yan akan terjadi berikutnya pada mereka.

“Apa yang terjadi sekarang? Kau hanya benar-benar tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja gagal dalam test mengemudi” Ujar Hyeri pada akhirnya, setelah berhasil mendapatkan segala-gala di dalam dirinya perlahan kembali normal.

Ilhoon melirik Hyeri sesaat, “Yeah, bagaimanapun tak dapat dipungkiri jiakalau sesungguhnya aku memang benar-benar hebat”

Hyeri kembali merenungkan sesuatu hal, membuat Ilhoon yang selalu menyempatkan diri untuk sesekali melirik kepadanya turut pula berangan-angan, “Sayang sekali, kan?” Hyeri kembali berujar, membuat Ilhoon tersentak pelan.

“Apa?”

“Harapanmu agar aku segera menghilang dari kehidupanmu sepertinya harus tertunda” Hyeri meringis tak jelas, masih tanpa membiarkan kedua pasang mata mereka saling bertemu satu sama lain, sementara mendengar hal itu Ilhoon hanya tak dapat menyembunyikan senyumnya, “Yeah—“

“—apartment ku ada di depan sana” Hyeri berhasil membuat Ilhoon menghentikan kalimatnya dan kemudian melongok sesaat, dan pada akhirnya keduanya hanya benar-benar tiba di sana tanpa sepatah kata apapun lagi.

Sebelum benar-benar beranjak dan siap untuk turun dari mobil, Hyeri menatap Ilhoon seraya mengerutkan keningnya, “Kau ingin pulang dalam keadaan basah kuyup seperti ini? Yeah—terserahmu juga sih, mungkin Kau hanya akan mengira jika aku  tengah berniat untuk mewujudkan segala fantasi bodohku terhadapmu saat ini” Tutur Hyeri, yang nyatanya benar-benar nyaris membuat Ilhoon memecah tawanya, karena sesungguhnya Ia baru saja mengulang kembali kalimat yang sebelumnya pernah Ilhoon katakan padanya.

Call. Aku suka fantasi bodohmu” Hyeri menaikan salah satu alisnya aneh ketika mendapati Ilhoon yang kemudian hanya segera turun dari dalam mobil tanpa ragu, dan pada akhirnya setelah melakukan hal yang sama, keduanya hanya segera melangkah menuju ke tempat dimana Hyeri tinggal selama beberapa hari ini dan untuk seterusnya.

.

.

.

“Hei, cutie pie!”

“Eung?” Ilhoon yang saat itu tengah menghabiskan waktunya selama beberapa saat di dalam kamar mandi pada akhirnya memutuskan untuk segera keluar, dan berikutnya yang Ia temukan hanyalah tatapan terkejut Hyeri yang kontan segera disusul dengan aksi penutupan kedua matanya, “YA!”

“Waee?” Ihoon hanya kemudian melangkah menuju ke sofa dimana saat ini Hyeri tengah terduduk, dan masih dengan segala usahanya untuk membuat rambutnya kering, Ia hanya benar-benar nyaris kembali memecah tawanya menyaksikan aksi lucu Hyeri ketika menemukan dirinya yang tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi dengan shirtless. Well, rasanya untuk saat ini Ilhoon benar-benar baru merasa jikalau usahanya selama ini untuk membuat tubuhnya menjadi keren seperti ini ada gunanya juga di kemudian hari.

Hyeri masih berusaha menutupi kedua matanya, sementara Ilhoon hanya semakin mendekati sosok wanita itu dan memutuskan untuk duduk tepat di sebelahnya, “Ya! Jung Ilhoon! Kenapa kau hanya tidak menggunakan pakaian yang tadi kuberikan, sih?!” Hyeri bersuara, seraya sesekali mengintip dari sela-sela jemarinya dan kemudian hanya kembali menutupnya rapat-rapat.

Ilhoon menyandarkan tubuhnya lelah di sofa dan bergumam acuh tak acuh, “Bagaimana mungkin aku mau menggunakannya? Kau memberikanku pakaian wanita, Hyeri!”

“—tetapi setidaknya, kau tidak harus berkeliaran tanpa pakaian seperti ini, kan?”

“Wae~? Tidakkah aku terlihat keren?~” Ilhoon hanya semakin berusaha menggoda wanita itu, karena bagaimanapun Ia hanya sangat menyukainya tiap kali Hyeri menunjukan berbagai macam reaksi atas hal-hal macam apapun yang Ia terus lakukan.

“Jung Ilhoon!” Hyeri nyaris berteriak frustasi, dan berikutnya Ilhoon hanya dengan segera menutupi sebagian tubuhnya itu dengan menggunakan handuk, “Geurae. Sekarang kau sudah bisa membuka matamu! Cih, kau bahkan seharusnya berterima kasih, karena bagaimanapun kau telah menjadi orang pertama yang melihatku shirtless setelah Sungjae dan beruntungnya aku memang benar terlihat begitu keren”

Hyeri perlahan mulai menjauhkan kedua tangannya, dan ketika kedua matanya mengerjap selama beberapa kali, satu hal yang dapat Ia temukan hanyalah sosok Jung Ilhoon kini tengah berada di sampingnya, tersenyum padanya, dan rasanya Hyeri hanya benar-benar merasa jikalau kini Ia tengah bermimpi.

Sesaat keduanya seakan benar-benar tenggelam dalam keheningan. Ilhoon kini nampak tengah sibuk dengan ponselnya, sementara Hyeri masih hanya terus menatap sosok laki-laki itu takjub, tak percaya, dan penuh keraguan, “Hoonie?” Hyeri kembali berujar pada akhirnya, namun kali ini nyaris seperti sebuah bisikan dari dalam lubuk hatinya.

Ilhoon reflex menoleh, dan ketika itu kedua pasang manik mata mereka kembali saling bertemu satu sama lain, dan berikutnya salah satu tangan Hyeri kemudian menyentuh kening Ilhoon dengan hati-hati, “Apa terdapat sesuatu yang salah pada dirimu kini? Apa karena kau kehujanan hingga sekarang otakmu mengalami konsleting? Atau kau merasa bu—“

“—hentikan, Hyeri! Aku baik-baik saja, tak ada yang salah dengan diriku, sungguh” Hyeri mengerjap ketika Ilhoon baru saja memotong kalimatnya, dan dalam sekejap posisi mereka kini menjadi berbalik, salah satu tangan Ilhoon kini perlahan mulai bergerak menelusuri wajah cantik Hyeri yang masih hanya menatapnya dalam diam, “Sekarang giliranku, eung? Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu ketika tadi aku melakukannya? Menciummu—lagi?”

Hyeri menahan nafasnya selama beberapa detik ketika suara Ilhoon tiba-tiba saja seakan menggelitik sekujur tubuhnya, Ia terdiam selama beberapa saat dan kemudian kembali menatap Ilhoon, “I’m felt bad, and  also felt that’s so wrong”

“Wae?”

“—karena kenyataannya, kau menciumku hanya karena hal itu merupakan bagian dari perjanjian, sementara aku? Entah seberapa keras aku mencoba untuk tidak memikirkannya, hal yang kau lakukan tadi hanya membuatku semakin merasa jika aku tidak bisa melihatnya dengan cara seperti i—“—Hyeri menghentikan  kalimatnya ketika tiba-tiba saja Ilhoon  kembali menautkan bibirnya pada bibir manis Hyeri selama beberapa saat, membiarkan keduanya kembali merasakan sebuah rasa yang bahkan untuk sebelumnya tak pernah sekalipun dapat terlupakan, berusaha membuat Hyeri mengerti dengan apa yang sesungguhnya tengah Ia lakukan, dan pula membiarkan Hyeri merasakan betapa sulit untuknya selama ini  menahan diri untuk tidak terlihat mempedulikannya, mengkhawatirkannya, memikirkannya, atau bahkan menahan diri untuk menciumnya tiap kali Ia memanglah benar-benar ingin melakukannya.

Ilhoon membuka kedua matanya, dan perlahan mulai berusaha untuk mengakhiri ciumannya dengan memberikan beberapa light peck di bibir Hyeri, dan setelahnya ketika kedua pasang mata itu kembali bertemu , Ilhoon kemudian hanya berbisik pelan, “Sekarang, kau yang bisa menilanya, Hyeri—apa aku menciummu hanya karena sebuah perjanjian bodoh itu atau karena aku memang ingin melakukannya, dan lalu aku benar-benar ingin mengetahuinya, Ilhoon mana yang lebih membuatmu berdebar? Ilhoon sang ‘cutie pie’ yang selalu terbayang di dalam benakmu? Atau Ilhoon yang secara tiba-tiba saja membuatmu sulit bernafas bahkan hanya ketika kau menatapnya seperti ini?”

Hyeri yang sejak tadi tanpa sengaja terus menahan nafasnya itu tiba-tiba saja mengerjapkan kedua matanya dan kemudian perlahan berusaha menjauhkan tubuh Ilhoon yang saat ini sudah tak lagi terbalutkan handuk itu agar berada dalam jarak yang aman untuknya, dan berikutnya Ia hanya segera menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya meringis frustasi, “Ilhoon bodoh!! Apa yang kau lakukann?!”

Ilhoon hanya semakin mengembangkan senyumnya karena nyatanya reaksi yang diberikan oleh Hyeri kali ini benar-benar berada di luar perkiraannya, dan berikutnya hanya dengan satu hentakan Ilhoon kembali menarik Hyeri ke dalam pelukannya, “Sudah semakin larut, aku harus segera pulang. Jangan memikirkanku terlalu banyak, Hyeri~ Sampai jumpa besok~”—dan kemudian setelah melepaskan pelukannya, Ia hanya segera beranjak dari posisinya, meraih dan menggunakan cardigan yang sebelumnya digunakan oleh Hyeri itu asal-asalan, dan kemudian segera melangkah menuju ke pintu keluar setelah beberapa kali memastikan jikalau Hyeri akan benar-benar dalam keadaan yang baik-baik saja setelah kepergiannya.

.

.

.

.

“Hoahh!”

“Really? Ilhoon benar-benar melakukannya? Daebak!”

“Woahhh”

Hyeri hanya terus meringis frustasi tiap kali Bomi selalu memberikan reaksi seperti itu ketika Ia mengakhiri setiap bagian-bagian dari kejadian semalam.

Pagi ini, setelah memastikan selama beberapa kali jikalau Ilhoon tak tengah berada di tempat dimana mereka selalu berkumpul itu, Hyeri putuskan untuk bertemu dengan Bomi disana, karena jika tidak, mungkin Hyeri hanya akan semakin frustasi ketika memikirkan tiap hal yang Ilhoon lakukan kemarin.

Eonnie, tidakkah kau merasa jika terdapat sesuatu yang salah dengan Ihoon?—karena kau sebelumnya tau benarkan, jika si bodoh itu benar-benar tidak menyukai segala bentuk skinship terutama padaku”

Bomi hanya terus berusaha menahan tawanya setiap kali Hyeri mulai kembali bercerita, “Yeah, tetapi bagaimanapun kalian sudah pernah pula beberapa kali melakukannya, kan? Jadi kurasa, kali ini Ilhoon hanya tengah berusaha untuk menunjukan perasaannya kepadamu, kau tidak perlu merasa khawatir”

“Jinjja?! Bagaimana bisa Aku hanya tidak merasa khawatir, Eonnie? Sekilas Ia benar-benar nampak seperti orang lain” Hyeri menghela nafasnya lagi untuk kesekian kalinya sejak pagi ini.

“Tetapi sesosok orang lain pada diri Ilhoon yang kemarin baru saja kau temukan itu tetap berhasil membuatmu berdebar, kan? Karena bagaimanapun la hanya benar Jung Ilhoon yang selalu memenuhi benakmu selama ini” Jelas Bomi lagi, yang rasanya takkan pernah lelah berusaha untuk meyakinkan Hyeri akan perasaan yang tengah Ilhoon coba tunjukan kepadanya, dan rasanya kali ini Ia hanya benar-benar ingin mengungkapkan semua rencana bodoh yang sebelumnya telah Ilhoon rencanakan semenjak kedatangannya.

“Sepertinya aku benar-benar sudah gila sekarang, Ia bahkan tak pernah sekali saja berusaha untuk meninggalkan benakku barang sebentar saja” Hyeri memejamkan kedua matanya perlahan, rasanya Ia sudah sangat cukup lelah sejak pagi tadi, dan berikutnya seruan keras Sungjae dari luar sana benar-benar berhasil membuat kedua matanya kembali mengerjap, “Choa?! Tidakkah kau mendengarnya, Eonnie?! Sungjae baru saja menyebut nama ‘Choa’ tadi!” Hyeri merubah posisinya, menatap Bomi sesaat, dan kemudian mulai bertindak tak karuan.

“Ilhoon datang~ setiap pagi Ia hanya harus membawa Choa jalan-jalan, kan?~” Bomi nyatanya semakin membuat Hyeri kalang kabut, dan pada akhirnya hanya memutuskan untuk duduk terdiam di atas sofa, seraya menutupi wajahnya dengan sebuah bantal yang entah sejak kapan kini sudah berada di tangannya.

“Choa harus mencobanya! Mereka menyediakan fasilitas terbaru di sana—“ Suara sungjae semakin terdengar, sementara berikutnya seruan Ilhoon yang memanggil-manggil Choa pun turut dapat mereka dengar, hingga pada akhirnya kedua sosok laki-laki itu kini benar-benar sudah nampak pula di dalam ruangan itu, “Woah! Apa yang terjadi? Noona, kau sudah berada di sini sejak pagi bersama—Hyeri? Apa yang terjadi padanya?” Perhatian Sungjae dan Ilhoon kini hanya tertuju pada Hyeri yang masih tidak ingin menampakkan wajahnya, yang terlihat sekarang hanyalah sebuah tubuh jenjang seorang wanita tanpa kepala.

Bomi menahan tawanya dan kemudian bergidik pada sosok Ilhoon yang turut pula sudah tak lagi dapat menyembunyikan senyumnya, “Seperti yang kukatakan sebelumnya, kau harus bertanggung jawab, Jung Ilhoon”

Ilhoon kemudian hanya segera melangkah menghampiri sosok Hyeri, sementara Sungjae masih hanya menatap Bomi dan Ilhoon bergantian, “A-apa? Jadi rencananya sudah berhasil? Kalian kembali berkencan? Congratulation~~” Serunya excited, yang nyatanya behasil membuat Hyeri dengan segera menjauhkan bantal itu dari wajahnya dan menatap mereka semua frustasi, “Rencana?! Sekarang rencana apa lagi?!! Astaga! Bomi Eonniee!!”

Apa kau tidur nyenyak malam tadi?” Tanya Ilhoon seakan tak bergeming dengan kegusaran yang saat ini ditunjukan oleh Hyeri kepada mereka semua.

Hyeri menatap Ilhoon tak percaya dan kemudian segera menjauhkan sosok laki-laki itu dari posisinya saat ini, “Jangan mendekatiku! Kau berbaha—“,”—YA! YA!! Jung Ilhoon!!” Bomi reflex berseru ketika Ilhoon tiba-tiba saja mencium Hyeri, dan berhasil membuat kedua pasang mata yang tersisa hanya terus menyaksikan adegan itu tak percaya.

“Eishh!! Hyung ini sudah benar-benar gila! Jika, Minhyuk hyung menyaksikannya, Ia hanya akan segera melemparmu ke dasar sungai!” Kali ini Sungjae yang berkomentar, sementara Ilhoon dan Hyeri hanya seakan telah memiliki dunia mereka tersendiri, dan pada akhirnya setelah beberapa saat kedua mata Hyeri hanya segera mengerjap dan kemudian mendorong tubuh Ilhoon menjauh darinya, memaksa laki-laki itu untuk menghentikan aksinya karena bagaimanapun Ilhoon hanya benar-benar melakukanya tepat di hadapan Bomi dan juga Sungjae.

“YA! Kau benar-benar sudah gila! Aku tidak mau lagi berteman denganmu!!” Hyeri nyaris menjerit dan kemudian hanya kembali menutupi wajahnya dengan bantal tanpa membiarkan kedua pasang mata itu bertemu sekali lagi, dan nyatanya Ilhoon hanya benar-benar merasa puas dengan apa yang baru saja Ia lakukan, “Ya—hei, Lee Hyeri”

“Aku hanya ingin pulang ke jepang, you’re pervert!” Ilhoon mengulaskan sebuah senyum di wajahnya, Ia bahkan benar-benar nyaris memecah tawa, sementara Bomi hanya bisa menggeleng ketika pandangan mereka beertemu satu sama lain, “Aku akan mengakhirinya, Jung Ilhoon! Jangan mencegahku” Ujar Bomi, yang hanya disambut dengan tawa Ilhoon sebagai gantinya.

Berikutnya Ilhoon segera beranjak dari tempatnya dan menarik lengan Sungjae yang masih mengan-angankan kejadian barusan untuk ikut bersamanya, “Ya! Kajja~ Kita harus membawa Choa jalan-jalan”

“Kau gila ya?”

“Waee?~”

“Waktu itu kau bahkan begitu murka ketika aku tanpa sengaja menciummu” Sosok Sungjae dan Ilhoon yang perlahan menghilang nampaknya masih meninggalkan jejak percakapan yang sangat membuat Bomi dan bahkan Hyeri sendiri tak dapat menahan tawanya, “YA! Tentu saja karena kau menjijikan”

“Jadi aku menjiji—“—dan berikutnya percakapan bodoh itu hanya tak lagi dapat terdengar.

Setelah keadaan menjadi cukup terkendali, Bomi kembali menaruh perhatiannya pada sosok Hyeri yang masih nampak frustasi itu, “Woahh~ Rasanya sekarang aku benar-benar percaya dengan apa yang kau ceritakan sejak pagi tadi~” Tuturnya dan berhasil membuat Hyeri menghentikan aksi sembunyi-sembunyinya itu, “Eonnie, aku bersungguh-sungguh, kan?”

Bomi mengulas senyumnya, “Kau pasti terkejut mendengarnya, tetapi bagaimanapun aku hanya harus mengatakannya, semua yang terjadi beberapa hari ini sebenarnya merupakan rencana Ilhoon”

“Jinj—jja?!” Hyeri mengerjapakn kedua matanya tak percaya, seraya merubah posisi duduknya kini semakin menghadap kepada Bomi, seakan tengah menanti segala penjelasan yang seharusnya Ia ketahui sejak lama itu.

“Yeah. Jadi, pada awalnya—“

.

.

.

“Hei, apa yang terjadi padamu? Kau benar-benar menakutkan jika terus tersenyum seperti itu” Ilhoon berkomentar, ketika Ia temukan sosok Hyeri yang saat ini hanya tak berhenti mengulaskan senyum di wajah cantiknya itu, dan tak dapat dipungkiri jikalau nyatanya Ilhoon benar-benar menyukainya.

Hyeri hanya nampak acuh atas komentar yang baru saja Ilhoon tujukan padanya sementara lebih menghiraukan pertanyaan yang baru pula Bomi ajukan, “Eung. Aku harus segera pergi ke universitas hari ini, ada beberapa berkas yang harus dengan segera dilengkapi” Jelasnya lagi, dan kemudian segera beranjak dari tempatnya, “Aku akan menghubungimu lagi  sampai nanti, Eonnie~ Gomapta~”

Bomi melambaikan tangannya, dan kemudian kembali mengulas senyum ketika Ia sadari jikalau sosok Ilhoon turut pula beranjak dari posisinya dan ikut melangkah tepat di belakang Hyeri setelah sebelumnya sempat memberikannya sebuah wink, “Jangan menciumnya di depan umum lagi, Jung Ilhoon!” Seru Bomi dan perlahan sosok Hyeri dan lhoon sudah tak lagi terlihat.

Kajja! Aku akan mengantarmu”

Hyeri menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik dan menatap Ilhoon penuh curiga, “Waee?! Kau bilang aku menakutkan?!”

“Kau memang menakutkan” Tutur Ilhoon lagi, yang kemudian dengan segera hanya meraih pergelangan tangan Hyeri dan mendorongnya masuk ke dalam mobil, “Lagipula, sepertinya kau memiliki banyak hal untuk dibicarakan padaku, ya kan?”

Hyeri hanya berdesis hingga keduanya kini telah berada di dalam mobil, dan perlahan Ilhoon mulai melajukan mobilnya, sementara berikutnya Hyeri hanya terus menatap laki-laki itu dengan sebuah senyum, “Sejak kapan kau menjadi laki-laki yang begitu manis seperti ini, ilhoonie~?”

“Sekarang kau benar-benar tengah berbahagia sepertinya?” Ilhoon melirik Hyeri sesaat, dan kemudian tertawa kecil.

“Tidak juga sih, sebenarnya terdapat beberapa hal yang terus menggangguku”

“Hanya mengatakannya”

Hyeri menyipitkan kedua matanya, kemudian merubah posisi duduknya dan perlahan semakin mendekatkan dirinya pada  sosok Ilhoon yang kini masih memegang kemudi, “Hei! Kau membuatku sulit berkonsentrasi”

“Hoonie, membiarkanku melihat dompetmu sebentar saja”

Ilhoon menaikan salah satu alisnya dan kemudian tertawa, “Waee?! Hanya mengambilnya sendiri jika kau memang menginginkan—“

“—geurae” Hanya dengan satu hentakan kini Hyeri langsung berusaha untuk meraiih dompet Ilhoon yang sesungguhnya Ia bahkan tak ketahui berada dimana, dan ketika rasanya konsentrasi Ilhoon benar-benar mulai runtuh dengan cepat laki-laki itu hanya meraih sebuah dompet dari dalam saku celana belakangnya dan kemudian menyerahkannya kepada Hyeri, “Gomap—woaahh!” Berikutnya Hyeri langsung menunjukan sebuah reaksi, dan ketika itu pandangannya kembali menatap Ilhoon dan sebuah kartu yang baru saja Ia keluarkan dari dalam dompet itu secara bergantian, “Kau benar-benar senang sekali mempermainkanku, ya? Astaga! Kau bahkan sudah menerima kartu ini sejak 1 tahun yang lalu, Jung Ilhoon”

“Waeee? Kenapa kau melakukannya?! Eishh—seharusnya sejak awal kau hanya harus mengatakan, ‘Hyeri, maafkan aku, aku benar-benar merindukanmuuu~’ seperti itu, kan?” Ilhoon mengulas senyumnya, setelah kembali melirik sosok wanita itu selama beberapa saat.

“‘Hyeri-a, apa sekarang terdapat laki-laki lain yang membuatmu berpaling dari Ilhoon’ atau ‘Lee Hyeri, kau tidak sedang berkencan kan?’, you’re such a stupid liar!” Tambah Hyeri lagi, yang pada akhirnya hanya membuat Ilhoon memutuskan untuk menghentikan laju mobilnya, dan kemudian merubah sedikit posisi duduknya menjadi berhadapan secara langsung dengan Hyeri, dan lagi-lagi sebuah senyum nampak di wajahnya yang tampan, “Tidakkah kau menyukainya? Menyaksikanku melakukan hal-hal silly seperti ini hanya untukmu?”

Hyeri mengerutkan keningnya dan selama beberapa saat berusaha untuk menahan sebuah senyum agar tak nampak di wajahnya untuk saat ini, “Seharusnya kau tidak perlu beracting sebagai Bomi Eonnie, bodoh! Maka aku akan jauh lebih menyukainya~”

“Bagaimana aku bisa melakukannya? Kau bahkan tidak berusaha menghubungiku sejak saat itu”

“Aku melakukannya karena Kau yang menginginkannya, kan? Eishh—kau tidak mengingatnya? Ketika aku mengatakan bahwa aku akan pergi ke jepang, kau menciumku dan berikutnya kau hanya mengambil kembali kalung yang sebelumnya kau berikan dan mengatakan jika kau akan melupakanku, benar?” Hyeri menggelengkan kepalanya, namun berikutnya yang terlihat di wajah cantik itu hanyalah sebuah senyum, “—tetapi, siapa yang peduli sekarang dengan apa yang sebelumnya kukatakan? Aku merindukanmu, Hyeri”

Nado bogoshiposo~

“dan Aku juga mencintaimu” Ujar Ilhoon lagi, yang sontak pada saat itu juga berhasil membuat Hyeri tak bisa sekali saja menghapuskan sebuah senyum dari wajahnya, “Nado saranghae, Jung Ilhoon” Hyeri kemudian membuat kedua tangannya melingkar pada leher laki-laki itu, dan mengejutkannya dengan sebuah light peck yang manis, “Did you remember our first kiss?”

Ilhoon menggeleng masih dengan sebuah senyum di wajahnya, “Molla” Jawabnya berbohong.

“Kau melakukannya di ruang seni ketika kau baru saja menyadari jika ternyata aku benar-benar wanita yang cantik” Jelas Hyeri yang sontak memecah tawanya, Ia hanya benar-benar tak dapat melupakan kejadian mengejutkan itu untuk seluruh hidupnya.

“Kau cantik? Really~? And for the second?”

“Eungg—“ Hyeri mengandai-andai, berusaha untuk mengingatnya, “—aku melakukannya di hari ulang tahun Bomi” Ujar Ilhoon, yang kontan membuat Hyeri menatapnya tekejut dan kembali mengembangkan senyumnya, “Ah benar. Lalu, kau menciumku lagi ketika kukatakan aku harus pergi ke jepang, dan kemudian kau melakukannya lagi kemarin di café, serta di apartmentku, dan hari ini juga tepat di hadapan Bomi Eonnie dan Sungjae, lalu—“ Hyeri menghentikan kalimatnya dan kini membiarkan Ilhoon kembali berbicara, “—apa yang harus dilakukan saat ini? Aku benar-benar telah menghabiskan tiga kesempatanku untuk menciummu”

“Geurae. Hanya tidak lagi melakukannya~” Ujar Hyeri yang kemudian berupaya untuk menarik kembali kedua tangannya dari leher Ilhoon yang nyatanya harus tertunda karena pada detik berikutnya Ilhoon hanya telah kembali menautkan bibirnya pada bibir Hyeri dengan segala harapan bahwa kelak di kemudian hari Ia akan selalu memiliki kesempatan-kesempatan seperti ini untuk selamanya.

Fin.

Advertisements

2 thoughts on “Another Me!

  1. awww …..Hyeri and Ilhoon … I love this couple >•< ❤
    jdi sblum hyeri ke jepang , dia dan ilhoon pernah pacaran yaaa …
    ciee ceritanya keren …si cutie pie jdi so sweet 😀
    bikin lgi ffnya Hyeri dong thor ^^

    • Haiiii^^^

      Aku seneng bgtt ada yg sukaaa dan aku emang ilhoon hyeri shipper bgtttt :’D tapi jarang jarang ada ff tntang mereka kkkk

      Makasihh yaa udah mau bacaa /bighuggg/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s