The Time We had Together

cover kai

Yoon Minhyo’s art, plot and story lines.

With our beautiful Park Jiyeon and our beloved Kim Jong In as the main cast.

Some beautiful angst story with a their heart.

 

-Even if you’re path of fire, I’ll jump into you-

………………….

…..

 

Author’s Pov

“Ya!Bangun!Yeoja tukang tidur! ” Seru Kai seraya menggoncang-goncang pelan tubuh Jiyeon yang masih terlelap.

Jiyeon tidak bergeming, Ia bahkan hanya merubah posisinya tanpa membuka kedua matanya sedikitpun, “Eung….”

“Ya! Ppali! Ppali!” Kali ini Kai membuka tirai jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk menyinari Jiyeon yang sama sekali tidak terbangun.

“Eung….” Gumam Jiyeon lagi, lalu kini kedua matanya mengerjap begitu terkena cahaya matahari yang menyilaukan, “Arghhh, siapa yang membuka tirainya?!”Gerutunya kesal, seraya menarik kembali selimutnya menutupi wajah.

Namun dengan cepat Kai segera menarik kembali selimut itu, “Aku yang membukanya!Kau harus segera bangun Park Jiyeon!”

“…E-eh? Kai?!”Jiyeon kembali mengerjapkan kedua matanya begitu melihat sosok Kai kini tengah menatapnya sambil tersenyum, “Aku kembali” Seru Kai berikutnya, hingga membuat Jiyeon terlonjak kaget, “Astaga?!Kenapa kau bisa berada disini?!”

“Ya!Aku sudah merasa jauh lebih baik!”Kai mengacak-acak rambut Jiyeon yang masih sangat berantakan, “Dan sebentar lagi kita akan ujian, kan?Kau ingin aku tidak lulus?”Lanjutnya lagi kemudian menarik lengan Jiyeon hingga membuat yeoja itu berdiri.

“Haahh, kau tau? Aku sangat merindukanmu” Gumam Jiyeon lalu segera memeluk Kai yang kini tengah berdiri dihadapannnya.

Kai tersenyum kecil lalu membelai lembut kepala Jiyeon, “Kau memelukku sekarang? Aishh kau bahkan belum mandi, Jiyeon”

“Hehe Mianhae, aku akan segera mandi sekarang” Seru Jiyeon kemudian meraih handuknya dan segera berlari memasuki kamar mandi.

***

Kai’s Pov

Haahh Jiyeon benar-benar selalu membuatku harus menunggu lama, tapi sebenarnya aku mulai merindukan saat-saat seperti ini, saat dimana aku harus menggunya lama begitu kami akan berpergian, ataupun saat dimana aku harus membangunkannya begitu pagi menjelang.

Kuputuskan untuk segera pulang dan kembali beraktifitas begitu kurasakan keadaanku kini sudah sedikit membaik.Kau tau?Harus berada di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama benar-benar membosankan, dan membuatku jenuh.

“Mianhae, membuatmu menunggu lama!”Seru Jiyeon riang, begitu menuruni anak tangga yang menghubungkan kamarnya dengan ruang tamu.

“Apa yang terjadi?Kau nampak begitu senang?”Tanyaku heran, “Astaga!Apa kau begitu senang bertemu denganku, Jiyeon?”

Kini kulihat yeoja manis itu menganggukan kepalanya, “Eung, bertemu denganmu salah satu hal yang membuatku senang pagi ini”

“E-eh?Ada hal lainnya?”

“Kau kembali dengan kondisi yang baik seperti ini” Jiyeon kemudian tersenyum, “Benar-benar membuatku senang, melebihi apapun”

Aku balas tersenyum kemudian mencubit pipinya gemas, “Jinjjaeyo?”

“Aaaahhh appo!” Rengeknya manis, lalu segera menarik tanganku menuju keluar, “Kau tidak berpamitan dulu?” Tanyaku kemudian.

Jiyeon menggeleng, “Ahniyo.Eomma dan Appa pergi ke Jepang sejak kemarin”

“Begitukah? Baiklah Kajja”

Kami melangkah keluar menuju ke tempat mobilku terparkir, sedetik kemudian kulihat Jiyeon menaikan salah satu alisnya kemudian menatapku heran, “Kau membawa mobil?”

Aku mengangguk bangga, “Ne, waeyo?”

“Kau bahkan belum cukup umur, Kai” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ya! Tapi aku sudah ahli dalam  mengemudi,  ayolah” Ujarku seraya mendorong tubuhnya masuk kedalam mobil.

***

Author’s Pov

Jiyeon terus sibuk mengganti setiap lagu yang bahkan baru saja terdengar intronya, “Ya!Berhenti melakukan hal itu, Jiyeon” Tegur Kai seraya melirik yeojanya itu.

“—tapi tak ada yang enak didengar, Kai…”

“Itu…” Kai mengetuk dashboard mobilnya cepat, “Kaset SHINee mu ada didalam sana”

“Eh? Astaga!Aku mencarinya sejak tadi” Jiyeon tersenyum senang, lalu dengan segera membuka dashboard itu, mengambil kaset SHINee nya dan menyetelnya.Hingga kini suara lembut Kim Jonghyun dan yang lainnya memenuhi seluruh pelosok mobil.

“..Kai…”

Kai kembali melirik Jiyeon sekilas, “Eung?”

Jiyeon menatap Kai lekat-lekat,“Jika aku memiliki sebuah permintaan apa kau bersedia untuk mengabulkannya?” Kemudian tersenyum lebar sambil menatap namjanya itu penuh harap.

“Eh? Andwaeyo!Permintaanmu pasti sesuatu yang aneh-aneh” Tolak Kai cepat.

Jiyeon memanyunkan bibirnya lucu, “Ya! Aku bahkan belum mengatakannya”

“Tapi aku tau apa yang mungkin kau inginkan,sayang” Ujarnya lagii kali ini sambil terkekeh pelan begitu melihat Jiyeon yang semakin memanyunkan bibirnya.

“Kau pelit sekali, dasar nappeun namja!” Cibir Jiyeon.

Kai tertawa kecil, “Kkkk~ baiklah. Kau punya satu kesempatan”

“E-eh?Mengapa hanya satu? Aku mau tiga…!”

“Ahniyo. Hanya satu”

“Tiga ya?”Jiyeon kembali menatap Kai, dan semakin mendekati namja yang tengah menyetir itu, “Ya!Kau membuatku sulit berkonsentrasi!”Protes Kai berusaha membuat Jiyeon menjauh, hisshh yeoja ini benar-benar berbahaya, batinnya lalu tersenyum.

Kali ini Jiyeon menunjukan aegyonya, “Jebbal…”

Kai kembali melirik Jiyeon lalu akhirnya mengangguk, Ya! Kim Jong In, kau benar-benar namja lemah! Batinnya, “Baiklah. Kau punya dua kesempatan”

“E-eh?—!?” Baru saja Jiyeon ingiin kembali memprotes, namun Kai sudah memotong kalimatnya, “Sayang, kau bisa memilih dua atau tidak sama sekali, bagaimana?”

Jiyeon mendesah pelan lalu menyenderkan kepalanya di bahu Kai, “Haaahh, baiklah.Berikan aku waktu untuk memikirkannya, Ne?”

Kai mengangguk setuju, “Tapi—”

“Ya!Apa lagii?”Jiyeon melirik namjanya ituu mulai gemas.

“Kali ini kau benar-benar membuatku sulit untuk menyetir, Park Jiyeon” Jelas Kai, hingga akhirnya dengan cepat Jiyeon mengangkat kepalanya sambil tersenyum menatap Kai, “Hhehe Mianhae, Kim Jong In”

***

Jiyeon’s Pov

Kau tau? Didalam duniaku terdapat 2 hal yang paling berharga melebihi apapun.Firstly, Eomma dan Appa yang bahkan tak pernah meluangkan sedikitpun waktu mereka. And secondly, Kai yang telah mengambil begitu banyak bagiandi dalam hidup ini.

“Apa yang kau pikirkan hingga termenung seperti itu?” Tanya Kai tiba-tiba memecah segala keheningan yang terjadi.

Aku tersenyum menatapnya, sosoknya kini yang kembali berada disisiku dengan segala kondisinya benar-benar membuatku bahagia, “Aku memikirkanmu, Kai..”

“Eh? Kau memikirkanku?”

“Eung” Aku mengangguk, kini kulihat Kai mengambil posisi tepat dihadapanku kemudian menatapku dengan kedua matanya yang indah, “Katakan padaku Jiyeonnie, apa yang kau pikirkan?”

“Aku tak ingin mengatakannya”

“Waeyo?”Tanya Kai seraya menaikan salah satu alisnya.

“Aku sama sekali tak punya alasan untuk itu” Aku tertawa kecil, dan kini kulihat Kai mencibir pelan, “Ah, Kai…” Ujarku lagi.

Kai kembali menatapku penuh tanya, “Apa lagi? Kau berubah pikiran?”

“Ahni” Aku menggeleng pelan, “Mengenai perrmintaanku, aku sudah memikirkan yang pertama”

“Jinjja?Katakan, apa itu?”

Aku tersenyum senang seraya mengetuk pelan meja perpustakaan hingga membuat suara ketukan-ketukan kecil, “Kau berjanji akan bersedia melakukannya,kan?”

“………”

“Ya! Kau sudah berjanji” Protesku begitu mendapatkan flat respon dari Kai barusan, berikutnya Ia tertawa kecil dan mengacak-acak rambutku hingga  berantakan, “Ya! Kau membuatku terlihat bodoh!”Seruku lagi.

“Baiklah.Aku berjanji akan melakukannya untukmu, Jiyeon” Ujarnya lagi.

“…Kau mau mengajariku bagaimana cara menyetir kan, Kai?”

Kai membelakakan kedua matanya, “E-eh?”

***

Author’s Pov

“Andwaeyo”

“Ya!Kau bahkan sudah berjanji akan melakukan apapun” Jiyeon mengguncang pelan lengan Kai yang tengah menyetir.

Astaga, sejak pagi Jiyeon sama sekali tidak berhenti merajuk mengenai permintaan bodohnya itu, “Aku tidak akan melakukannya, Jiyeon” Putus Kai mutlak.

“Waeyo? Kau hanya perlu mengajariku sedikit saja, ayolah”

Ngitttt—!

Kai menepikan mobilnya tiba-tiba, lalu menatap Jiyeon jengkel, “Kau pikir aku akan melakukannya, Park Jiyeon?!”

“Eung.Kau sudah berjanji” Gumam Jiyeon pelan kali ini tanpa menatap Kai sedikitpun.

“Ya!Aku tak akan membiarkan kau yang begitu ceroboh seperti ini membahayakan dirimu sendiri”

“—tapi….”

“Andwaeyo, Park Jiyeon”

Jiyeon menarik nafas panjang lalu mendesah pelan, “Baiklah.Aku mengerti” Ujarnya penuh kekecewaan.

Kai tersenyum penuh kemenangan, namun sedetik kemudian kedua matanya melirik Jiyeon yang masih menatap keluar jendela sedih, “Apa aku membuatmu sedih?”

“…Ahni

“Benarkah? Tapi kau terlihat sedih”

Jiyeon menoleh kemudian menatap Kai kesal, “Ahni.Aku tidak sedih ataupun kesal Kim Jong In”

“Kau baru saja mengatakannya”

“Hishh lupakan”

Kai mengetuk-ngetuk pelan stir mobilnya, “Kau benar-benar ingin aku melakukannya?” Ujarnya mulai luluh, astaga!Kim Jong In kau benar-benar lemah terhadap yeoja ini, batinnya dalam hati.

“E-eh?Kau berubah pikiran?”Jiyeon kembali menatap Kai antusias, kali ini sebuah senyum lebar terlukis diwajahnya.

“………”

Lagi-lagi Jiyeon kembali mengguncang pelan lengan Kai, “Ayolah, Kai! Aku berjanji akan berhati-hati”

“Kau harus berjanji ketika kau sudah bisa melakukannya, kau tidak akan mencobanya seorang diri tanpaku bersamamu”

“Aku berjanji” Seru Jiyeon senang, namun Kai hanya bisa tersenyum ragu akan keputusannya kali ini.

***

Kai’s Pov

Kurasa keputusanku untuk melakukan hal ini benar-benar keputusan yang salah, astaga!Bagaimana tidak?Kini dapat kulihat Jiyeon benar-benar nampak antusias dan sangat bersemangat, Oh tuhan kuharap kali ini aku tidak melakukan kesalahan apapun.

“Kau benar-benar yakin akan melakukannya?”Tanyaku lagi pada Jiyeon yang kini sudah berada dibalik kemudi dengan sebuah senyum lebar diwajahnya.

Jiyeon terkekeh pelan, “Oh ayolah,Kai. Jangan berlebihan, kau hanya perlu percaya padaku”

“Hishhh bagaimana bisa aku percaya pada yeoja sepertimu” Gerutuku kesal seraya mengacak-acak rambutku frustasi.

Akhirnya setelah beberapa saat kuhabiskan sedikit waktu untuk menjelaskan beberapa hal penting yang harus Jiyeon ketahui sebelum Ia mulai belajar menyetir, “Jadi, hal pertama yang harus ku lakukan adalah menyalakan mesinnya, benarkan?”Ujarnya kemudian salah satu tangannya menekan tombol starter, dan dalam sekejap mesin mobil itu kini telah menyala.

“Oh ini begitu mudah” Gurau Jiyeon lagi,kedua tangannya kini sudah bersiap memegang stir.

Kedua mataku terus memperhatikan Yeoja  ini penuh keraguan, ”Sekarang, letakan kaki kananmu pada pedal rem”

Ne,sudah” Jiyeon menganggukan kepalanya,dapat ku ketahui kali ini Ia mulai gugup, “Jangan gugup, sayang” Ujarku kemudian, namun Jiyeon sama sekali tidak bergeming, “Apa lagi yang harus kulakukan”

“Injak koplingnya, lalu gerakan tongkat prosnellingnya ke gigi 1” Jelasku, “Setelah itu lepas koplingnya perlahan-lahan”

Kulihat Jiyeon menggeleng pelan, “Aishh betapa sulitnya” Gumamnya pelan, hingga membuatku tersenyum kecil, dan kemudian—BRUM!

“Oh astaga! Injak pedal remnya, Jiyeon” Seruku keras begitu mobilnya tergelonjak dan tiba-tiba melaju dengan cepat, “Aaaa Eotthokae?!” Pekiknya kemudian—NGITTT! Pada akhirnya mobil itu berhenti dengan keras.

***

Author’s Pov

“Hhhhhh…..”Jiyeon berusaha mengatur kembali nafasnya yang mendadak terengah-engah, namun sedetik kemudian kedua matanya melirik sosok Kai sekilas, “Hehehe Mianhae, Kai. Kau tau? Nyatanya tak semudah yang kubayangkan” Ia kemudian tersenyum kecil.

Kai menatap yeojanya itu tak percaya, “Kau? Aishh Jinjjaeyo? Kau benar-benar nyaris membuatku jantungan, Park Jiyeon!”

“Kita coba sekali lagi ya, Kai?” Pinta Jiyeon manis.

Oh Kai kau tak bisa membiarkannya melakukan hal seperti ini lagi, ini benar-benar terlalu berbahaya!! Batin Kai dalam hati namun, “Aku akan memulainya lagi,sayang” Seru Jiyeon mematahkan semua keputusan Kai.

Kini perlahan-lahan Jiyeon kembali memulai langkah awalnya menyalakan mesin mobil, menginjak pedal rem, menarik tongkat prosnelling seraya menginjak koplingnya, dan kemudian saat yang tersulit tiba, “Perlahan-lahan”

Jiyeon menarik nafas dalam-dalam, kemudian dapat mereka rasakan mobil itu kini berjalan perlahan-lahan, “Ooohhh aku bisa melakukannya, Kai!”Seru Jiyeon senang.

“Tenanglah.Sekarang coba putar kemudinya perlahan-lahan”

“Ne,arraseo” Jiyeon mengangguk mengerti, kemudian mulai memutar kemudinya perlahan-lahan hingga akhirnya mobil itu kini berbelok pelan dan teratur, “Ohh astaga, Kai! Aku bisa melakukannya dengan baik sekali kan?”

Kai tersenyum senang menatap Jiyeon yang kini masih berkonsentrasi dibalik kemudinya, “Kau melakukannya dengan baik”

“E-eh?Apa sekarang keahlianku sudah melebihimu, Kai?”Tanya Jiyeon riang.

“Hahaha dalam mimpimu, sayang” Kai memecah tawanya membuat Jiyeon mencibir pelan.

Setelah beberapa kali Jiyeon mengulangi beberapa practice-nya, mereka pun memutuskan untuk segera mengakhiri saat-saat menegangkan mereka tersebut.

“….Sepertinya akan turun hujan” Jiyeon yang tengah menikmati ice cream ditangannya menatap ke langit-langit yang mulai menggelap. Kali ini Ia sadar, secepat mungkin Ia harus segera membuka kedua matanya, menatap setiap kenyataan yang menantinya didepan sana.

Kai terdiam membiarkan hembusan angin menerpa tubuhnya yang kini mulai terasa begitu tak berdaya, “Kai..”Panggil Jiyeon tiba-tiba.

“Ada apa?Kau ingin kembali sekarang?”

Jiyeon mengangguk, “Kurasa kita harus segera kembali”

***

Jiyeon’s Pov

“….Kai….” Lirihku, kedua mataku terus menatap sosoknya yang tengah menyetir kini nampak semakin memucat. Tuhan! Kumohon…. jangan biarkan satu pun tetes air mata mengalir dari kedua mataku, jangan biarkan Ia melihatku menangis, kumohon Tuhan.

Kai melirikku sekilas, lalu sebuah senyum kecil terlukis diwajahnya yang beberapa hari ini kusadari semakin mengurus, “Ada apa?”

Park Jiyeon! Kau hanya perlu menahannya, lakukan persis seperti apa yang kau lakukan beberapa hari ini, “..Ahniyo..”Ujarku kemudian kembali mengalihkan pandanganku keluar jendela, berusaha menghindarinya melihat air mataku yang kini mulai jatuh mengalir.

“…Kai…”

“Hmm?”

Aku terdiam lalu tersenyum pahit seraya menghapus jejak air mataku kemudian menatapnya lembut, “Kau ingat?Aku masih memiliki satu permintaan lagi bukan?”

“Kau sudah memikirkannya?”

Aku mengangguk pelan, “Ne”

“Katakan, Jiyeonnie” Ucapnya begitu lirih, Tuhan!Apayang kau lakukan terhadapanya?! Kumohon, berhenti untuk menyakitinya sepertii ini!

“Biarkan..aku selalu….bersamamu, Kai”dan kali ini tangisku benar-benar pecah, “Mianhae, Kai. Jeongmal Mianhae….Aku tau, tak seharusnya aku menangis seperti ini.Aku tau, kau pasti berpikir aku lemah bukan? Mianhae, Jeongmal Mianhae”

Kai terdiam kemudian menepikan mobilnya disudut jalan, “…..Tak seharusnya aku membawamu masuk kedalam situasi seperti ini, Jiyeon….” Ujarnya pelan hingga benar-benar membuat tangisku semakin pecah.

“Mulai saat ini kau bisa pergi dariku, Jiyeon-a.Kau bahkan menyadarinya bukan? Waktuku sudah hampir habis”

Oh Tuhan!Kumohon! Hentikan waktumu saat ini juga!Jangan biarkan aku merasakan sakit lebih dari ini, jangan biarkan aku melihat air matanya yang mengalir, jeritku dalam hati.

“Ahniyo!….Aku tak akan melakukannya, Kai.” Ujarku lalu segera menghambur kedalam pelukannya, “Biarkan  aku, Jebbal! Biarkan aku untuk selalu bersamamu, Kai! Kumohon!” Pintaku tak kuasa menahan tangis yang kini semakin pecah, namun Kai sama sekali tidak memberikan jawaban, yang dapat kurasakan hanyalah kehangatan tubuhnya, dan kelembutannya ketika salah satu tangannya membelai lembut kepalaku.

Kai melepaskan pelukannya dan kini menatapku dengan senyum pucatnya,”Even if I die tomorrow?What will happen to you, Jiyeon-a?”

***

Author’s Pov

Jiyeon mengerjapkan kedua matanya begitu Ia rasakan cahaya matahari yang bersinar sangat terang mulai masuk melalui celah-celah jendela.

Good morning” Kai tersenyum tipis begitu melihat kedua mata yeojanya itu perlahan terbuka.

Morning” Jiyeon balas tersenyum pada Kai yang saat ini masih terbaring lemah di atas ranjangnya, “Bagaimana keadaanmu?”

Kai menggerakan sedikit bahunya, “Terasa lebih baik” Ujarnya berbohong.

“Kau tidak pulang?” Tanya Kai lagi, namun Jiyeon hanya bangkit dari kursinya kemudian meregangkan sedikit tubuhnya membuat sebuah gerakan-gerakan kecil, “Tidak.”

“Mana Eomma?”Kedua matanya melirik kesekeliling ruangan.

Jiyeon tersenyum lalu membelai lembut kepala Kai, “Ahjumma nampak kelelahan, jadi ahjussi memutuskan untuk membawanya pulang semalam.”

“Oh” Kai menatap kelangit-langit rumah sakit yang begitu hampa, “Kau juga pasti lelah, kan? Kau bisa pulang kapan saja kau mau” Ujarnya kemudian.

“Ahni. Aku tidah lelah” Sahut Jiyeon  tanpa beban, Ia kemudian membuka lebar tirai jendela, membiarkan cahaya hangat matahari pagi memenuhi pelosok ruangan ini.

Kai memejamkan  keduamatanya pelan, menarik nafas panjang kemudian kembali tersenyum pada Jiyeon yang saat ini tengah menatapnya penuh arti, “Ya! Park Jiyeon! Kau sadar? Kau benar-benar membuat kisah kita seperti sebuah adegan di drama tv” Guraunya pelan lalu tertawa kecil.

Namun Jiyeon sama sekali tidak tertawa, Ia hanya menatap lurus kai, “Seperti itukah? Maka, bagaimana akhirnya?Setiap drama pasti memiliki akhir bukan?”

“Bukannya kita berdua yang menentukan?Akankah berakhir bahagia?Ataukah berakhir menyakitkan?” Kai yang sejak tadi masih terbaring berusaha untuk sedikit bangkit, “Sebuah akhir seperti apa yang kau inginkan, Jiyeonnie?” Tanyanya lagi.

“…….”

“…………………”

Hening….mereka berdua terjebak dalam keheningan pada sebuah pilihan sulit, “Kau tau?Aku akan memilih akhiir dimana aku akan selalu bersamamu, tak peduli jika itu harus berakhir menyedihkan ataupun bahagia sekalipu” Jelas Jiyeon kemudian.

Kai tersenyum tipis, “Kau bisa menarik kata-katamu sebelum terlambat, Jiyeonnie”

“Aku tak akan pernah menariknya”

“……Seperti itukah?” Kai menarik nafasnya dalam-dalam, menahan semua rasa sakitnya, dan juga mengerahkan seluruh tenaga yang saat ini Ia miliki, “Kau tau aku begitu menyayangimu?” Tanyanya lagi begitu lirih.

Jiyeon mengangguk tanpa sedikitpun rasa takut terpancar dikedua matanya, “Aku menyesal membuatmu seperti ini, Jiyeon. Hidupmu harus terus berlanjut”

“Aku tidak akan melakukannya tanpa kau”

Kai terdiam, kembali memejamkan keduanya sambil menahan rasa sakit ditubuhnya dan juga didalam hatinya, “Kau masih punya banyak waktu… sayang…. untuk berpikir……. dan…… kem…. bali….. me..narik….. keputusan….mu….”

Jiyeon hanya terus menatap kosong Kai yang perlahan-lahan mulai memejamkan kedua matanya, “Haahh kurasa…aku…harus…beristirahat…seb..ben…tarr….” Lirih Kai lagi kemudian tersenyum tipis dengan kedua matanya yang akhirnya menutup.

“Aku tak akan mengucapkan selamat tinggal padamu!Aku mencintaimu, Kim Jong In” Bisik Jiyeon pelan, begitu Ia rasakan tubuh Kai yang sudah tak lagi bernyawa. Jiyeon tersenyum pahit, menahan air matanya yang mungkin akan segera jatuh, namun Ia salahair matanya kini bahkan sudah tak sanggup lagi mengalir, “Ini adalah akhir”

***

“Hei, Kai…”

“Kau tau?Mereka pikir aku sudah gila” Jiyeon tersenyum tipis seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, membiarkan hembusan angin malam menghantam keras tubuhnya yang kini benar-benar tak lagi berdaya.

“Terima kasih, Kai” Ujar Jiyeon lagi.

“Terima kasih?Untuk apa?”

Jiyeon tersenyum kecil,”Untuk menepati janjimu”

“Janji?”

“Membiarkanku untuk selalu bersamamu. Terima kasih”

Semua yang terjadi benar-benar diluar kuasaku

“Aku tau”

“—tapi…”—“Kau tidak menepati janjimu, Jiyeonnie”

“Kau tau, Kai? Ada kalanya untuk mendapatkan sesuatu kita harus mengorbankan hal-hal yang berharga sekalipun”Jelas Jiyeon, tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan mobilnya kini, “Termasuk mengorbankan janji yang pernah kubuat padamu, maafkan aku”

“Apa pada akhirnya hal itu membuatmu bahagia?”

Lagi-lagi Jiyeon kembali tersenyum, “Tentu saja”

BRUAK!!!!! NGIT!!!!!—sedetik kemudian mobil itu menghantam keras pembatas jalan, dan dalam sekejap semuanya berakhir.

Sebuah kisah yang bagaikan sebuah drama tv, kini harus berakhir seperti ini. Entah dengan sebuah kesedihan ataupun kebahagiaan, nyatanya Jiyeon benar-benar telah memilih untuk selalu bersama Kai walau dengan akhir yang menyakitkan sekalipun

“Kau tau kisah Romeo dan Juliet, Kai?” Tanya Jiyeon polos ketika dirinya dan Kai tengah menghabiskan waktu bersama di balkon rumahnya sambil membaca sebuah buku.

Kai mengerutkan alisnya, “Romeo dan Juliet?”

“Eung, Romeo dan Juliet” Jiyeon menganggukan kepalanya, lalu tersenyum senang, “Sebuah kisah cinta yang tragis”

Kai terdiam mencoba mengingat-ingat, “Ah aku tau”

“Lalu, bagaimana menurutmu?”

“Apanya?”

Jiyeon menatap Kai antusias, “Kisah cinta mereka”

Kai berdecak pelan, “Mm tragis—mungkin”

“Begitukah?Kisah cinta suci mereka?”

“Ahni.”

Jiyeon menaikan salah satu alisnya tak mengerti, “Lalu?”

“Mereka mati dalam kebodohan mereka sendiri”

“E-eh?Begitukah?”

Kai menganggukan kepalanya, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada buku yang tengah Ia baca, “—tapi, kau tau Kai? Aku tetap menyukai karakter Juliet yang pada akhirnya lebih memilih untuk mati bersama Romeo”

EPILOG

“Aku benar-benar tak mengerti” Haneul menggelengkan kepalanya sambil sesekali melirik Kai yang kini tengah membaca bukunya dan nampak begitu pucat.

“Ya! Park Jiyeon” Ujarnya lagi mulai kesal dengan sahabat yang nampaknya sama sekali tidak menghiraukan apa yang Ia katakan sejak tadi.

Kini giliran Jiyeon yang menatap Haneul kesal, ”Mwoya?”

“Bagaimana bisa? Kau bahkan melihatnya kan? Kai benar-benar terlihat tidak dalam kondisi yang baik!”

Jiyeon terdiam lalu melirik Kai dan kemudian tersenyum tipis, “Tidak baik apanya? Ia bahkan terlihat jauh lebih baik saat ini, Kim Haneul”

“Kau!!” Haneul menatap Jiyeon tak percaya, “Buka matamu, Park Jiyeon!Kau tak bisa seperti ini terus!” Ujarnya lagi seraya mengguncang pelan bahu Jiyeon.

“….Ia baik-baik saja,Haneul-a

Haneul terdiam menatap Jiyeon yang kini mulai meneteskan air matanya, “Berhenti untuk terus menutup matamu, Jiyeonnie! Kau bahkan mengetahuinya lebih dari siapapun”

“Lalu,apa yang harus kulakukan?” Jiyeon menundukan kepalanya lalu kembali menangis, “Yang dapat kulakukan hanyalah menutup kedua mataku, Haneul-a. Aku tak bisa melihatnya menderita lebih dari ini”

“……”

Finnnn

Happy valentine’s day.

Advertisements

13 thoughts on “The Time We had Together

  1. wah tragis… aku kira gak bakal sad ending mengingat awal kisah mereka manis gitu, sweet! tp kenyataannya kai pny penyakit. walaupun kai udah mewanti” kisah juliet meninggal itu adalah kebodohan. tetep aja jiyeon jg ikut meninggal bersama cintanya kyk juliet, huhuhu..
    keren, keren 🙂 aku suka.

  2. aaaa ini sedih banget 😥 nyesek banget bacanya :'(apalagi yg epilog nya itu 😥
    keren ff nya sukaaaa 😀 tapi gasuka sama endingnya bikin aku nyesek 😥 kekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s