The Hurtful fate

cover sehun new copy

an Angst, drama, romance, Oneshot fanfiction direct by Yoon Minhyo,

With Oh Sehun, Bae Suzy, and for the special guest Kim Myungsoo was coming out too.

  •  “Apa kau melihatku terlalu serakah, Tuhan? Maka tukar seluruh hidupku untuk mereka” – Bae Suzy.
  • “Tidakkah kau mengerti? Aku tidak hidup untuk menerima takdir yang menyakitkan seperti ini” – Oh Sehun.
  • “Karena sebagian dari diriku juga ingin melakukannya” – Kim Myungsoo.

 

&&&

Sehun untuk Suzy                    : “Suzy-ya,aku tau kau pasti bisa melewati semua ini! Aku tau selama ini kau bahkan mengalami hal yang lebih menyakitkan! Kau tau? terkadang aku merasa Takdir begitu kejam pada kita, tapi sekarang aku mengerti takdir memutuskan bahwa kita bersaudara saja itu sudah cukup, rasa sayangku padamu tidak akan pernah berubah,Saranghae Yeo-dongsaeng-ku”

 

Suzy untuk Sehun                    : “Sehun-na…! Ah mungkin saat ini seharusnya aku memanggilmu Oppa,ya kan? Oppa, kurasa inilah jalan yang harus kita tempuh! Sebagai seorang saudara bukannya sebagai seorang Namjachingu maupun Yeojachingu, dan aku tau Kita pasti bisa melewatinya kan? Kenyataan menyakitkan ini memang lah harus kita lewati bukan lah kita hindari, jadi berjanjilah padaku Oppa ,kau akan selalu berbahagia menjalani kehidupanmu, Saranghae Sehun-na Oppa!”

 

~After 2 years~

~~~

Ketika takdir sudah memutuskan, tak ada satupun diantara mereka yang dapat melarikan diri.

Tetapi, bagaimana jika diantara mereka hadir seseorang yang berusaha untuk merubah takdir yang membelenggu itu?

Rasa sakit, rasa sakit itu dijadikannya sebagai alasan.

Lalu, akan seperti apa akhir kisah menyakitkan ini?

….Kau yang menentukan, dan mereka yang akan merasakan….

 

 

&&&

“Sekarang kau bisa membuka kedua matamu, Suzy”

“Ne arraseo” Yeoja itu Bae Suzy tersenyum kecil, kemudian perlahan membuka kedua matanya dan taraaa!!!! Dapat dilihatnya kini sebuah pemandangan malam yang dipenuhi oleh ribuan lampu yang bersinar layaknya bintang-bintang dilangit. Suzy kini benar-benar tak dapat menyembunyikan senyumnya, entah sudah berapa lama Ia tidak menginjakan kedua kakinya ditempat ini, dan sekarang Ia berada ditempat ini.

“Saengil chukha hamnida saengil chukha hamnida, saranghaneun uri Suzy, Saengil Chukha hamnida” Sesosok namja yang telah berhasil membawanya ke tempat ini pun menyanyikan lagu Selamat Ulang tahun untuk Suzy  seraya membawa sebuah cake dikedua tangannya.

“Hoahh!! Bagaimana bisa hari ini menjadi hari ulang tahunku?” Seru Suzy senang, Ia bahkan sama sekali tidak mengingat bahwanya hari ini adalah hari ulang tahunnya, lalu bagaimana bisa namja ini mengingatnya?

Namja itu tersenyum, membuat kedua kelopak matanya nampak menyerupai bulan sabit yang indah, “Kau terkejut? Aku benar-benar senang jika kau menyukainya”

“Eung” Suzy mengangguk, “Gomawo, Sehun-na”

…..

…..

…..

Kini kedua manik mata namja itu membulat menatap sosok Suzy yang masih saja tersenyum tanpa menyadari apa yang baru saja Ia katakan.

“Kau melakukannya lagi, Suzy. Aku bukan Sehun” Terbesit sebuah perasaan kecewa yang terpancar begitu jelas dari kedua matanya, “—aku Myungsoo”

Kalimat terakhir yang diutarakan oleh Kim Myungsoo barusan berhasil membuat Suzy terperanjat, senyum cerahnya perlahan memudar tersapu bersih oleh tetesan air mata yang kini mulai mengalir, “—Mianhae”

“Mianhae, Myungsoo-ah” Lirihnya lagi, kepalanya kini tertunduk membuat rambutnya yang panjang nampak menutupi sebagian wajahnya. Bodoh sekali, apa yang sebenarnya Ia pikirkan hingga tiba-tiba saja sosok namja itu terbesit didalam pikirannya.

Myungsoo tersenyum pahit menatap sosok Suzy yang kini mulai terisak pelan, “Uljima, Bae Suzy”

“Hal seperti ini bahkan terlalu memalukan, Myungsoo. Tetapi—“ Suzy menghentikan kalimatnya, kepalanya mulai terangkat menunjukan kedua matanya yang kini bagaikan sebuah cermin yang retak, “Aku benar-benar merindukannya, Myungsoo! Aku merindukan Oh Sehun, yang selalu saja memenuhi benakku bahkan membuatku sulit untuk bernafas tiap kali memikirkannya”—dan tangisnya kini benar-benar pecah. Segala kebahagian, tawa, bahkan senyumnya malam itu dalam sekejap menghilang hanya karena sebuah nama.

Benar.

Bae Suzy terlalu merindukan Oh Sehun, hanya itu.

Kim Myungsoo, namja itu memang merasa sakit ketika melihat Suzy menangis namun tak dapat dipungkiri tiap kalimat yang diutarakan Suzy seperti, bagaimana Ia merindukan sosok Sehun, bagaimana Ia memikirkan Sehun setiap harinya, tak kalah menghancurkan hatinya kali ini.

“Uljima” Lagi-lagi hanya kata itu yang dapat Myungsoo ucapkan pada Suzy. Setelah meletakan cake yang sejak tadi berada dikedua tangannya, namja itu menatap lirih Suzy. Sungguh saat itu juga Ia benar-benar ingin merengkuh yeoja itu masuk kedalam pelukannya, namun sayang sekali untuk kali ini dan bahkan mungkin untuk seterusnya Kim Myungsoo tak akan pernah bisa mendapatkan hati seorang Bae Suzy, karena didalam hati yeoja yang kini terlihat rapuh itu hanya ada sosok Oh Sehun, kakak sekaligus namja yang begitu Ia cintai.

&&&

Entah sejak kapan hari-hari menyakitkan yang dirasakan oleh Suzy berlalu dengan begitu cepat. Sungguh untuk saat ini tak banyak hal yang bisa yeoja itu lakukan, selain pergi ke kampus, bertemu Myungsoo, atau mungkin hanya sekedar menghabiskan waktunya di perpustakaan.

Tunggu! sejak kapan yeoja itu menjadi begitu gemar membaca? Entahlah sejak hari itu segala yang terjadi didalam hidupnya bagai tersapu oleh angin kepedihan. Suzy bahkan masih dapat mengingatnya, betapa menyakitkan dan hancur hatinya ketika kenyataan itu datang menghampiri mereka. Rasa cinta, kasih, bahkan kepedihan itu bersatu dan perlahan mulai merusak kehidupannya selama 2 tahun ini.

“Suzy-ya! Oh Sehun adalah Kakak Laki-lakimu! Ia adalah anak Appa!”

“Ahniyo, Sehun adalah saudara kandungmu Suzy-ya!”

Menyedihkan? Benar, tetapi menurutnya keadaannya saat ini bahkan jauh lebih menyedihkan dari pada saat itu. Bahkan hanya untuk menatap kedua mata namja itu, mendengar suaranya, melihatnya tersenyum, atau sekedar tau apa yang sedang Ia lakukan pun Suzy tak dapat melakukannya. Seakan terbangun sebuah dinding yang begitu kokoh diantara mereka sejak saat itu, dan kini satu-satunya hal yang Ia ketahui bahwalah namja itu tak lagi berada di Korea.

“Su—suzy?”

“Bae Suzy?”

Suzy tersentak pelan, kemudian dengan cepat menghapus jejak air matanya Ia benar-benar tak ingin Myungsoo melihatnya menangis lagi hari ini. Yeoja yang sejak tadi tengah menunggu Myungsoo di sebuah café itu menoleh cepat, “Myungsoo-ah, kenapa kau begitu la—“

“—Sehun-na?” Lirihnya bahkan nyaris tak terdengar, kedua manik mata indah Suzy membulat tak percaya begitu sosok Oh Sehun kini sudah berdiri dihadapannya.

DEG.

Sakit.

Suzy menahan nafasnya selama beberapa saat, perasaan seperti ini terlalu menyakitkan. Sosok Sehun yang kini berdiri dihadapannya dengan sebuah senyum kecil yang begitu Ia rindukan,perlahan membuat dadanya terasa sesak, “Jangan seperti ini Bae Suzy” Gumamnya pelan pada dirinya sendiri, namun rasa sakit ini menjadi begitu tak terkendali.

Haruskah? Haruskah Ia berdiri saat ini dan berlari memeluk namja itu? memberitahu bagaimana Ia merindukannya selama ini? Bagaimana Ia selalu memikirkannya setiap hari? Atau bahkan mengeluhkan setiap rasa sakit yang selalu saja datang tiap kali namanya terdengar? Haruskah Ia melakukan itu?

“Kau menunggu seseorang?” Pertanyaan lembut Sehun berhasil membuat Suzy terbangun dari lamunannya selama beberapa saat, “Kekasihmu?”

“ahniyo” Suzy menggeleng cepat, kemudian menunjukan sebuah senyum pedih, “Hanya seorang teman, kau?”

Sehun menolehkan kepalanya menatap kesekeliling café itu kemudian kembali menatap Suzy, “Luhan, namun sepertinya aku datang terlalu awal”

“Oh”

“Kau tidak keberatan jika aku bergabung denganmu?” Kedua manik mata Sehun kini bagai tersenyum pada yeoja itu, sementara Suzy hanya bisa mengangguk dan membiarkan Sehun duduk dihadapannya.

Sehun tersenyum pahit, berusaha menahan rasa sakit didalam dadanya. Benar keduanya kini merasakan hal yang sama, baik Suzy maupun Sehun takdir mengerikan itu benar-benar membelenggu kehidupan mereka kini, “Senang sekali bisa bertemu denganmu disini” Ujar Sehun pelan, berusaha untuk memecahkan suasana hening yang sempat terjadi selama beberapa saat tadi.

“Benar”

“Bagaimana keadaan Ahjumma? Ia baik-baik saja?”

Lagi-lagi Suzy hanya mengangguk pelan, “Ia benar-benar baik”

……

……

……

“Lalu,  Appa?” Suzy mulai bersuara, namun pandangannya kali ini benar-benar tidak tertuju pada namja itu. Sungguh, hal seperti itu benar-benar menyiksa Sehun yang hanya bisa menatap dongsaeng yang begitu Ia cintai itu sedih.

Sehun mengangkat kedua bahunya, membuat rambut merah jambunya bergerak pelan, “—Sejak hari itu, kuputuskan untuk tak lagi menemuinya”

Tanpa Suzy sadari kedua matanya kini menatap sosok Sehun tak percaya, “Ap—pa yang terjadi padamu sebenarnya, Sehun-na?”

“Ah ahniyo, seharusnya aku menyebutmu dengan sebutan Oppa” Ralatnya cepat, membuat Sehun kembali menunjukan senyum pahitnya.

Sehun memejamkan kedua matanya selama beberapa saat kemudian menghela nafasnya pelan, “Tidak bisakah kau melihatku dengan cara lain?” Begitu nampak kesedihan yang tersirat dikedua manik mata indah namja itu.

“Lalu dengan cara seperti apa aku harus melihatmu, Oppa?”

Please, hanya berhenti menyebutku dengan sebutan Oppa! Kau tau? Rasanya begitu menyakitkan”

DEG.

Bodoh. Yeoja itu bahkan merasakan hal yang sama, hatinya bahkan terlalu sakit untuk dirinya menyebut Sehun dengan sebutan Oppa seperti itu.

Bagaimana ketika Sehun berbicara, bagaimana ketika Sehun menatapnya sedih, atau bahkan ketika namja itu berusaha untuk tersenyum, Suzy benar-benar merindukan hal-hal kecil seperti itu. Namun hingga kini, tak ada satupun kata yang ingin sekali Ia utarakan berhasil terucap, hanya karena rasa sakit itu keduanya berusaha untuk terus saling menutupi.

Hening. Tak ada sepatah kata apapun yang keluar dari dalam mulut keduanya, mereka hanya terdiam tanpa saling menatap satu sama lain.

“Suzy-ya”

“Hmm?”

“Bisa kita pergi ketempat lain? Masih terdapat begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu” Sehun tersenyum hangat, kemudian melirik pada jarum jam yang melingkar ditangannya, “Luhan benar-benar tak akan keberatan jika kuputuskan untuk menemuinya lain waktu”

“Begitu? Baiklah” Suzy mengangguk, dan sama seperti yang Sehun pikirkan Ia pun berpikir bahwa Myungsoo mungkin tidak akan keberatan jika hari ini Ia putuskan untuk membatalkan janjinya.

&&&

“Sejak kapan rambutmu menjadi begitu panjang seperti ini? Kau benar-benar nampak cantik sekali”

Pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Sehun yang saat ini sedang berada dibalik kemudi berhasil membuat Suzy tersentak pelan, ”—Sejak itu”

Sehun melirik Suzy sekilas kemudian tertawa masam, “Sejak kapan kau menjadi seorang yeoja yang begitu menutupi perasaanmu seperti ini, Suzy?”

“Sejak itu”

Lagi-lagi, hanya terdengar sebuah jawaban yang sama. Suzy menatap kosong keluar jendela, ‘Sejak kapan’ 2 kata itu terus saja terngiang-ngiang didalam kepalanya, hingga kembali dirinya tersentak kaget begitu alunan musik itu terdengar dan rasa sakit itu perlahan kembali. Hampir selama 2 tahun ini, Suzy benar-benar berusaha untuk menghindari alunan musik ini untuk terdengar melintasi telinganya, namun dalam sekejap namja itu benar-benar menghancurkannya.

niga nomu bogo sipo

bamse hansumdo jal su obso

Klik.

Sehun hanya bisa memperhatikan tiap aksi yang saat ini tengah dilakukan oleh Suzy. Dalam sekejap alunan music itu tak lagi terdengar, Suzy meraih kepingan cd itu meletakannya kembali pada tempatnya, dan KRAKK!!

“Aku benar-benar melupakannya. Mianhae, tak seharusnya cd itu masih berada ditempat ini” Ujarnya pelan. Bagaimana bisa? Benda seperti itu masih bertahan bersama Oh Sehun setelah semua kejadian mengerikan itu? Benda itu seharusnya sudah terlenyap bersama benda-benda menyakitkan lainnya sejak 2 tahun lalu

Sehun menepikan mobilnya, kedua matanya kini menatap Suzy lekat-lekat, “Mengapa kau membuangnya?”

Yeoja berambut panjang itu masih saja tidak menatapnya, ”Tak terdapat lagi ruang di dalam kehidupan ini untuk benda-benda seperti itu”

“Sejak kapan hatimu menjadi begitu keras seperti ini, Bae Suzy?”

“Benar. Sejak kapan?” Pada akhirnya kedua pasang manik mata indah itupun saling bertemu satu sama lain, sama-sama terlihat menyedihkan, memancarkan rasa sakit yang sama, dan bahkan untuk sebelumnya kedua manik mata itu hanya bisa saling melihat satu sama lain.

“Jangan seperti ini”

Suzy memejamkan kedua matanya selama beberapa, membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya yang kemerahan, “—Jangan seperti ini? Lalu harus seperti apa aku?” Lirihnya.

Pedih. Kepedihan itu semakin menyiksanya kini.

“Sejak kapan? Sejak kapan, Oh Sehun? Sejak kapan aku menjadi seperti ini?! Hanya kau yang memiliki jawabannya!”

“Uljima” Sehun menatap Suzy sedih, dan pada detik berikutnya yeoja itu sudah berada didalam rengkuhannya. Sungguh, Ia benar-benar merindukan yeoja itu, dan melihatnya menangis saat ini semakin menghancurkan hatinya.

Suzy semakin terisak begitu kini Ia rasakan rengkuhan hangat Sehun, ”A—pa kau tidak merasakannya? Rasa sakit ini selalu saja datang tiap kali sosokmu melintas didalam benakku. Seakan memaksaku untuk terus memikirkanmu, apa yang sedang kau lakukan atau bahkan bagaimana keadaanmu saat ini. Apa tidak sekalipun kau memikirkan seperti apa rasa sakit itu?”

Tiap kata yang baru saja Suzy utarakan, benar-benar mewakilkan apa yang sebenarnya namja itu rasakan. Bagaimana rasa sakit itu semakin menyiksanya, bagaimana rasa sesak itu selalu datang tiap kali sosok Suzy melintas didalam benaknya, Ia merasakannya Oh Sehun benar-benar merasakannya dan rasanya sangatlah menyakitkan.

&&&

Sehun dan Suzy, keduanya saling melangkahkan kedua kaki mereka menelusuri  tepi Sungai Han yang cukup sepi untuk malam ini.

“Seperti yang kau katakan sebelumnya, Sehun-na”

“Hanya untuk kali ini, tak bisakah aku melihatmu dengan cara yang berbeda?”

Sehun, namja itu tersenyum hangat, salah satu tangannya nampak menyingkirkan helaian rambut panjang Suzy yang kini menutupi sebagian wajah cantiknya, ”Kau bisa melakukannya, Suzy. Bahkan sampai kapan pun, kau bisa terus melihatku dengan cara yang berbeda”

Sedetik kemudian dapat terlihat sebuah senyum kecil terlukis diwajah yeoja itu. Namun, sungguh saat itu juga kedua hati merekapun saling menyadari bahwa sampai kapanpun takdir itu akan terus mengikat mereka sebagai dua orang saudara, tetapi rasa sakit itu terus menuntun mereka untuk melakukannya, menentang setiap takdir yang telah diputuskan.

“Sehun-na”

Sehun meraih tangan Suzy, kemudian menggenggamnya erat, “Eung?”

“Apa saja yang kau lakukan selama ini atau bagaimana kau melanjutkan hidupmu sejak itu, tidakkah ingin kau menceritakannya padaku?” Suzy menghentikan langkahnya kemudian menatap Sehun dengan kedua manik matanya yang tersenyum.

“Benar. Ada banyak sekali hal yang ingin kuceritakan padamu”

Mereka berdua kini kembali melangkah. Sehun terus menceritakan tiap detik waktu yang Ia lalui tanpa sosok Suzy disisinya tanpa meninggalkan hal yang tidak penting sekalipun, sementara Suzy sesekali tersenyum, tertawa, dan bahkan termenung mendengar tiap kata yang disusun oleh Sehun menjadi sebuah rangkaian kisah hidupnya selama 2 tahun ini.

“Tiap kali aku merindukan senyummu, satu satunya hal yang dapat kulakukan hanyalah melukiskan bagaimana kau tersenyum diatas sebuah canvas putih. Aku tau itu sia-sia, namun setidaknya masih dapat kubayangkan bagaimana kau tersenyum hari itu”

Suzy menerawang kosong kejauhan, “Sejak kapan kau mulai melukis?”

“Sejak itu” Sehun kembali mengeratkan genggaman tangannya pada Suzy, “Sejak saat itu aku selalu melakukan hal-hal yang tak pernah ku lakukan sebelumnya, dan sebaliknya hal-hal yang biasa ku lakukan pun tak pernah lagi ku lakukan hingga saat ini”

Saat ini entah sudah berapa jauh mereka melangkah. Untuk beberapa saat keduanya tenggelam dalam keheningan malam, angin musim semi yang berhembus kala itu bahkan tak lagi dapat mereka rasakan. Tetes demi tetesan air mata Suzy perlahan kembali menyeruak, bagaimana tidak? Tiap kata yang baru saja Sehun utarakan nyatanya benar-benar membuktikan bahwa tak hanya dirinyalah yang merasakan perasaan sakit ini, tetapi bahkan mereka berdua sama-sama merasakannya.

“Bagaimana denganmu? Tidakkah kau ingin menceritakannya padaku juga?”

“Tak banyak hal yang kulakukan kala itu hingga saat ini. Seperti yang kau katakan sebelumnya, tak banyak lagi kata yang dapat ku ucapkan sejak hari itu. Mungkin ini terdengar egois, tetapi bahkan hanya untuk menerima kenyataan ini terlalu menghabiskan banyak waktu didalam hidupku” Tutur Suzy, kedua manik matanya masih saja menerawang kosong kejauhan. Sungguh, saat itu juga satu hal yang Ia pikirkan adalah bagaimana dirinya untuk kembali melepaskan sosok namja ini, melepas genggaman eratnya, atau bagaimana Ia akan melanjutkan kembali kehidupannya setelah ini.

“Lalu, tak ada sedikit sajakah kebahagiaan yang kau rasakan? Mianhae, tak seharusnya kau merasakan sakit yang sepert ini, Suzy”

“Ahni. Sama seperti yang terjadi padamu, aku bahkan mulai melakukan hal-hal yang bahkan tak pernah ingin ku lakukan sebelumnya. Hari itu Kim Myungsoo datang dan mengulurkan kedua tangannya padaku, sejak saat itu walaupun hanya sedikit masih dapat kurasakan kebahagiaan itu”

“Kim Myungsoo?”

Suzy mengangguk, “Bagaimana Ia tersenyum, bagaimana jemarinya memetikan senar pada gitarnya, bagaimana Ia berbicara, Ia benar-benar mengingatkanku padamu, Sehun-na. Tetapi, semakin lama semakin kusadari bahwa Kim Myungsoo adalah Kim Myungsoo, sampai kapanpun kau dan dirinya akan selalu menjadi dua orang yang berbeda”

Namja itu Oh Sehun tersenyum pahit, “Begitu terlihat bahwa kau menyukai namja itu, benar?”

……

……

Pada akhirnya, kembali kedua pasang manik mata indah itu bertemu satu sama lain, “Hingga saat ini, satu-satunya jawaban yang yang dapat kutemukan hanyalah aku mencintaimu, tak ada jawaban lainnya”

&&&

&&&

“Lama tidak berjumpa”

Oh Sehun melangkahkan kedua kakinya memasuki sebuah café dimana tadi Ia bertemu dengan Suzy. Waktu sudah menunjukan pukul 10PM, namun suasana ditempat itu masih saja ramai. Sesosok namja dengan rambut hitamnya, nampak tersenyum begitu dirinya kini berdiri tepat dihadapan namja itu, “Entah sejak kapan, kali ini kau benar-benar terlihat seperti mayat hidup, Oh Sehun”

“Begitu menurutmu?” Sehun tertawa renyah kemudian segera mengambil tempat duduk, “Sama sepertiku, sepertinya kau juga banyak melalui masa-masa yang berat”

Namja itu menyesap hot chocolate nya kemudian tertawa, “Ayolah, kau membuatnya terasa awkward”

“Benar, tetapi—“

“—tetapi?”

Sehun tersenyum pahit pada namja itu, “Aku tau ini akan terasa aneh, tetapi terima kasih”

“Terima kasih? Kau kira hanya dengan ini semuanya akan segera berakhir?”

“Entahlah, untuk saat ini aku benar-benar sudah berada dibatas akh—“

“Hei! Oh Sehun!”

Kedua pasang mata itu kini memandang sebuah object yang sama, namja yang terlihat begitu nampak seperti seorang yeoja itu melangkah menghampiri mereka, “Ann—Mwo? Kau ada disini juga?”

“Lama tak berjumpa, Luhan-ah”

&&&

&&&

Semilir angin musim semi yang berhembus malam itu menerbangkan helai demi helai rambut panjang seorang yeoja yang nampak tengah menunggu. Benar, Bae Suzy yeoja itu memanglah sedang menunggu. Waktu sudah menunjukan pukul 9PM, namun nampaknya yeoja itu sama sekali tidak menyadarinya, namja yang sejak 2 jam lalu Ia tunggu pun tak kunjung datang.

“Sehun-na”

Namja itu mengerjap seakan baru saja terbangun dari lamunannya, kedua matanya kini menatap Suzy lirih namun masih dapat yeoja itu lihat sebuah senyum hangat terlukis diwajahnya, “Ada apa?”

“Untuk seterusnya, akankah kau selalu membiarkanku untuk melihatmu dengan cara seperti ini?”

Kini kembali kedua manik mata indah Sehun membulat tak percaya begitu Ia dengar apa yang baru saja yeoja itu katakan, sementara Suzy hanya bisa menahan rasa sakit didalam hatinya, Ia mengerti sungguh tak seharusnya Ia melakukan hal seperti ini, tetapi—bagaimana mungkin? Sanggupkah dirinya untuk melepas genggaman erat tangan ini? sanggupkah?

Pada akhirnya hanya sebuah senyum kecil yang dapat Sehun berikan kala itu, keduanya kini menghentikan langkah mereka, saling menatap satu sama lain dan membiarkan angin musim semi itu menerpa tubuh keduanya. Salah satu tangan Sehun kini membelai lembut kepala yeoja itu seraya berkata, “Hari ketiga setelah esok, temui aku kembali ditempat ini, Bae Suzy”

—dan kini yeoja itu menunggu, benar-benar menunggu tanpa sebuah kepastian sedikitpun. Sekujur tubuhnya kini bagai membeku, namun kalimat yang diucapkan Sehun terakhir kali itu tetap terasa hangat didalam benaknya.

Drrtt drrtt drttt

Getar ponsel itu berhasil mengagetkan Suzy, dan bahkan membuatnya tersentak. Kedua mata yeoja itu kini menatap lemah layar ponselnya, dan kemudian tersenyum kecil, “Yeobboseyo, Myungsoo?”

“Dimana aku sekarang? Menurutmu?” Suzy tertawa masam, kedua matanya lagi-lagi menerawang kosong pemandangan Sungai Han dihadapannya, “Aku berada ditempat yang begituuuuu indah. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Myungsoo-ah”

“Eung, hanya menjaga dirimu ba—“

Kedua mata yeoja itu menatap lekat-lekat sosok namja yang kini sudah berrdiri disebelahnya, sebuah senyum hangat pun terlukis kini diwajahnya yang cantik, “Sehun-na?” Suzy mengerjapkan kedua matanya, kemudian tanpa sadar segera mengakhiri panggilan telponnya dengan Myungsoo.

Namja itu, Oh Sehun nampak cukup berbeda dengan balutan wool scarf tebalnya dan juga sebuah topi yang menutupi kepalanya, namun yeoja itu Bae Suzy masih dapat dengan begitu mudah mengenalinya, ”Mianhae”

Mianhae, kau pasti sudah terlalu lama menungguku. Mianhae, jeongmal mianhae” Ujar namja itu penuh penyesalan, namun sayangnya untuk saat ini kedua manik mata namja itu sama sekali tidak memandang yeoja dihadapannya itu. Entah apa yang terjadi, mereka berdua benarr-benar memiliki firasat yang begitu buruk mengenai hal ini.

“Ahniyo” Suzy menggeleng pelan, masih berusaha untuk menyembunyikan ke khawatirannya dengan sebuah senyum pahit.

Hening.

Lagi-lagi mereka berdua kini bagai tenggelam dalam diam, tak ada sepatah kata apapun yang berhasil mereka utarakan.

“Mianhae” Ujar Sehun tiba-tiba, begitu lirih bahkan nyaris tak terdengar.

“Ahniyo”

“—Aku sudah memikirkannya sejak lama”

Bae Suzy, yeoja itu kini menundukan kepalanya membuat sebagian rambut panjangnya menutupi wajahnya yang cantik. Ia menangis, lagi-lagi air mata itu mengalir deras dengan sendirinya, Ia bahkan sudah dapat memperkirakan apa yang sebentar lagi Sehun akan katakan.

Bagaimana bisa? Sungguh, untuk sebelumnya pemikiran-pemikiran semacam itu benar-benar sudah selalu memenuhi segala ruang didalam pikirannya—tetapi mengapa? Mengapa hatinya selalu saja berusaha menolak? Berusaha untuk melarikan diri dari kenyataan menyedihkan ini? Berusaha untuk melupakan takdir itu? Wae?!!! Suzy membiarkan hatinya menjerit keras, namun sekeras apapun Suzy menjerit sama sekali takkan ada yang merasakan kesakitannya.

Sehun memejamkan kedua matanya selama beberapa saat, kemudian menghela nafasnya pelan dan tersenyum pahit, “keputusanku untuk menemuimu kembali adalah sebuah kesalahan besar”

……

……

“—rasa sakit ini perlahan akan menghilang dengan sendirinya”

Suzy menggelengkan kepalanya pelan masih dengan tangis bisunya, “An—dwae!”

“Apapun keputusanmu, aku hanya akan tetap melakukannya. Mianhae”

DEG.

Kini rasa sakit itu kembali dapat mereka rasakan, bahkan untuk saat ini tak ada rasa sakit lainnya yang dapat menggantikan perasaan hancur keduanya, karena bagaimanapun takdir itu akan tetap membelenggu.

“Sehun-na”

Pada akhirnya Suzy kembali membuka suara, dapat sekali terlihat jejak air mata itu dikedua pipinya yang kini nampak kemerahan. Kedua manik matanya menatap kosong sepasang manik mata indah lainnya, “Hanya mengatakan bahwa kau tidak lagi membutuhkanku, maka aku akan membiarkan kau pergi” Lirihnya lagi, namun kali ini tak terdengar sebuah keraguan sedikitpun.

Bagaimana bisa aku melakukannya, Suzy? Aku bahkan membutuhkanmu untuk seluruh hidupku. Batin Sehun dalam hatinya. Namun apa yang terjadi memang seharusnya terjadi, karena sampai kapanpun tak akan pernah ada satupun diantara mereka yang dapat merubah kenyataan itu.

Sehun terdiam selama beberapa saat kemudian kembali menunjukan senyum hangatnya pada yeoja yang masih menatapnya itu, “—Aku tak lagi membutuhkanmu”

Pada akhirnya kisah membahagiakan itu berakhir hanya dalam hitungan detik, dan kini sosok namja itu perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Benar, Oh Sehun benar-benar telah pergi meninggalkannya, dan lagi-lagi kembali Ia pergi dengan membawa serta setengah hati yeoja itu maka dengan ini seluruh hati Bae Suzy benar-benar telah pergi bersama Oh Sehun.

&&&

“Sudah hampir 30 hari berlalu sejak hari itu, dan sekarang kau bahkan masih menangis untuknya?”

Suzy terdiam tanpa menghiraukan sepatah kata apapun yang baru saja diutarakan oleh Kim Myungsoo. Kedua matanya mengerjap pelan, lagi-lagi Ia harus menangis dihadapannya. Entah sudah berapa banyak air mata yang Ia perlihatkan pada Kim Myungsoo, namun namja itu tak juga beranjak dari sisinya.

“Jangan menangis!!” Lagi-lagi hanya kata itu yang dapat Myungsoo ucapkan pada Suzy, namun seberapa kalipun kata-kata itu terucap yeoja itu masih saja menangis, “Apa kau tidak merasa lelah? Sungguh, hanya dengan melihatmu yang terus saja seperti ini benar-benar membuatku sakit, Bae Suzy”

……

……

“Rasa sakitmu—“ Suzy mengangkat kepalanya kemudian tersenyum pahit pada Myungsoo yang masih menatapnya khawatir, café dimana mereka berada saat ini bahkan mungkin sudah terlalu muak menyaksikan tiap adegan menyedihkan yang selalu saja berulang setiap kalinya mereka bertemu, “—Tak akan lebih menyakitkan dari rasa sakit yang kurasakan, Myungsoo”

“Ia datang lalu mengobati rasa sakit yang kurasakan selama ini, namun hanya dalam sekejap mata Ia kembali pergi dengan meninggalkan rasa sakit yang bahkan berkali-kali lebih menyakitkan dari pada rasa sakit yang sebelumnya kurasakan.” Tutur Suzy lagi, Sungguh walau tiap kata yang Ia utarakan benar-benar membingungkan, namun hanya dengan melihat dan mendengar bagaimana yeoja itu mengutarakannya, Myungsoo benar-benar mengerti.

Keduanya kini terdiam tanpa sepatah kata apapun yang terucap. Kim Myungsoo bahkan sudah membiarkan hot chocolatenya mendingin sejak tadi, begitu pula Suzy yang sama sekali tidak menyentuh sedikitpun vanilla ice creamnya yang kini mungkin sudah meleleh.

Myungsoo menghela nafas panjangnya tiba-tiba, kedua manik matanya kemudian menatap Suzy yang sejak tadi hanya menerawang kosong pemandangan luar melalui sebuah jendela besar yang menjadi dinding café itu, “Biarkan aku menjemputmu malam nanti”

“—aku tak ingin pergi kemanapun” Sahut Suzy tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan kedua manik matanya.

“Maaf, kali ini aku tidak bisa menerima sebuah jawaban ‘tidak’. Aku hanya akan melakukannya walaupun harus menyeretmu dengan paksa sekalipun”

Kalimat yang baru saja dinyatakan oleh Myungsoo nyatanya berhasil membuat Suzy bergidik kemudian tersenyum kecil pada namja itu, “Kim Myungsoo yang begitu keras kepala seperti ini benar-benar tak dapat ku kenali”

“Begitu menurutmu? Namun untuk saat ini pendapatmu sama sekali tidak akan merubah keputusanku, Bae Suzy”

&&&

&&&

Waktu sudah menunjukan pukul 8 PM, nampak seorang namja dan juga seorang yeoja tengah berada didalam sebuah mobil. Pada akhirnya Kim Myungsoo berhasil membawa Bae Suzy bersamanya kini, walaupun Ia tau benar yeoja itu benar-benar nampak tidak menyukai rencananya.

“Kemana kau akan membawaku pergi, Kim Myungsoo?” Suzy menatap Myungsoo yang berada dibalik kemudi dengan kedua manik matanya yang nampak menerawang namja itu kosong.

….

….

….

Myungsoo nampak tak bergeming, dan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun.

“Hanya memberitahuku, Kim Myungsoo!”

Sementara disisi lain, diwaktu yang sama, namun di tempat yang jauh berbeda nampak sesosok namja yang tengah berhadapan dengan sebuah canvas putih yang masih kosong. Oh Sehun menatap perih canvas itu tanpa sekalipun menggoreskan pensilnya disana.

CKLEK

“…Sehun-ah”

Sehun menarik nafasnya pelan begitu suara parau itu terdengar memanggil namanya, “Hanya tinggalkan aku sendiri, dan jangan pernah menemuiku lagi” Ujarnya begitu pelan, namun dapat Ia pastikan seseorang itu dapat mendengarnya.

“Mianhae,Sehun-ah”

“—Appa benar-benar menyesal”

DEG

Untuk saat ini—dan segalanya benar-benar telah berakhir. Tak ada lagi yang perlu disesalkan menurutnya, rasa sakitnya, hatinya, bahkan hidupnya Ia begitu mengerti bahwa semua hal itu bisa saja berakhir kapan saja, bahkan hanya dalam hitungan detik.

“Pergilah, Appa. Tak ada yang perlu disesalkan” Sahut Sehun pada akhirnya, dan kalimat itu bagai mengakhiri segalanya.

***

“Ya!!! Kim Myungsoo!! Kemana kau akan membawaku sebenarnya? Mengapa kau harus membawaku ke tempat seperti ini?”

Suzy masih melangkahkan kedua kakinya cepat mengikuti sosok Myungsoo yang saat ini tengah kuat menggenggam salah satu tangannya. Keduanya melangkah menelusuri lorong-lorong yang mulai mengggelap, karena malam juga semakin larut.

“KIM MYUNGSOO!!” Suzy nyaris berteriak seraya menghempas kasar pergelangan tangannya, kedua manik matanya kini menatap sosok Myungsoo lekat-lekat, “Hentikan!”

Kini kedua langkah mereka terhenti tepat didepan sebuah ruangan. Kim Myungsoo balas menatap Suzy penuh arti dengan kedua matanya yang kini menyerupai bulan sabit, sebuah senyum pahit kini juga nampak di permukaan wajahnya, “—aku akan membawamu menemui Oh Sehun”

DEG.

Kedua mata yeoja itu kini membulat tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar, “A—apa yang kau katakan?—Kim Myungsoo?”

Myungsoo nampak tak menghiraukan sedikitpun reaksi yang kini Suzy tunjukan. Ia hanya kembali meraih pergelangan tangan Suzy, kemudian membuka kasar pintu dihadapan mereka dan membawa yeoja itu masuk bersamanya dan seketika,

BRUKK!!

***

BRUK!!!

Seluruh tubuh Suzy terhempas keras ke lantai, detak jantungnya bagai terhenti seketika, seluruh darahnya seakan membeku, kini tubuhnya bagai mematung. Menatap sosok itu tak percaya.

Lagi-lagi kejadian menyakitkan seperti ini harus terulang.

“Se…Sehun-na?!”

“Se—hun?”

“Sehun-na!!bangunlah!!!Apa yang terjadi padamu?!”

Kim Myungsoo menarik pelan pergelangan tangan yeoja itu hingga membuatnya kini kembali berdiri tegak, namun tak berlangsung lama karena lagi-lagi tubuh Suzy kembali terjatuh hingga menimbulkan suara hentakan yang cukup keras.

Disisi lain kedua mata namja itu nampak mengerjap pelan, dan perlahan namun pasti kedua manik mata Oh Sehun benar-benar telah membuka dan kini dihadapannya nampak Suzy dan juga Myungsoo. Sang namja yang masih nampak tenang menatap yeoja itu, sementara Bae Suzy sudah kembali terhempas ke lantai.

“Apa yang kau lakukan Kim Myungsoo?” Tanya Sehun parau, kedua matanya kini menatap lekat-lekat sosok Myungsoo.

”Suzy-ya!aku yakin kau bisa mengerti!”

“—Sehun-ah?” Lirih Suzy namun Sehun masih saja tidak mengalihkan pandangnnya sedikitpun. Lagi-lagi, perasaan itu, rasa sakit itu, bagaimana kejadian 2 tahun lalu kini bagai terulang. Lagi-lagi seorang Bae Suzy harus melihat sosoknya yang kini kembali terbaring lemah.

Apa yang terjadi?

Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Lalu Oh Sehun? Lalu Kim Myungsoo?

Tangis Suzy kini benar-benar pecah. Semua kenangan pahit itu bagai sebuah film yang perlahan kembali terputar didalam benaknya. Membuatnya ingin berteriak sekeras-kerasnya, membuatnya kembali menahan rasa sakit mengerikan itu.

***

“—apa yang terjadi padamu, Sehun-ah?”

Kedua manik mata Suzy yang masih nampak menyerupai sebuah bola kaca yang retak itu menatap Sehun perih, “Apa yang terjadi, Sehun-ah? Katakan padaku! Jebballl!”

Sehun mengerjapkan kedua matanya pelan, menahan tiap rasa sakit didada, kepala, bahkan hatinya sekalipun. Kembali melihat yeoja itu menangis dihadapannya semakin membuatnya hancur.

“Menyedihkan sekali. Tak seharusnya Myungsoo membawamu ke tempat ini” Ujarnya acuh tak acuh, tanpa membiarkan kedua pasang manik mata mereka bertemu sedikitpun.

Lagi-lagi butiran air mata Suzy kembali menetes, mengalir lembut menuruni pipinya yang kemerahan. Bagaimanapun yeoja itu nampak lebih hancur dari sebelumnya. Salah satu tangannya mulai beranjak, membelai lembut rambut merah jambu Sehun dengan jemari-jemarinya, “Kau selalu berhasil membuatku seperti ini, Oh Sehun. Terima kasih” Lirihnya pelan, bahkan nyaris tak terdengar membuat namja itu bergidik dan kembali merasakan sesak didalam dadanya.

“Jangan menangis!”

Suzy nampak tidak menghiraukan ujaran keras Sehun barusan, dan dengan cepat hanya memeluk namja itu masuk kedalam rengkuhannya, “Seharusnya kau membiarkanku merasakan rasa sakit ini juga, Sehun-ah” Ujar Suzy lagi, masih dengan isak tangisnya yang terdengar begitu pelan namun tetap terasa menyakitkan.

“Berhenti menangis sekarang juga Bae Suzy!!! Aku bahkan terlalu menyedihkan untuk kau tangisi!!!”

“Ahni. Ahniyo”

Rengkuhan Suzy perlahan merenggang, kini kedua tangannya meraih tengkuk Sehun hingga kedua pasang manik mata mereka bertemu, “Tak akan ada yang terjadi padamu, padaku, pada ki—“

BRUK!

“Se—sehun-ahh?!!!!!”

Suzy nyaris berteriak begitu kini tubuh Sehun sudah terhempas kembali kedalam rengkuhannya, benar Sehun kehilangan kesadarannya tepat dihadapannya.

Kim Myungsoo meraih tangan Suzy kemudian menggenggamnya erat, dapat sekali Ia rasakan tubuh yeoja itu kini bergetar hebat. Myungsoo pun merasakan apa yang Suzy rasakan, sosok Sehun yang dengan segera dilarikan keruang ICU benar-benar membuat kedua jantung mereka bagai terhenti seketika.

Air mata Suzy kembali mengalir, tangis yeoja itu lagi-lagi pecah dalam rengkuhan hangat Myungsoo, “A—paa yang terjadi pada Sehun, Myungsoo-ah? Katakan padaku bahwa Ia akan baik-baik saja, Eung? Myungsoo-ah?!! Katakan Kim Myungsoo!!!!”

“Jangan menangis”

Suzy melepaskan pelukan Myungsoo kemudian menatap namja itu lirih, “Lalu kau ingin aku tertawa saat ini?”

Myungsoo terdiam kemudian mulai menyingkirkan helaian-helaian rambut panjang Suzy dari wajahnya, “Kau akan membuatnya semakin merasa buruk, jika kau selalu menangis seperti ini dihadapannya”

…..

…..

…..

“Jangan menangis lagi, Eung?”

Setelah beberapa saat Suzy pada akhirnya mengangguk lemah, sungguh masih ada banyak hal yang ingin sekali Ia pertanyakan pada Myungsoo tetapi untuk malam ini energy-nya bagai terhisap habis seperti kala itu bahkan lebih buruk lagi.

****

*

*

*

Bae Suzy.

Yeoja itu melangkah gontai menelusuri jalan setapak yang akan membawanya menuju ke tempat itu. Sungguh, Suzy benar-benar tak lagi terlihat baik dalam keadaan menyakitkan seperti ini. Perlahan kalimat-kalimat yang pagi tadi diucapkan oleh Kim Myungsoo kembali memenuhi benaknya, kembali menghisap seluruh tenaganya yang tersisa, kembali memaksanya untuk merasakan sakit itu. Sakit yang tak berujung.

“Kau ingat kecelakaan yang terjadi 2 tahun lalu? Oh Sehun, namja bodoh itu terus membiarkan dirinya merasakan efeknya seorang diri”

Rasanya kembali rasa sesak itu Suzy rasakan, ketika kalimat yang begitu menyakitkan itu kembali terlintas didalam benaknya.

Bagaimana mungkin?

Bagaimana bisa?

“Yang kuketahui, tak pernah seharipun Ia tidak memikirkanmu”

“Hentikan!!!”

“Mungkin hal ini terdengar begitu naïf tetapi, hanya untukmu Ia bahkan terus menyakiti dirinya sendiri”

Tangis Suzy kembali pecah, langkahnya terhenti seketika. Yeoja itu membiarkan hembusan angin musim semi sore itu menerpa keras tubuhnya, “Sudah cukup, jebbal!!” Lirihnya pelan.

“Dengan berusaha untuk menerima kenyataan menyakitkan itu, Sehun hanya terus melihatmu sebagai seluruh kehidupannya—“

“Hentikan, please!!!!!!!”

“—tidakkah kau mengerti? Senyummu telah dijadikan sebagai kebahagaiannya, dan tangismu akan selalu menjadi hal yang paling menyakitkannya. Bahkan setiap nafas yang kau hembuskan merupakan satu-satunya alasan untuknya agar tetap hidup Bae Suzy!!! Tidakkah kau mengerti?!!”

BRUK!!!

“Jebbal!!!!! Hen—tikan, Kim Myungsoo!!!! Hentikan, Ple—ase!!!!!”

Seluruh tubuh  Suzy terhempas keras ke permukaan tanah, tangisnya kini sudah tak lagi terbendung, rasa sakit itu terlalu menyesakkan bahkan membuatnya sulit untuk bernafas. Kenyataan mengerikan itu, bagai perlahan membunuhnya. Jadi, seperti ini?

Apa yang selama ini Ia lakukan? Menangis hanya karena rasa sakit yang bahkan tak sebanding dengan apa yang Sehun rasakan? Mengeluh akan kenyataan mengerikan yang bahkan tak lebih mengerikan dari kenyataan yang Sehun hadapi? Menjerit seakan hanya dirinyalah satu-satunya yang selalu memikirkan Sehun, tanpa pernah tau bahwa sosoknya bahkan tak pernah sekalipun terhapus dari dalam pikiran Oh Sehun. Membenci seluruh dunia hanya karena merasa dirinya satu-satunya yang tak mendapatkan sebuah keadilan, hanya itu?

“Maka hanya berhenti menangis dihadapannya Suzy. Hanya itu”

****

*

*

*

“Su—Suzy?”

Kedua mata yeoja berambut panjang itu menerawang kososng sesosok pria yang kini tengah melangkah pelan menghampirinya. Pria yang sudah nampak tak lagi muda itu tersenyum pahit, namun tak ada sekecilpun senyum yang ditunjukan oleh Suzy.

“Su—“

“Haruskah aku berhenti memanggilmu dengan sebutan ‘Appa’ mulai hari ini?”

Kedua pasang mata itu kini menatap satu sama lain, sepasang mata yang yang nampak menyedihkan, dan juga sepasang mata yang kini hanya bisa menerawang kosong. Tak ada sepatah kata apapun lagi yang dapat keduanya ucapkan, sepasang mata yang hanya bisa menerawang kosong itupun memutuskan untuk pergi, meninggalkan rasa sakitnya ditempat itu bersama sepasang mata yang nampak menyedihkan.

CKLEK

Dapat Suzy lihat sosok Sehun yang kini nampak memejamkan kedua matanya, seluruh tubuhnya terbaring lemah diatas ranjang, dan hanya dalam hitungan detik rasa sesak itu kembali Ia rasakan.

“Sehun o—ppa” Lirihnya begitu pelan, namun kali ini Ia benar-benar berusaha untuk tidak menangis.

Suzy tersenyum lemah, dengan jemarinya perlahan Ia menyentuh lembut sosok Sehun yang kini terlihat begitu rapuh. Perlahan, tanpa setitik energy sedikitpun berusaha untuk tidak menyakitinya, “You’re not alone”

“Together we stand I’ll be by your side, you know I’ll take your hands—”

”—hear me when I say I believe, nothing’s gonna change destiny. Just You and I together in another life. I promises”

Seberapa kuat, seberapa besar pun usaha yang Suzy lakukan untuk tidak meneteskan air matanya nampaknya begitu sia-sia. Ia hanya akan, dan akan selalu menangis untuk namja ini, Oh Sehun namja yang bahkan selalu menjadi seluruh hidupnya.

KIETTTT….

Kedua manik mata yeoja itu kini menatap ke arah pintu yang baru saja menutup dengan sendirinya, namun tiba-tiba saja dirinya kembali tersentak begitu Ia rasakan jemari-jemari yang nampak mengurus itu menyentuh lembut pipinya, menghapus pelan jejak air matanya yang tersisa, “Jangan menangis, sayang—“

“Se—sehunna?”

Sebuah senyum hangat kini terlukis diwajah pucat Sehun, namun nampak seutas kebahagiaan yang terpancar dari kedua manik matanya, “Kau tau? Aku begitu menyayangimu, Suzy.”

“Entah itu sebagai adik perempuanku, atau bahkan sebagai wanita yang aku cintai. Terima kasih” Lirihnya lagi, begitu pelan namun tetap terasa hangat didalam hati yeoja itu.

Pada akhirnya setelah semua yang terjadi beberapa hari ini, setelah semua rasa sakit yang Suzy rasakan, kalimat yang baru saja Sehun ucapkan bagai sebuah pamungkas yang hanya dalam sekejap menghapuskan semua rasa sakit itu. Kini sebuah senyum terlukis diwajah cantik yeoja itu, “Nado. Nado saranghae, Sehun Oppa”

****

*

*

*

*

*

Hari-hari tanpa rasa itu berlalu dengan begitu cepat. Semua yang terjadi kini bagaikan sebuah mimpi belaka. Keadaan Sehun pun tak juga membaik dan juga tak memburuk. Keadaan itu terkadang membuat Suzy bernafas lega, dan sesekali menangis dalam diam karena harus melihat Sehun yang merasakan rasa sakit itu seorang diri tanpa Ia bisa merasakannya.

Tak dapat Ia pungkiri bertemu dengan Min Jung Ahjumma kini bagai sebuah keharusan, walau tak banyak kata yang mereka ucapkan satu sama lain, namun didalam hati mereka akan selalu terdapat sosok yang sama.

Sebagian sisa waktunya kini bagai terbagi menjadi dua, keadaan yang akan selalu membuatnya bertahan menjaganya untuk tetap seimbang, berkesinambungan, dan tidak goyah. Bae Suzy, yeoja itu tersenyum bersama Oh Sehun, dan menangis bersama Kim Myungsoo.

Kini waktu sudah menunjukan pukul 00:00. Dua sosok itu masih terpaku didalam sebuah mobil yang  entah akan membawa mereka kemana. Sang yeoja hanya terus menerawang kosong pemandangan dihadapannya, sementara sang namja hanya bisa sesekali melirik yeoja itu seraya menggenggam erat tangannya.

“Bagaimana keadaannya hari ini?”

Suzy terdiam sesaat kemudian menggeleng pelan, “—Tak ada perubahan, rasa sakitnya semakin membunuhku Myungsoo-ah”

……

…..

“Ia pasti akan tetap bertahan, kau tau? Sudah terlalu lama aku mengenalnya” Myungsoo tersenyum hambar pada yeoja itu, kemudian membelai lembut rambut panjang Suzy sambil sesekali berharap rasa khawatir itu akan menghilang dari dalam benak Suzy dan juga dari dalam benaknya.

Setelah beberapa lama, Myungsoo menepikan mobilnya tepat disuatu tempat, “Kajja! Kau harus kembali menjernihkan pikiranmu” Ujarnya seraya meraih pergelangan tangan Suzy dan membawa yeoja itu keluar dari dalam mobil.

Keduanya kini melangkah menelusuri tepian sungai Han yang tak lagi ramai karena malam sudah semakin larut. Sama seperti sebelumnya, kini Bae Suzy kembali datang ketempat itu dengan sosok yang berbeda, dan dengan perasaan yang begitu jauh berbeda.

Lagi-lagi Suzy hanya bisa menerawang kosong pemandangan malam yang indah itu, dan entah sejak kapan pemandangan itu tak lagi indah dikedua matanya. Kini hanya ada sosok Sehun yang terlihat, sosoknya yang tersenyum pucat, sosoknya yang kini semakin rapuh, sosoknya yang begitu Ia cintai bahkan Ia butuhkan.

Kim Myungsoo masih melangkahkan kedua kakinya, namun sesaat langkahnya terhenti ketika Ia sadari bahwa yeoja itu tak lagi melangkah disampingnya. Bae Suzy, yeoja itu kini terdiam menatap lekat-lekat pemandangan permukaan sungai Han yang membentang luas dihadapannya tanpa pembatas apapun.

“Apa yang kau pikirkan?”

…..

…..

Myungsoo tersenyum pahit, kemudian merangkul pundak yeoja itu masuk kedalam rengkuhannya, “Kau ingin lompat kesana?”

Suzy tertawa masam mendengar kalimat yang baru saja diutarakan oleh Myungsoo, “Bagaimana kau bisa mengerti hingga begitu jauh, Kim Myungsoo?”

“Karena sebagian diriku juga ingin melakukannya”

…..

…..

Mereka terdiam selama beberapa saat, membiarkan hembusan angin malam itu menusuk seluruh celah tubuh mereka. Masih berada dalam rengkuhan Myungsoo, Suzy mengakhiri percakapan mereka dengan seutas kalimat yang menyakitkan, “Seandainya kau tak selalu disisiku selama ini—“, “—aku akan melakukannya tanpa ragu”

***

*

*

*

“Wae?!!!”

“Mengapa kau membiarkannya menolak operasi itu?!!!!”

“APPAAA!!!”

Bae Suzy, yeoja itu menjerit pada akhirnya. Perasaan sedih, marah, bahkan kecewanya kini sudah berada dibatas akhir, semakin memaksanya untuk berteriak sekeras mungkin.

“—Suzy-ya”

“Hentikan!” Sergah Suzy cepat begitu sang Appa berusaha untuk membuatnya mengerti, “Sungguh. Hentikan, sekarang juga. Jangan dekati aku, please!” Ujarnya pelan, berusaha untuk tetap tenang dan tetap berada pada kesadarannya. Kini yeoja itu melangkah gontai meninggalkan sesosok pria yang hanya bisa menatap kepergiannya sedih.

Lagi dan lagi, tangis Suzy kembali pecah. Segala pemikiran kini berkecamuk keras didalam kepalanya.

Apa yang harus Ia lakukan?

Masih dapatkah Ia tersenyum dihadapan Sehun?

Bagaimana mungkin?

Kembali Suzy rasakan rasa sakit itu, rasa sesak itu, segala rasa perih yang selama ini berusaha Ia sembunyikan. Suzy berusaha untuk menghentikan rasa sakit itu, tetapi semakin Ia berusaha semakin terasa menyakitkan.

“Keadaannya akan semakin buruk setelah ini”

“Tak ada yang bisa dilakukan selain menjalankan operasi itu secepat mungkin”

“Namun, tanpa persetujuannya operasi itu bagaikan mimpi belaka”

“Aku tidak akan melakukannya!”

“Wae?”

“Bahkan setitik harapan pun tak terlihat disana”

“Se—sehunna?”

“Jangan melihatku dengan cara seperti itu, Suzy. Apa aku terlalu menyedihkan untuk saat ini?”

“Tinggalkan aku sendiri.”

“Pergilah!! KHA!!”

“KHA!!!”

Seluruh tubuh Suzy bergetar hebat. Tangisnya kini benar-benar pecah. Tanpa ragu, yeoja itu membalikan tubuhnya dan memutuskan untuk kembali ketempat itu, karena bagaimanapun satu-satunya hal yang dapat Ia lakukan hanyalah meyakinkan namja itu akan kehidupannya yang begitu berharga.

Langkah yeoja itu kini semakin cepat, tanpa keraguan sedikitpun namun,

BRUK!!!

Tubuhnya kini tersungkur keras ke lantai begitu Ia rasakan hantaman keras pada tubuhnya, namun tak berlangsung lama karena bagaimanapun rasa sakit itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang saat ini hatinya bahkan pikirannya kini rasakan.

“Suzy!!”

Tanpa menghiraukan panggilan itu, Suzy terus melangkah hingga kini langkahnya terhenti tepat didepan sebuah pintu.

***

*

*

*

“Apa yang kau lakukan?”

“Mengapa kau menangis, Bae Suzy?”

Pertanyaan sederhana yang baru saja Sehun lontarkan pada Suzy kembali berhasil menyakitkannya, membuat dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas.

Suzy menghapus jejak air matanya seraya melangkah pelan menghampiri Sehun yang masih terduduk menatap kosong pemandangan luar jendela, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan padanya,”Hanya untuk kali ini”

“Melakukannya untukku, O—ppa” Lirih Suzy pada akhirnya.

Pada akhirnya kedua pasang manik mata mereka kembali bertemu, sama seperti sebelumnya kedua pasang manik mata itu masih nampak memancarkan kesedihan yang sama, rasa sakit yang sama, dan keduanya kini semakin hancur ketika saling memandang satu sama lain.

“For what?”

Sehun memejamkan kedua matanya selama beberapa saat kemudian kembali membukanya secara perlahan dengan sebuah senyum pahit terlukis diwajah pucatnya, “Tidakkah kau mengerti? Aku tidak hidup untuk menerima takdir yang menyakitkan seperti ini”

“Hen—hentikannn!! Sehunna!!! Please!!” Suzy menutup kedua telinganya, berusaha untuk tidak mendengar, berusaha untuk menahan rasa sakit itu, rasa sakit yang kini bagai perlahan membakar habis seluruh perasaannya.

“Bahkan jika kematian dapat mengurangi rasa sakit ini sedikit saja atau jika kematian dapat membawaku pada kehidupan yang lain, aku akan dengan senang hati melaku—“

“—STOP!!! PLEASE, STOP HURTING ME LIKE THIS!!!”

“Seandainya kejadian 2 tahun lalu tak pernah terjadi, seandainya kita tak pernah bertemu sebelumnya, seandainya takdir tidak memutuskan untuk kita yang pada kenyataannya dua orang saudara untuk saling jatuh cinta, seandainya—“

Suzy menahan sesak didalam dadanya, mencoba kembali mengatur nafasnya yang kini tak lagi beraturan, air matanya bahkan terus meninggalkan jejak di kedua pipinya, “—Seandainya kau bersedia untuk melakukannya kali ini, maka aku akan pergi dengan membawa semua rasa sakitmu”

“Jika operasinya berhasil, maka Sehun akan kehilangan semua ingatannya selama ini”

“—Kau tak perlu lagi merasakan rasa sakit itu Sehun, kau hanya akan hidup dan membiarkan aku pergi dengan membawa seluruh rasa sakitmu. Aku berjanjji”

Yeoja itu, Bae Suzy tersenyum hambar pada akhirnya kemudian segera berbalik dan tangisnya kembali pecah. Ia menangis dalam diam, tanpa membiarkan namja itu mengetahui bahwa lagi-lagi air matanya mengalir.

Langkah demi langkah Suzy perlahan pergi meninggalkan sosok Sehun yang kini hanya terdiam menatap kepergiannya, namun langkahnya terhenti seketika begitu Ia rasakan ponselnya bergetar. Dengan segenap tenaganya yang tersisa, Suzy meraih ponselnya dan baru saja yeoja itu berniat untuk membuka suaranya, dalam sekejap semuanya berakhir.

……

……

……

“Benar kami berbicara dengan saudara Bae Suzy? Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa saudara Kim Myungsoo baru saja mengalami kecelakaan fat—“

BRUK!!!!

Tuuttt…..tuuttt….tuuutt…….

“Su—suzy?!!! SUZY??!!!”

***

*

*

*

“Suzy?”

Kedua mata yeoja itu mengerjap pelan begitu Ia dengar suara lembut seseorang yang begitu Ia kenali baru saja memanggil namanya, “Eomma?” Lirihnya pelan bahkan nyaris tak terdengar.

“Gwenchana?”

Suzy mengangguk pelan, namun dalam sekejap seluruh tubuhnya kembali bergetar hebat. Kini bagaikan terdapat sebuah batu besar yang dengan cepat menghantam keras kepalanya. Saat ini, Ia tau dan juga sadar bahwa hal yang buruk benar-benar telah terjadi, “Eo—mma”

“A—paa yang harus dilakukan, Eomma?” Lirih Suzy lagi, dan kini kembali terdengar isakan pelan tangisnya dalam keheningan.

Eomma tersenyum pahit seraya menggenggam kedua tanagn Suzy yang kini masih bergetar hebat, seluruh tubuhnya memucat, rambut panjangnya kini bahkan tak lagi beraturan. Hanya nampak kesedihan dan rasa juga rasa sakit yang terpantul drai kedua manik matanya, “Myungsoo akan baik-baik saja”

……

……

……

DEG!

TUHAN…

Untuk kali ini, hanya untuk kali ini Ia benar-benar tau bahwa apa yang baru saja diutarakan oleh Eomma hanyalah sebuah kebohongan dan hal itu terasa begitu menyakitkan membuatnya merasa sakit, sakit sekali.

Suzy memejamkan kedua matanya selama beberapa saat kemudian kembali membukanya dan segera beranjak dari ranjang dimana Ia terbaring lemah sejak tadi.

“Suzy-ya? Kemana kau akan pergi dengan keadaan seperti itu?”

Yeoja itu menghentikan langkahnya kemudian menarik nafasnya pelan, “Aku harus menemui Sehun—“

“—aku merindukannya, Eomma” Ujarnya pelan, kedua kakinya kini kembali melangkah tanpa menghiraukan sedikitpun jawaban yang diuatarakan Eomma, Suzy hanya terus melangkah gontai menelusuri sudut sudut koridor rumah sakit.

“Jangan menangis!!!”

“Jangan menangis, Bae Suzy!!”

“Maka hanya berhenti menangis dihadapannya Suzy. Hanya itu”

Semakin berusaha Suzy untuk menahan tangisnya, semakin terisak dirinya begitu kalimat-kalimat yang selalu diutarakan oleh Myungsoo perlahan kembali memenuhi benaknya.

Entah sudah berapa banyak air mata yang Ia tunjukan pada namja itu. Entah sudah berapa banyak rasa sakit yang Ia bagi untuk Myungsoo juga merasakannya. Semuanya tangis, dan juga rasa sakit itu bagai kembali dan perlahan menyiksanya.

Kini langkahnya terhenti, perlahan jemarinya mulai membuka knock pintu itu dan kini kembali terlihat sosok namja yang nampak sama sekali belum memejamkan kedua matanya. Namja itu hanya terduduk diranjangnya seraya menatap kosong sebuah tembok besar yang berdiri kokoh dihadapannya.

“—Sehuna”

Oh Sehun, namja itu menoleh pelan kemudian nampak sebuah senyum hangat terlukis diwajahnya. Namun, sayang sekali Suzy benar-benar tau terdapat segudang ke khawatiran yang saat ini tengah Sehun rasakan, “Bagaimana keadaanmu?”

Suaranya yang kini terdengar begitu parau bagaikan hembusan angin yang perlahan menyeruak kedalam benak yeoja itu dan mulai menghangatkannya.

“Aku baik-baik saja” Sahut Suzy dengan senyum hambarnya, kemudian melangkah menghampiri Sehun, “Kau sudah memikirkannya?”

……

…..

…..

“Tidakkah kau merasakannya? Ini bukan saat yang tepat untuk mu memikirkan hal semacam itu, Suzy” Sehun kembali tersenyum seraya menyingkirkan helaian-helaian rambut panjang Suzy yang untuk saat ini benar-benar tak lagi beraturan.

Suzy menyeka jemari Sehun pelan, kemudian menatapnya dalam diam selama beberapa saat, “Untuk saat ini, satu-satunya hal yang harus kupikirkan hanyalah kau Sehun-na”

“Kau terlalu memaksakan diri” Sehun tertawa hambar, “—kudengar Myungsoo belum juga sadarkan diri”

DEG!

Seluruh tubuh Suzy kini kembali bergetar hebat, “Ap—aa yang kau bicarakan? Myungsoo akan baik-baik saja” Sergahnya cepat berusaha untuk terlihat tenang, tetapi sia-sia Oh Sehun terlalu mengenal Bae Suzy.

…..

…..

“Aku menyayangimu Suzy, Sungguh.”

Sehun kembali tersenyum,namun kali ini bukan sebuah senyum pahit yang terlihat melainkan senyum hangatnya yang dalam sekejap mampu mengurangi sedikit saja rasa sakit didalam hati yeoja itu, “Sejak kapan? Tidakkah kau mengingat pertanyaanku kala itu, Suzy?”

“Aku mengingatnya” Sahutnya dan perlahan tangisnya kembali menyeruak, air matanya perlahan mengalir membasahi kedua pipinya yang kini nampak begitu pucat.

Jemari-jemari Sehun menghapus lembut jejak air mata Suzy, “—selama ini aku selalu memikirkannya. Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan dengan membiarkan aku dan juga kau terjebak didalam kondisi seperti ini”

“Saat itu aku benar-benar mengira bahwa hanyalah dengan menjadi Oppa-mu saja sudah terasa cukup. Tetapi, bagaimana bisa pemikiran seperti itu perlahan menghilang begitu saja?”

Suzy hanya terdiam, menyimak tiap kata yang baru saja Sehun utarakan. Sungguh, semua yang Sehun utarakan benar-benar serupa dengan apa yang Ia rasakan, “Aku mengerti. Sungguh, dengan hal semacam ini aku terus dan terus saja menyakitimu secara tak langsung, benar?”

…..

…..

“Ahni. Ahniyo”

“—dan juga mengenai Appa. Kurasa, tak seharusnya semua kesalahan yang terjadi membebani kehidupannya, karena bagaimanapun untuk sebelumnya Tuhan sudah melukiskan garis takdir kita tanpa siapapun bisa merubahnya”

Suzy memejamkan kedua matanya selama beberapa saat, membiarkan air matanya kembali mengalir pelan menuruni pipinya, “Apapun yang terjadi, kau harus berjanjji untuk tetap melakukannya, Sehun-na”

……

……

Sehun tak menjawab dan hanya mengalihkan pandangan kosongnya kini ke arah jendela besar yang menghadap pemandangan luar rumah sakit, “Kurasa kau harus kembali sekarang, Suzy. Aku benar-benar merasa lelah”

Suzy tersenyum pahit memandang sosok Sehun dan kemudian segera beranjak dari tempatnya saat itu, “Aku akan kembali lagi besok,dan kau sudah berjanji Oh Sehun” Ujarnya pelan, dan perlahan sosoknya menghilang dari ruangan itu.

***

*

*

*

“Kenapa kau terus berdiri disini dan tidak masuk menemuinya?”

Suara namja itu berhasil membuat Suzy yang sejak tadi hanya berdiri didepan pintu itu tersentak pelan. Yeoja itu menoleh sedikit kemudian nampak sebuah senyum hambar terlukis diwajahnya, “Lama tidak berjumpa Luhan Oppa”

“Kau tidak terlihat jauh lebih baik sejak hari itu” Luhan balas tersenyum hangat pada Suzy. Namja itu nampak menghela nafasnya pelan, kemudian menyenderkan tubuhnya didinding, kedua matanya yang indah masih menatap Suzy lekat-lekat tanpa arti apapun.

“Tidakkah ini terlalu menyedihkan? Kau harus kembali melihatku dalam keadaan seperti ini” Suzy tertawa parau pada akhirnya, namun perlahan butiran-butiran air matanya kembali menetes.

“Benar,awalnya kukira ini mimpi tapi ternyata tidak—“

Luhan memejamkan kedua matanya selama beberapa saat, dan setelahnya kembali nampak sebuah senyum pahit diwajahnya yang tampan, “Layaknya sebuah drama menyedihkan yang kembali terulang, keadaan saat ini tak jauh berbeda dengan keadaan sebelumnya”

“Betapa menyenangkan bagimu kembali menyaksikan drama menyedihkan yang terus terulang seperti ini, Luhan Oppa?”

“Menyenangkan? Hingga kapan drama macam ini terus terulang, tidakkah kau membuat kami yang menyaksikan semakin ingin mengetahuinya, Suzy?”

……

……

……

Suzy terdiam, terenyak dalam kalimat-kalimat yang baru saja Luhan utarakan. Ia mengerti sungguh, perasaan macam apa yang Luhan –yang selalu menyaksikan- rasakan tiap kali hal seperti ini terjadi, teruntuk dirinya yang pada kenyataannya selalu berada diantaranya.

“Baiklah, jangan dipikirkan” Luhan menepuk pelan pundak Suzy masih dengan senyum khasnya, “Kurasa Myungsoo pasti ingin bertemu denganmu” Tambahnya lagi, seraya membuka knock pintu dan kini nampak sesosok namja yang tengah terbaring tak berdaya diatas sebuah ranjang yang dipenuhi oleh alat-alat medis.

DEG!

TUHAN!

BRUK!!!

Suzy nyaris kehilangan keseimbangannya, namun dengan sigap Luhan menahannya, “Hold on! That’s all your destiny”

Sesaat Suzy kembali berusaha untuk berdiri tegak, dan kini yeoja itu melangkah menghampiri sosok namja yang terlihat tak berdaya itu.

“M—myungsoo-ah?” Getar suaranya terdengar begitu pelan, seakan waktu berhenti seketika kini hanya terdengar dernyitan suara mesin yang hanya menampakan garis garis zigzag yang tak beraturan dan dalam hitungan detik detak jantung Suzy seakan berhenti berdetak.

Apa yang harus dilakukan?

Tuhan!!

Yeoja itu, Bae Suzy menjerit didalam hatinya. Jemarinya yang masih bergetar hebat perlahan menyentuh kening namja itu begitu hati-hati seakan namja itu begitu rapuh dipandangnnya, kemudian menuruni pelan pipinya yang nampak begitu pucat.

“A—aku terlalu bersalah padamu Myungsoo”

Suzy menahan nafasnya sesaat seraya memejamkan kedua matanya, kemudian setelah itu dapat kembali terlihat tangisnya mulai pecah. Namun tidak terisak, yeoja itu menangis dalam diam, “Kau p—pasti lelah, benar? Kk—kau terlalu banyak menanggung rasa sakitku Myungsoo……”

You shouldn’t be a main cast of this sad drama story, Myungsoo-ah”

Only him and I

“—not you

“but, why you came and destroyed everything? Hurting yourself with our pain, that’s not enough?”

Suzy tersenyum pahit, masih dengan tangisnya menatap namja yang sama sekali tidak sadarkan diri itu lekat-lekat, “You shouldn’t do that—destiny never changed, the pain never ends”

“That’s curse”

&&&

&
&
&

Luhan, namja yang tengah duduk dibalik kemudi itu hanya bisa menatap sosok Suzy yang perlahan menjauh. Yeoja itu benar-benar tak nampak baik lagi didalam pandangannya, kulitnya yang pucat pasi, kedua manik matanya yang terlihat bagai bola kaca yang retak, rambut panjangnya yang beterbangan tertiup hembusan angin malam kala itu benar-benar menunjukan betapa hancur dirinya.

“Bersediakah kau mengantarku ke suatu tempat, Luhan Oppa?” Lirih yeoja itu begitu pelan namun tak terdengar sedikitpun keraguan didalamnya.

Kini begitu mereka sampai ditempat itu nampaknya Suzy tak membiarkan Luhan untuk melangkah bersamanya, dan Luhan sendiri hanya melakukan apa yang menurutnya haus Ia lakukan dna saat ini membiarkan Suzy berpikir seorang diri benar-benar sebuah pilihan yang terbaik.

Suzy melangkah seorang diri menyusuri tepian sungai Han yang membentang luas dihadapannya. Hanya seorang diri, tanpa siapapun kini menggenggam tangannya hangat.

Tunggu sebentar…

Hari dimana Ia kembali bertemu dengan Sehun, bukankah Ia datang ketempat ini?

Lalu, hari itu Ia kembali datang bersama Myungsoo, benar?

Yeoja itu, Bae Suzy tersenyum pahit begitu ingatan-ingatan itu kembali memenuhi benaknya. Langkahnya perlahan terhenti, membiarkannya menerawang kosong permukaan sungai Han yang terpampang jelas dihadapannya.

“Apa yang harus dilakukan, Tuhan?”

Pertanyaan sederhana itu Suzy lontarkan pelan, layaknya sebuah bisikan yang hanya Ia tujukan pada Tuhan.

Kini tak lagi terlihat butiran-butiran air mata itu dikedua sudut manik matanya, yeoja itu tersenyum. Ia lelah, menahan semua rasa sakit dengan tangisnya, “Kesalahan macam apa yang telah kuperbuat dimasa lalu hingga kau menghukumku dengan begitu kejam seperti ini?”

…..

…..

…..

Hanya suara desiran angin yang menghantam keras permukaan air sungai itu yang kini terdengar melalui kedua telinganya, “Benar. Kau pasti marah padaku”

“—Oh Sehun dan Kim Myungsoo. Tidakkah kau mengerti, Tuhan? Aku membutuhkan mereka untuk seluruh hidupku”

Suzy kembali tertawa hambar, kedua manik matanya masih menerawang kosong pemandangan Sungai Han yang terbentang luas dihadapannya tanpa batasan apapun, “Apa kau melihatku terlalu serakah, Tuhan? Maka tukar seluruh hidupku untuk mereka” Lirih Suzy, dan pada akhirnya butiran air mata itu terjatuh dan perlahan menuruni permukaan pipinya.

Ia lelah. Terlalu lelah.

Ia mengerti, sungguh. Kisah menyedihkan ini akan segera berakhir dalam hitungan detik.

Tak ada yang bisa dilakukan lagi, mereka sama sekali tidak memiliki pilihan.

Ini pasti hukuman.

Karena bagaimanapun, salah satu diantara mereka telah melakukannya. Berusaha untuk merusak takdir tersebut, memutuskan, dan bahkan mengacaukannya hingga seperti ini.

Kini hanya ada satu hal yang dapat dilakukan. Salah satu diantara mereka, atau bahkan mereka semua harus berkorban membawa semua rasa sakit itu.

Oh Sehun?

Bae Suzy?

Atau mungkin Kim Myungsoo?

Siapa diantara mereka yang harus berkorban? Atau apa yang akan terjadi jika  kenyataannya berkata lain?

Suzy tersenyum, membiarkan hembusan angin malam kala itu menghantam keras sekujur tubuhnya. Haruskah? Pertanyaan itu terlintas didalam benaknya. Benar. Hanya selangkah lagi dan semuanya akan berakhir, rasa sakit itu, kenyataan mengerikan itu, penderitaan, atau bahkan takdir yang selama ini membelenggu mereka akan segera terhapus. Mengapa hal seperti ini tak pernah terpikir sebelumnya? Ia benar-benar yakin bahwa semuanya belum terlambat, masih ada kesempatan untuknya menyelesaikan semua ini.

Benar.

Maaf, dan Terima kasih.

……

……

……

……

Benarkah drama menyedihkan ini akan berakhir begitu saja?

 Masih terdapatkah akhir yang sekiranya jauh lebih layak mereka dapatkan?

~Kau yang menentukannya~

Membiarkan kisah ini berakhir hanya sampai disini, atau membiarkan mereka melangkah menuju takdir yang lainnya?

Fin? -NOT YET.

Advertisements

23 thoughts on “The Hurtful fate

  1. next thor. tapi boleh saran gak ?
    kalo boleh .ffnya jangan terlalu ruwet alurnya.. aku smpe bngung sndirii.. kalo bisa agk ringkas dan mudah dipahami jadi gabelibet. sekian dan trimakasih

  2. Gatau mau ngomen apa? daebak! sungguh, konflik yang bener2 konflik batin. Author kereeen, this really hurt. Omaygat big jempol buat authornya (y) i’m your fans

  3. Gatau mau ngomen apa? daebak! sungguh, konflik yang bener2 konflik batin. Author kereeen, this really hurt. Omaygat big jempol buat authornya (y) i’m your fans 😉

  4. Salam kenal deat author…sukaaak bgt sama ff-nya…ditunggu nextnya nih penasaraan paake buanget hehehe…fighting thor!!! Plz jgn bosen2 jg buat ff yg ada suzy-nya ya hehehe…kamsahamnida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s